This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 15 Desember 2023

Mendatangi Kulaan yang Madam

Oleh: Muhammad Qamaruddin 

Ketika masih kecil, Abah pernah bercerita bahwa Pedatuan kami banyak yang madam. Awalnya aku tidak terlalu paham apa artinya. Namun saat aku bertambah dewasa, aku akhirnya mengerti jika itu adalah istilah yang dipakai oleh urang Banjar yang memutuskan untuk pergi merantau. Adalah moyang kami yang bernama haji Ahmad, atau sering dipanggil Haji Ahmad Alabio karena berasal dari salah satu daerah Bernama Alabio di Kalimantan Selatan. Dari Haji Ahmad ini lahirlah tujuh orang anak. Dari ketujuh orang tersebut, hanya dua yang bermukim di Indonesia (Banjar). Sisanya madam ke Malaysia pada awal tahun 1900-an. Belakangan hari data ini diperbaharui, ternyata saat Kembali lagi ke Banjarmasin, Datu’ Haji Ahmad Alabio menikah lagi dan memiliki garis keturunan baru di Kalimantan Selatan. Dari sini aku dihadapkan pada sebuah fakta jika garis keturunan keluargaku lebih banyak tinggal di Malaysia daripada di Banjar sendiri. Jika dihitung-hitung, aku sendiri merupakan generasi kelima dari Haji Ahmad Alabio.

Melihat kamus Bahasa Banjar, istilah madam diartikan dengan merantau. Namun merantau-nya urang Banjar mempunyai maksud yang berbeda dengan merantau pada umumnya. Hal ini dituturkan oleh Profesor Dr. Mohamed Saleh bin Lamry, urang Banjar yang lama bermukim di Malaysia, bagi suku-suku lain di Nusantara, merantau yang dimaksud ialah pergi atau pindah dan masih mempunyai niat untuk pulang atau menjalin hubungan komunikasi dengan daerah asal muasalnya. Madam bagi urang Banjar lebih cenderung pada pengertian migrasi hilang atau pindah dengan adanya kemungkinan untuk tidak kembali lagi. Menurut salah satu budayawan Banjar, Zulfaisal (2014), bisa jadi istilah ’madam’ mempunyai kemiripan dengan istilah merantau di Minangkabau, yang berarti pergi dan menetap di suatu tempat yang baru dan tidak pulang.

Awal bulan Desember 2023 lalu, aku ditugaskan untuk melaksanakan sebuah kegiatan pengabdian Masyarakat skala Internasional. Kegiatan ini berhubungan erat dengan pencapaian akreditasi unggul jurusan yang mengharuskan pelaksanaan tridharma tidak hanya pada lingkup nasional, tetapi internasional. Setelah berdiskusi panjang dan berdialog dengan berbagai pihak di luar negeri, maka Negara Malaysia terpilih sebagai tempat untuk melaksanakan Kegiatan ini. Ini bukan tanpa alasan. Keputusan ini diambil karena adanya sebuhan fakta hubungan Banjarmasin dengan lokasi yang dipilih, yaitu Kampung Bagan Serai, Kerian, Perak. Ya, tempat ini dihuni oleh mayoritas masyarakat keturunan Banjar!

Homestay di Jalan Banjar, Kerian Perak

Abah sering berpesan jika suatu saat aku mempunyai kesempatan ke Malaysia, maka jangan lupa untuk menjenguk keluarga yang ada di sana.  Memang ini bukan kali pertama aku ke Malaysia. Negeri Jiran ini telah kudatangi beberapa kali. Namun kebanyakan hanya singgah sebentar. Itupun dengan tugas dan pekerjaan yang harus diselesaikan dengan waktu yang sangat singkat. Satu minggu! Ya, itulah waktu yang diberikan untuk pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat. Meskipun aku sudah membayangkan betapa padatnya jadwal yang akan kujalani, tapi aku sudah berkomitmen, aku harus ’mendatangi kulaan yang madam’ di Malaysia. Bagaimanapun caranya!


