Sabtu, 11 Januari 2014

(JUMLAH) PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI




 Oleh: Muhammad Qamaruddin

Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa jumlah perempuan di dunia lebih banyak daripada jumlah laki-laki. Perbandingan yang dulunya sempat bertahan pada angka 1:2, kini telah berubah menjadi 1:4. Bahkan aku kira itu telah meningkat pada batas yang belum diketahui. Entah sampai kapan fenomena ini akan terus terjadi. Yang pastinya, hal ini juga dinyatakan dalam agama kita, Islam. Kelak nanti di akhir zaman, jumlah laki-laki akan lebih sedikit dari jumlah perempuan. Inilah tanda yang telah semakin nyata, akhir zaman telah dekat! Apabila sekarang telah memasuki masa-masa akhir dari zaman, lalu kita kemudian bertanya, seberapa lamakah rentang waktu akhir zaman tersebut? seribu tahun? lima ribu tahun? Sepuluh ribu tahun? Sejuta tahun? Atau lebih dari itu? Hanya tuhan yang mengetahui. Manusia hanya dapat memperkirakan.

            Beberapa prediksi manusia bermain pada tatanan logika yang dapat disentuh oleh akal. Misalnya saja, kita dapat memprediksikan berakhirnya zaman dengan berdasarkan pada kapan berakhirnya alam semesta, kapan bumi akan binasa, kapan matahari akan kehabisan energi, dan masih banyak lagi. Ingat, semua itu hanyalah perkiraan-perkiraan. Semua itu pun dapat berubah meskipun tanpa persetujuan manusia. Inilah kekuatan dan kekuasaan Tuhan.
            Dari semua itu, perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan adalah salah satu tandanya. Kita lihat sekarang ini, berapa banyak jumlah anak sebuah keluarga? Dua? Tiga? Lima? Lebih dari itu? Lalu hitunglah jumlah anak perempuan dan laki-laki. Aku pernah berpikir mengenai hal perbandingan jumlah ini. Ada beberapa alasan yang dapat dijelaskan dengan akal. Aku merasa bahwa hal ini juga berhubungan dengan orang tua yang berkeinginan mempunyai anak laki-laki.
Dahulu kala, mempunyai anak perempuan adalah sebuah kehinaan. Berapa banyak anak perempuan yang mati di tangan orang tuanya sendiri. Berapa banyak anak perempuan yang telah dilenyapkan bahkan sebelum menghirup udara kehidupan. Berapa banyak anak perempuan yang dibenci tanpa mempunyai kesalahan dan dosa apapun. Tetap saja anak perempuan masih lebih banyak daripada anak laki-laki bukan? Inilah misteri Tuhan.
            Bagiku sendiri, permasalahan ini dapat kujelaskan hanya dengan perbincangan ringanku saudara sepupuku. Ia mempunyai tiga orang anak perempuan dan satu orang anak laki-laki, yaitu si bungsu. Suatu ketika ia berkata kepadaku, “Akhirnya setelah sekian lama, aku mempunyai jagoan (baca: anak laki-laki).” Lalu aku kemudian bertanya, “Semisalnya anak keempat ini adalah perempuan, bagaimana Bang?” Dengan gampang ia menjawab, “Ya aku akan buat lagi sama istriku, sampai ketemu jagoannya.” Mendengar hal itu, kami pun sama-sama tertawa.
            Mari kita hubungkan percakapan di atas dengan permasalahan sebelumnya. Ada tali penghubung di antara keduanya. Logikanya adalah keinginan orang tua akan anak laki-laki adalah salah satu penyebab banyaknya anak perempuan. Saat sepasang suami istri tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan –yaitu anak laki-laki– maka mereka akan berusaha kembali hingga Tuhan memberikan apa yang mereka harapkan. Seperti yang telah dilakukan oleh saudara sepupuku. Saat ia menginginkan seorang putera, maka di saat anak pertama, kedua, dan ketiga bukanlah anak laki-laki, ia berusaha pada anak yang keempat. Walhasil, keinginan tersebut terwujud pada kelahiran yang keempat. Seorang anak putera.
            Coba kita bayangkan seandainya semua orang berpikir seperti itu, berapa banyak anak perempuan yang telah terlahir ke dunia. Dan pada saat anak laki-laki telah terlahir, mereka akan berhenti untuk berusaha lagi. Sehingga jumlah laki-laki pun hanya sedikit. Aku rasa inilah salah satu alasan kenapa jumlah anak perempuan lebih banyak daripada anak laki-laki.
            Memang semua ini hanyalah pemikiranku sesaat. Mungkin hal ini jika dibandingkan dengan statistik-statistik yang ada di dunia, maka bisa saja pemikiranku ini hanyalah pemikiran yang tak berdasar atau menduga-duga. Tapi aku rasa, tidak ada salahnya dalam menduga-duga. Daripada tidak berpikir sama sekali. Karena dari dugaanlah sebuah masalah dapat diselesaikan.

0 komentar:

Posting Komentar

apa komentar anda tentang bacaan ini?