This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 08 Desember 2019

KAMU (DIANGGAP) BAIK KARENA ALLAH MENUTUPI AIBMU!


Oleh: Muhammad Qamaruddin

"Ya Allah, jadikan diriku lebih baik dari sangkaan mereka. Janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah aku lantaran ketidaktahuan mereka."
(Doa Sahabat Abu Bakar Ash Siddiq RA)

Tidak ada manusia di dunia ini yang luput dari kesalahan dan kekhilafan. Mari kita mengingat kembali kisah Nabi Adam beserta Siti Hawa yang memakan buah khuldi, padahal Allah telah melarangnya. Nabi Yunus sengaja meninggalkan kaumnya karena setelah 33 tahun lamanya berdakwah, tetapi hanya 2 orang saja yang mendengarkan seruannya. Nabi Musa yang tidak sengaja membunuh orang karena pukulannya. Tentu saja para nabi yang mulia ini bersegera meminta ampunan kepada Allah SAW. Taubat Nabi Adam dan Siti Hawa terekam pada ayat 23 surah al-‘Araf, taubat Nabi Yunus pada ayat 87 surah al-Anbiya, dan taubat nabi Musa pada ayat 15-16 surah al-Qashash.

BUNDA, KAMU LUAR BIASA



Senin, 7 Oktober 2019, pukul 01.30 WIB.
Sesekali kukecup kening istriku. Tangannya memeluk erat tubuhku. Mencengkeram jaketku kuat sekali. Mukanya terbenam di dadaku, seperti tidak mempedulikan sekitarnya. Hanya aku dan dia. Terasa kesedihan yang sangat luar biasa. Seolah-olah ia membayangkan pertemuan ini bakal menjadi penghujung cerita. Namun, usapan tanganku di kepalanya meyakinkan bahwa ini hanya berlangsung sementara.
Kadang aku merasa ia terlalu cengeng. Tapi mungkin ini adalah sikap yang paling wajar untuk seorang wanita, setidaknya untuk istriku. Dan Aku sendiri pun harus berdamai dengan keegoan laki-lakiku. Mataku mungkin bisa berbohong, namun hatiku terisak.