Dari berbagai sumber bacaan dan referensi yang kutemui, setidaknya ada tiga gelombang migrasi besar yang terjadi pada etnis Banjar, khususnya yang madam ke daerah Sumatera dan Malaysia.
Pertama, pada tahun 1780-an, yaitu pelarian diri etnis Banjar yang mendukung Pangeran Amir, namun kalah dalam perang saudara Kerajaan Banjar, kedua, pada tahun 1862, yaitu pelarian diri etnis Banjar yang mendukung Pangeran Antasari, namun mereka berada pada kemelut Perang Banjar, dan ketiga pada tahun 1905-an, pelarian diri etnis Banjar karena Sultan Muhammad Seman yang menjadi Raja Banjar saat itu mati syahid di tangan Penjajah Belanda. Selain itu, koloni keturunan Banjar  juga dapat ditemukan di Jazirah Arab, khususnya di Arab Saudi. Bahkan ada sumber yang menyatakan bahwa cikal bakal penduduk Komoro dan Madagaskar di Benua Afrika berasal dari urang Banjar yang madam ribuan tahun silam. Wallahu’alam.

Pada dasarnya, suku Banjar di Malaysia mayoritas berasal dari Banjar Pahuluan. Berdasarkan sensus 1911 penduduk Malaya Britania (sekarang Malaysia), setidaknya suku Banjar berjumlah 21.227 jiwa. Pada tahun 1947, jumlah ini bertambah menjadi 62.400 jiwa. Kebanyakan Suku Banjar menghuni negara bagian Perak, Johor, dan Selangor, dan negara bagian lainnya dalam jumlah yang kecil. Jumlah ini belum termasuk suku Banjar yang menghuni Sabah dan Serawak. Dari informasi yang kudapat, Daerah Kerian, Selangor merupakan wilayah yang paling banyak dihuni oleh suku Banjar. Aku kira ini juga yang menjadi alasan utama, kenapa daerah ini dipilih untuk menjalankan program.


pelaksanaan pengabdian Masyarakat


Tibalah pada Hari H, saat pelaksanaan kegiatan. Seperti yang sudah kuduga, jadwal kegiatanku di Malaysia sangatlah padat. Bahkan terlalu padat. Bayangkan, untuk menyempatkan diri berbelanja keperluan pribadi dan oleh-oleh pun hampir tidak ada, jika tidak disempat-sempatin. Meskipun demikian, sebenarnya bisa jadi adalah hal yang positif, karena menandakan respon yang sangat positif dari pihak tuan rumah. Bahkan ketua rombongan pun mengistilahkan kegiatan 1 minggu tersebut kurang lebih mirip Kuliah Kerja Nyata (KKN), saking padatnya kegiatan. Oleh karena itulah, aku perlu pintar-pintar memanfaatkan waktu luang yang sangat sedikit untuk meluluskan hajatku mendatangi kulaan. Walaupun ada kendala, akhirnya aku berhasil melakukannya.



Pelaksanaan Pengabdian Masyarakat
Pelaksanaan Pengabdian Masyarakat

Program Pengabdian Masyarakat Internasional berlokasi di Bagan Serai, Kerian, Perak, Malaysia yang dihuni oleh mayoritas masyarakat keturunan Banjar.Sedangkan kulaanku kebanyakan bermukim di negara bagian lain yaitu di daerah Sungai Besar, Selangor, Malaysia. Untungnya pamanku (sepupu Abah 3 kali) yang menetap di sana sudi menjemputku dan mengajak aku menemui kulaan. Meskipun aku bukanlah kulaan Banjarmasin pertama yang datang ke sana, tetap saja ini menjadi kegembiraan tersendiri bagi mereka, karena mereka merasa dijenguk kembali, sehingga tercipta sebuah hubungan emosional antara satu dengan lainnya.

Dari pengamatanku dan hasil bincang-bincang santai dengan kulaan di Malaysia, generasi tua masih pandai berbincang dengan bahasa Banjar. Bahkan ada beberapa kosakata lama bahasa Banjar yang tidak kumengerti, tapi masih dipakai di sana. Ada logat yang sedikit berbeda dengan bahasa Banjar asli. Jika boleh menamainya, aku menyebutnya dengan bahasa Banjar versi Melayu Malaysia, yaitu bahasa Banjar yang telah terasimilasi dengan bahasa setempat.

Mereka juga masih memegang tata cara hidup dan tradisi adat istiadat dari nenek moyangnya, walaupun tidak lagi mirip dengan aslinya, karena sudah ada unsur modifikasi menyesuaikan dengan tanah perantauan. Walaupun begitu, ketika datang ke sana, aku masih merasa berada di kampung sendiri di Banua. Bahkan aku masih bisa mendengar urang Banjar Mahalabio di sana, istilah yang sering dipakai untuk bercandanya ala urang Banjar.

Selain itu, kehidupan kulaan di sana cukup sejahtera. Hal ini tidak lepas dari bukti sejarah yang menyatakan bahwa orang Banjar itu cangkal bagawi. Keahlian dan keuletan urang Banjar pada bidang lahan pertanian mendapatkan penerimaan yang positif oleh Malaysia, sehingga sangat berpengaruh pada pembangunan negara. Dalam perkembangannya, urang Banjar di negeri Jiran dapat menduduki posisi-posisi penting dalam berbagai bidang, seperti ulama, politisi, pendidik, polisi, pejabat, pegawai, dan profesi-profesi lainnya. Ini merupakan suatu kebanggaan bagi kita!






Mendatangi Kulaan di Malaysia


Dari semua itu, ada beberapa hal yang kusayangkan. Di antaranya Bahasa Banjar yang mulai kurang dikuasai lagi oleh generasi baru penerus keturunan Banjar. Kebanyakan mereka masih paham, tapi tidak dapat mempraktikkan secara lisan. Aku juga agak cemas dengan adat-istiadat Suku Banjar yang akan hilang jika tidak diwariskan ke generasi selanjutnya. Selain itu pula ada yang mengatakan jika sebagian keturunan Banjar cenderung malu mengakui jati dirinya. Lambat laun hal ini akan menyebabkan hilangnya jati diri dan tidak akan tahu asal muasal leluhur. Terlepas dari sedikit permasalahan itu, aku senang dapat berkunjung ke kulaan di Negeri Jiran. Aku berharap bahwa silaturrahmi ini tidak akan terputus dan dapat terus dijaga dari generasi ke genarasi selanjutnya. Salam Banjar!

Ziarah ke makam Datuk Nini, Istri dari Datuk Haji Ahmad Halabio di Selangor


 

 

 

 

 

 


Sabtu, 04 Juni 2022

TRANSPORTASI KAPAL LAUT? KENAPA TIDAK? (Part I) (Berdasarkan Pengalaman Pribadi menaiki KM Dharma Kartika IX Rute BJM-BSY)

Oleh: Muhammad Qamaruddin

 

 “Mas, Mudik tahun ini naik apa?”

“Kapal Laut, InsyaAllah,” jawabku.

“Yakin Mas?” lanjutnya bertanya. Aku hanya menjawab dengan senyuman.

***

suasana pagi di KM Dharma Kartika IX


Lebaran Tahun 2022 merupakan momentum yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia, khususnya orang-orang di perantauan. Bagaimana tidak, 2 tahun lamanya mereka memendam rasa dan keinginan untuk mudik, namun urung dilakukan karena terhalang kebijakan dari pemerintah berkaitan dengan masih merebaknya penyebaran covid-19. Oleh sebab itulah pada lebaran tahun 2022 ini, saat pemerintah sudah melonggarkan kebijakannya, masyarakat beramai-ramai untuk pulang kampung.

Bagi aku sendiri, mudik bukanlah sesuatu yang baru. Hampir setiap tahun aku melakukannya. Semenjak masih mukim di Pondok Pesantren dulu, studi di Brunei Darussalam, berkuliah di Yogyakarta, atau ketika berdomisili di ibukota Banjarmasin seperti sekarang ini. Karena kampung halamanku berada di Kota Kandangan, Hulu Sungai Selatan, sekitar 3-4 jam dari pusat ibukota Banjarmasin, maka hampir tiap tahun selalu merasakan atmosfer mudik.

Lalu bagaimana dengan situasi mudik tahun 2022 ini? Tahun ini aku memilih mudik terlebih dahulu ke rumah istri di Sumenep, Jawa Timur. Kenapa Tidak Ke Kandangan dulu? my mother passed away last year (Allahummagh firlaha). So, setelah tiba ke Banjarmasin kembali, aku akan berkunjung (baca: ta’ziah) ke Kandangan.

Dalam kesempatan ini, aku mau sedikit berbagi pengalaman bagi yang ingin mencoba naik transportasi laut, khususnya dari Banjarmasin ke Surabaya (bjm-sby). Ini merupakan pengalaman pribadi saat menaiki KM Dharma Kartika 9 rute Banjarmasin-Surabaya (Bjm-Sby). Aku berharap, kisah ini dapat menjadi sedikit gambaran bagi yang ingin mencobanya.

 

Transportasi paling Nyaman dan Mudah Ya Naik Pesawat Aja

Sebenarnya, untuk menuju Surabaya, transportasi yang paling gampang, mudah, dan cepat adalah naik pesawat. Aku yakin semua pasti setuju. Durasinya kurang lebih 1 jam saja. Untuk harga normal, tiket Bjm-Sby berada pada kisaran 500-700 ribuan (harga tahun 2022). Syukur-syukur jika dapat tiket promo lebih murah dari itu. Selain Surabaya, tiket dengan tujuan Jakarta juga termasuk yang murah meriah.

Sayangnya, tiket dengan harga murah ini tidak berlaku pada saat memasuki musim mudik, katakanlah pada saat lebaran. Dari hasil pengamatanku, tiket bjm-sby bisa naik berkali-kali lipat. Hasil pengecekanku terakhir saat membuat tulisan ini, harga tiket ada yang sudah menyentuh angka 2,6 jutaan! Wow! Mahal sekali.   

Memang pada dasarnya, harga tiket pesawat ini bergantung pada kapan kita memesannya, dan pada momen apa kita memesannya. Sepengalamanku, cara terbaik untuk mendapatkan tiket murah pada saat mudik yaitu memesannya 2-3 bulan sebelum keberangkatan. Biasanya harganya paling cuma naik 100-150 ribuan dari harga normal. Syukur-syukur jika ketemu harga tiket yang masih normal.

Lalu lagaimana jika memesan Kurang dari 2 bulan sampai mendekati hari keberangkatan? Aku dapat pastikan harganya akan terus naik meroket dengan cepat, mungkin sampai ketemu angka 2,6 juta seperti tahun ini. Masalahnya, tidak semua orang tahu tanggal berapa ia benar-benar sudah liburan/cuti saat menjelang idul fitri. Yang ASN atau pegawai pemerintahan pasti paham maksudku.

Ini menjadi salah satu alasan kenapa sebagian orang urung untuk naik pesawat pada saat mudik. Karena harganya terlalu mahal. Bahkan dari beberapa berita yang berseliweran, ada beberapa provinsi di Indonesia yang justru harga tiket pesawat lebih mahal ketimbang jalan-jalan ke luar negeri. Ada yang sampai 9 juta sekali jalan. Ironis bukan? Begitulah keluh kesah para pemudik di Indonesia. Mudah-mudahan pihak yang mengurusi masalah ini mempunyai solusi yang bagus berkenaan harga tiket yang terasa begitu mahal ini (trying to ‘colek’ someone in government).

Lalu jika sudah begini, lalu apa transportasi yang dapat dijadikan alternatif? Salah satunya adalah dengan menggunakan transportasi kapal laut.

 

Kenapa Memilih Kapal Laut?

Tahun ini banyak yang bertanya-tanya, kenapa memilih naik kapal laut ketimbang naik pesawat? Apalagi saat mereka bertanya mengenai durasi naik kapal laut bjm-sby, aku pun dengan santai menjawab, “18 jam bang.” Padahal hampir setiap tahun aku pulang ke kampung halaman istri dengan naik pesawat. But anyway, ini bukan pertama kalinya aku naik kapal laut.

Begini kawan-kawan. Perlu diklarifikasi dulu bahwa sebenarnya ‘budget’ yang kupunya untuk mudik dengan naik pesawat PP Bjm-Sby sudah sangat aman Sentosa. Artinya, seandainya aku dan keluarga memutuskan untuk naik pesawat pun, it’s no problem. Terimakasih juga Pak Jokowi untuk tambahan 50% tukinnya tahun ini (uhuk2). Namun, setelah berdiskusi Panjang dengan istri, kita akhirnya lebih memilih untuk menggunakan jalur laut. Kenapa? Let me explain.

 

Menikmati perjalanan; Tahun 2022 ini pemerintah cukup sportif karena dengan legowo menambah jatah liburan, setelah tahun-tahun sebelumnya kebanyakan dihapus. Setidaknya ada waktu sekitar 10 hari cuti yang diberikan. Otomatis, ini merupakan waktu yang panjang dan bisa dimanfaatkan untuk perjalanan mudik. Memang semua orang pasti ingin pulang ke kampung halaman secepat mungkin. Namun sebenarnya tidak ada salahnya untuk sejenak menikmati perjalanan. Alasan ini kurang lebih sama dengan orang-orang yang memilih untuk naik perjalanan darat (kereta api, bis, mobil, motor, dst) ketimbang perjalanan udara. Percayalah, ada sensasi yang berbeda antara durasi perjalanan yang pendek dengan yang Panjang. Intinya ada pada bagaimana cara kita menikmati perjalanan tersebut. Termasuk menikmati perjalanan melalui jalur kapal laut. Dengan waktu yang Panjang tersebut, kita dapat menambah kawan, bersosialisasi, mengamati berbagai macam hal, bercengkrama dengan anak istri di perjalanan Salah satu hal yang dapat kubagi dari perjalanan kali ini adalah tulisan yang anda baca sekarang.

 

Anggota Keluarga yang semakin bertambah; Bagi yang tidak tahu, tiket pesawat dengan harga dewasa dikenakan pada penumpang dengan umur lebih dari 2 tahun. Jika Kurang dari 2 tahun, maka akan dikenakan biaya tiket khusus infant (bayi). Nah, ini menjadi salah satu alasanku kenapa memilih jalur kapal laut. Perlu diketahui jumlah anggota keluargaku terdiri dari 4 orang, aku, istriku, dan 2 anakku.

Jika tahun kemarin, aku hanya cukup membayar 3 orang, karena anak terkecilku masih dianggap infant. Maka tahun ini, aku harus membayar 4 orang, karena anakku yang kedua sudah berumur lebih dari 2 tahun. Artinya, tahun 2022 ini aku harus membayar penuh tiket 4 orang. Mari kita coba simulasikan. Jika tiket pesawat harganya 1,3 juta (pengecekan terakhir saat aku mau beli tiket pesawat), maka aku harus membayar 5,2 juta untuk total keseluruhan. Ini belum biaya-biaya lain lho ya. Dengan asumsi, tiket ini kubeli Pulang pergi, maka biaya yang harus dikeluarkan adalah senilai 10,4 juta! Mahal? Iya.

Oleh karena itulah, aku kira jumlah anggota keluarga yang mau mudik juga menjadi pertimbangan, transportasi apa yang mau kita pilih. Ini akan lain cerita jika aku cuma sendiri saja. semakin banyak jumlah anggota keluarga, maka kemungkinan memilih alternatif transportasi lain yang lebih murah juga akan semakin besar.

 

Alokasi dana untuk hal lain; Simpel saja, saat dapat menghemat biaya sepersekian persen untuk biaya transportasi, maka ada dana yang dapat disimpan dan dialokasikan untuk hal lain. Misalnya, THR an anak istri, sangu mudik, beli oleh-oleh, bagi-bagi angpau, atau bahkan untuk biaya jalan-jalan wisata.

Awalnya dulu saat ingin memilih tiket pesawat, aku tidak terpikir untuk melakukan wisata selain di sekitar kampung halaman istri, misalnya ke Gili Labak (coba di search wisata apa itu, bagus!). Tentu saja dengan alasan yang logis, dana sudah banyak habis dipakai untuk transportasi. Namun, setelah memutuskan untuk memilih transportasi kapal laut, aku dan istri malah kepikiran mau jalan-jalan dulu ke kota lain sebelum balik ke Kalimantan. Entah ke Surabaya, Malang, ataupun ke Yogyakarta. Nanti di lain kesempatan, akan aku ceritakan pengalaman jalan-jalan wisata tersebut.  

 

Hemat biaya Transportasi; tidak dapat dipungkiri, ini mungkin menjadi alasan yang paling utama. Perlu diketahui, Tiket kapal laut tidak se-fluktuaktif tiket pesawat. Jikapun ada kenaikan harga, biasanya hanya kisaran 50-100 ribu an saja. Sehingga bagi yang mau pesan tiket H-7 keberangkatan pun masih bisa. Bahkan ada beberapa pemudik yang justru baru pesan tiket pada saat hari H. Harganya pun masih terbilang murah.

Untuk tahun 2022, tiket kapal laut Bjm-Sby (via Online) seharga 450 ribu per orang. Untuk anak2 sekitar harga 390 ribu per orang. Adapun untuk bayi (2 tahun ke bawah), seharga 55 ribu per orang. Murah bukan? Mari kita simulasikan. Aku memesan 2 tiket orang dewasa, dan 2 tiket anak-anak. Maka total biaya yang kubayar adalah 900 ribu + 780 ribu = 1,680 ribu. Asumsikan saja aku PP menggunakan kapal laut, maka aku hanya perlu menyiapkan dana sekitar 3,3 juta an untuk 4 orang.  Harga ini cukup jauh lebih muirah jika dibanding naik pesawat bukan? Ada berapa banyak dana yang bisa dihemat pada saat mudik ini.

 

Epilog

Pada dasarnya, setiap pemudik mempunyai pertimbangannya sendiri dalam memilih transportasi mana yang ingin digunakan. Hal ini bisa dimulai dari melihat jarak, biaya, waktu, ketersediaan transportasi, budget, jumlah pemudik, keamanan, kenyamanan, dan tentu saja keselamatan. Oleh karena itulah, apa yang kusampaikan ini, hanyalah sebagai informasi mengenai salah satu transportasi yang dapat digunakan pada saat mau mudik. Jika poin utama dari mudik adalah kenyaman, kemudahan, tidak melelahkan, dan tidak memandang berapapun biayanya, my first recommendation is airplane. Naik pesawat aja teman-teman.

Selain itu, hal utama yang ingin disampaikan dari cerita ini adalah bahwa naik kapal laut tidak semengerikan dari yang dibayangkan. Ya memang akan terasa tidak mudah jika tidak tahu cara dan strateginya. InsyaAllah hal tersebut akan disampaikan di cerita berikutnya. Aku akan bagikan pengalamanku saat naik kapal, dari cara pemesanan tiket, saat berada di pelabuhan, perjalanan di dalam kapal, hingga nanti sampai ke Surabaya.

 

Banjarmasin, 05 Juni 2022




"Kata-kata dirangkai saat berada di atas Laut Jawa
dan dirampungkan di sela-sela pekerjaan kantor"

 

  

Minggu, 08 Desember 2019

KAMU (DIANGGAP) BAIK KARENA ALLAH MENUTUPI AIBMU!


Oleh: Muhammad Qamaruddin

"Ya Allah, jadikan diriku lebih baik dari sangkaan mereka. Janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah aku lantaran ketidaktahuan mereka."
(Doa Sahabat Abu Bakar Ash Siddiq RA)

Tidak ada manusia di dunia ini yang luput dari kesalahan dan kekhilafan. Mari kita mengingat kembali kisah Nabi Adam beserta Siti Hawa yang memakan buah khuldi, padahal Allah telah melarangnya. Nabi Yunus sengaja meninggalkan kaumnya karena setelah 33 tahun lamanya berdakwah, tetapi hanya 2 orang saja yang mendengarkan seruannya. Nabi Musa yang tidak sengaja membunuh orang karena pukulannya. Tentu saja para nabi yang mulia ini bersegera meminta ampunan kepada Allah SAW. Taubat Nabi Adam dan Siti Hawa terekam pada ayat 23 surah al-‘Araf, taubat Nabi Yunus pada ayat 87 surah al-Anbiya, dan taubat nabi Musa pada ayat 15-16 surah al-Qashash.

BUNDA, KAMU LUAR BIASA



Senin, 7 Oktober 2019, pukul 01.30 WIB.
Sesekali kukecup kening istriku. Tangannya memeluk erat tubuhku. Mencengkeram jaketku kuat sekali. Mukanya terbenam di dadaku, seperti tidak mempedulikan sekitarnya. Hanya aku dan dia. Terasa kesedihan yang sangat luar biasa. Seolah-olah ia membayangkan pertemuan ini bakal menjadi penghujung cerita. Namun, usapan tanganku di kepalanya meyakinkan bahwa ini hanya berlangsung sementara.
Kadang aku merasa ia terlalu cengeng. Tapi mungkin ini adalah sikap yang paling wajar untuk seorang wanita, setidaknya untuk istriku. Dan Aku sendiri pun harus berdamai dengan keegoan laki-lakiku. Mataku mungkin bisa berbohong, namun hatiku terisak.

Selasa, 17 Januari 2017

BARBER PESANTREN (Ilustrasi Kehidupan Para Pemangkas Rambut di Pondok Pesantren Darul Hijrah)

                                         oleh: Muhammad Qamaruddin
                Suatu kewajiban santri saat masih berada di Pesantren adalah menjaga rambutnya agar selalu terpotong pendek dan rapi. Jangan berani-berani buat model yang macam-macam jika berada di Pesantren. Ketemu sama ustadz (apalagi ustadz penegak disiplin!), kelar rambut antum diacak-acak sama mereka. Hukum tertulisnya, “santri wajib mempunyai rambut pendek dan rapi”. Hukum rimbanya, “yang punya rambut aneh, siap-siap merasakan model rambut yang penuh jalur-jalur sawah”.
                Kemudian cobalah sekali lagi tengok para santri, di antara mereka pasti ada yang berkepala plontos, yang kalau tiba malam hari, kepala ini seakan-akan bersinar terkena pantulan cahaya bulan. Tidak usah terpana dengan mereka. Karena mereka adalah santri-santri yang mendapatkan hukuman. Salah satu disiplin yang diterapkan untuk menghukum santri dengan pelanggaran berat adalah menggunduli kepalanya. Hukuman ini diberikan dengan harapan adanya efek jera karena malu digundul. Tapi anehnya, bukannya malu, tidak sedikit yang malah bangga dengan model rambut tersebut. Mungkin mereka bangga disebut pelanggar disiplin
                 Memotong (baca: merapikan) rambut merupakan jadwal rutin yang wajib dilakukan oleh santri. Pada saat jadwal yang telah ditentukan, santri senior yang menjadi pengurus akan memeriksa rambut santri juniornya. Begitu pula para santri senior yang rambutnya juga diperiksa oleh para ustadz. Biasanya jika tiba musim potong rambut, maka ini menjadi berita surga yang sangat menggembirakan bagi para pemotong rambut seantero jagat pesantren. Mereka akan berubah menjadi artis yang dicari di mana-mana. Bahkan sampai harus membuat perjanjian terlebih dahulu jika ingin bertemu dengan mereka. Jika tidak, maka dengan muka sok sibuk mereka akan menjawab, “maaf, tidak bisa hari ini”.
Para barber santri pondok ini memang sangat luar biasa. Mereka biasanya akan sibuk di pagi dan sore hari. Ironisnya, bahkan ada beberapa santri yang memaksa mereka memotong rambut di malam hari, dengan penerangan cahaya yang sangat minim, karena batas maksimal pelaporan potong rambut sudah di ujung tanduk. Maka jangan heran jika di siang hari, ada santri yang rambutnya sudah rapi, tetapi di ujung daun telinganya ada goresan luka. Sudah tahu kira-kira darimana luka itu berasal kan?
 Pada pagi dan sore hari, para barber santri pondok ini biasanya akan siap duduk di samping irigasi, pemandian umum santri (Pesantren Darul Hijrah) yang konon merupakan pemandian santri terpanjang se Indonesia. Jangan membayangkan barber ini mempunyai alat yang lengkap. Yang mereka perlukan hanyalah gunting dan sisir serta tempat yang teduh untuk memotong rambut. Tidak ada kursi, yang ada hanyalah hamparan tanah yang kadang harus berdesakan dengan tumpukan baju-baju jemuran. Para pelanggan hanya perlu memakai celana pendek tanpa baju, maka para barber ini sudah siap bekerja. Setelah rambut tertata rapi, pelanggan hanya perlu berlari menuju irigasi untuk membersihkan diri. Seperti itulah kiranya kegiatan pangkas memangkas di pesantren.
                Saya dulu juga merupakan anggota dari komunitas barber ini, yang selalu berharap otoritas penegak disiplin pesantren semakin sering melakukan pemeriksaan rambut. Jika perlu satu minggu sekali ustadz! (Haha!)  Karena semakin banyak yang meminta potong rambut, maka semakin besar harapan adanya penggemukan badan dan penambahan gizi bagi saua. Anehnya, setelah selesai periode pemotongan rambut, teman-teman saya yang dulunya acuh tak acuh, pada SKSD (sok kenal sok dekat) semua. Mungkin mereka berharap bisa dapat jatah traktiran dari saya yang habis gajian.
                Selalunya, setiap angkatan di pesantren mempunyai pemangkas rambutnya masing-masing. Jika tidak salah ingat, saya sudah bisa memotong rambut sejak duduk di kelas 2 atau 3 MTs.  Semakin tahun, skil ini semakin terasah. Terbukti dengan bertambahnya pelanggan saya saat masih berada di Pesantren. Pada awal-awal tahun, di angkatan saya masih ada beberapa pemangkas rambut. Namun pada saat akhir-akhir kelulusan, hanya tersisa 2 orang pemangkas rambut, Syarif Asebda dan saya (mohon maaf jika ada yang terlupa).
Berbicara tentang kegiatan pangkas rambut, saya jadi ingat film “Barbershop: The Next Cut (2016)” yang pernah saya tonton beberapa waktu silam. Film tersebut mengisahkan tentang segala permasalahan pribadi yang dimiliki oleh para pemangkas rambut serta para pelanggan yang datang. Masalah itu kemudian mereka diskusikan di barbershop kepada pemangkas rambut lainnya. Curhatan-curhatan inilah yang menarik perhatian saya. Bagaimana kemudian hal-hal yang terjadi dalam keseharian, bisa diselesaikan dengan diskusi hangat yang juga seringkali terjadi di warung-warung kopi.
Entah kenapa saya seolah-olah kembali ke masa lalu, saat dulu masih sering memangkas rambut santri di pesantren. Ternyata secara tidak sadar, saat itu saya juga sering mendengarkan curahan hati para pelanggan, khususnya teman-teman satu angkatan. Masalahnya pun beragam. Ada yang bercerita tentang masalah sekolah, masalah disiplin dan pelanggaran, masalah keluarga, masalah keuangan, masalah cinta, dan masih banyak masalah yang lain. Cerita seperti ini mengalir begitu saja sambil memangkas rambut. Kadang mereka hanya ingin didengarkan bercerita, hanya perlu dibalas “owh gitu”, “hmmm”, “iya”, dan kata sejenisnya. Kadang ada pula yang meminta pendapat. Pendapat itu pun kadang tidak sesuai dengan cerita karena terlalu fokus dengan rambut. Cerita itu pun terhenti saat rambut selesai dipotong.
Hingga saat ini saya masih diminta memangkas rambut, meskipun tidak sesering dulu. Bahkan ada kawan saya yang sampai saat ini masih berlangganan dengan saya (kebetulan sama-sama merantau ke Jogja). Dia berkata bahwa sulit mencari orang yang bisa memotong rambutnya sesuai dengan keinginannya. Tapi memang saya akui, hanya sebagian barber yang bisa memotong rambut ikalnya karena tingkat kesulitan yang terlalu tinggi. Untungnya tidak perlu sampai menggunakan gunting khusus.
Kehidupan santri di pesantren yang unik, membuat segala sesuatunya menjadi berbeda dengan apa yang terjadi pada umumnya. Lihat saja barbershop ala pesantren-an-nya. Saya kira hal ini hanya akan berlaku di pesantren. Lalu, coba tanyalah santri-santri yang dulu pernah menjadi barber pondok, mereka pasti mempunyai cerita yang unik dengan para pelanggannya. Mungkin anda ingin bercerita karena pernah menjadi barber pesantren? Atau mungkin anda malah tertarik untuk bercerita dengannya seraya memotong rambut ala barbershop pesantren?  

Yogyakarta, 12 Januari 2017
Di sela-sela kesibukan kerja di Kantor

Selasa, 20 Desember 2016

JANGAN BIARKAN RUTINITASMU MENGIKIS KEPEDULIANMU



By: Muhammad Qamaruddin

Saya adalah seorang pekerja kantor yang ‘nyambi’ menyelesaikan master di Yogyakarta. Setiap hari senin sampai jum’at, saya masuk kantor dari pukul 08.00 s.d. 16.00 WIB. Bahkan tidak jarang saya lembur untuk menyelesaikan pekerjaan kantor. Artinya jam kerja tersebut bisa saya katakan tidak mutlak. Begitu pula untuk hari sabtu dan minggu. Saya mengambil kuliah akhir pekan (jum’at, sabtu, minggu) untuk menyelesaikan master saya. Walhasil, saya (seperti) tidak mempunyai libur. mungkin betul adanya, “libur adalah mitos”.
Selanjutnya, semenjak teori kuliah saya sudah habis, apakah saya kemudian dapat menikmati libur di akhir pekan saya? Ternyata tidak selalu hari libur dapat dinikmati dengan berlibur. Ada kalanya kegiatan di luar jam kantor yang mengharuskan saya masuk kantor. Entah workshop, pelatihan, acara mahasiswa, dan yang lainnya. Begitulah rutinitas saya setiap hari. Walhasil, sekali lagi, saya (seperti) tidak mempunyai waktu lagi untuk melakukan hal lain.