Minggu, 08 Desember 2019

BUNDA, KAMU LUAR BIASA



Senin, 7 Oktober 2019, pukul 01.30 WIB.
Sesekali kukecup kening istriku. Tangannya memeluk erat tubuhku. Mencengkeram jaketku kuat sekali. Mukanya terbenam di dadaku, seperti tidak mempedulikan sekitarnya. Hanya aku dan dia. Terasa kesedihan yang sangat luar biasa. Seolah-olah ia membayangkan pertemuan ini bakal menjadi penghujung cerita. Namun, usapan tanganku di kepalanya meyakinkan bahwa ini hanya berlangsung sementara.
Kadang aku merasa ia terlalu cengeng. Tapi mungkin ini adalah sikap yang paling wajar untuk seorang wanita, setidaknya untuk istriku. Dan Aku sendiri pun harus berdamai dengan keegoan laki-lakiku. Mataku mungkin bisa berbohong, namun hatiku terisak.

Tak selang beberapa lama kemudian, perlahan-perlahan ia mulai mengangkat mukanya. Matanya sembab membasahi jaket di dadakku. Sangat jelas jika wajah terkasih ini mencoba untuk memaksakan diri tersenyum, meskipun aku tahu itu hanya guratan palsu. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa ia kuat menjalaninya. Mungkin.
Aku memberikan isyarat kepadanya untuk memberikanku waktu menjenguk anakku yang sudah ketiduran dengan nyenyaknya. Ia pun perlahan melepaskan pelukannya. Kudatangi anak gadisku yang sebentar lagi akan memiliki seorang adik. Kupandangi wajahnya dengan syahdu. Kuelus-elus rambutnya yang berantakan. Kurapikan bajunya yang tak karuan. Kuangkat selimut yang ditendangnya entah kemana. Kupeluk pelan-pelan badannya.
“Jaga bunda ya nak”, ucapku pelan di telinganya sembari mengecup keningnya mesra. Meskipun aku tahu ia tak mungkin mendengarnya.
Selanjutnya, aku merapikan barang-barangku. Istriku memperhatikanku dengan pandangan nanar sembari mengusap perutnya yang sudah membesar. Aku tersenyum. Aku paham jika ia ingin aku mengucapkan dua patah kata untuk sang janin. Aku pun duduk. Mukaku tepat di depan perutnya. Kucium perutnya dengan lembut.
“Jangan buat bunda repot ya Nak. Ayah pasti ke sini lagi. Tunggu Ayah ya,” ucapku kepada sang janin sekaligus memberikan doa terbaik untuk sang janin dan istriku.
Aku melihat jam tanganku. Aku harus segera beranjak pergi. Jika tidak, aku bisa ketinggalan pesawat. Aku mendatangi mertuaku. Aku pamit kembali ke Kalimantan untuk melanjutkan pekerjaanku di sana. Hanya doa yang mereka berikan kepadaku. Terakhir, istriku mencium tanganku sebagai bentuk baktinya kepada suami. Aku segera berjalan ke mobil travel yang sedari tadi menungguku. Sang sopir hanya bisa tersenyum sedih melihat suasana tersebut. Mungkin ia juga ingat dengan keluarganya nan jauh di sana.
Di dalam mobil, kupandangi mereka yang berdiri melepas kepergianku. Sekali lagi air mata istriku mengalir. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku kepadaku. kuangkat kedua jari telunjukku ke mulut dan mendorongnya hingga membentuk sebuah senyuman. Aku ingin ia tetap tersenyum dalam keadaan ini. Hingga pada akhirnya mobil itu pun berjalan menjauh, menghilangkan sosok-sosok yang sangat kucintai. Aku menghempaskan badanku, berpikir bahwa ini hanya tinggal menunggu waktu, dan aku pasti akan kembali lagi ke sini. Aku mencoba untuk memejamkan mataku, menikmati perjalanan yang mungkin akan dihabiskan selama 4 jam. Allahumma yassir wa la tu’assir.


Senin, 18 November 2019, pukul 10.00 WIB
Preeklampsia? kata itu diucapkan istriku di telepon. Sangat asing. Aku mencoba mengingat-ingat, apakah aku pernah mendengar istilah itu sebelumnya. Sayangnya, otakku menyatakan jika aku memang tak pernah mendengarnya. Aku mencoba bertanya kepadanya, apa maksud dari istilah itu. Akan tetapi, ia hanya menyuruhku untuk menceknya di google karena ia pun tidak terlalu paham. Aku juga bertanya, apakah itu berbahaya. Sekali lagi ia Cuma menjawab jika ia tidak tahu. Sang bidan yang memeriksanya tadi pagi Cuma mengatakan untuk tidak usah terlalu gusar. Cukup lebih banyak minum air dan jaga kesehatan.
Walaupun ia menyuruhku untuk tenang, tapi tetap saja cemas itu datang. Setelah telepon ditutup, langsung saja aku mengecek di google arti dari istilah tersebut. Beberapa detik kemudian, kecemasanku memang terbukti. Aku terduduk lunglai. Aku menemukan banyak kata-kata yang tidak kuharapkan. Gejala, risiko, komplikasi, kerusakan, sakit, tekanan darah, dan kata-kata lainnya yang membuatku badanku merinding. Kubaca beberapa artikel tentang preeklampsia. Keringat dinginku bercucuran. Jantungku berdetak lebih cepat. Perasaanku campur aduk. Ini adalah nama sebuah penyakit bagi ibu yang sedang hamil. Lebih jauh lagi, aku justru singgah pada sebuah artikel yang menceritakan tentang salah seorang artis yang kehilangan 2 bayi kembarnya saat masih di dalam perutnya. Dan 1 penyakit yang menjadi penyebab utamanya adalah istilah yang diberikan oleh istriku tadi, Preeklampsia. Ya Allah. Kenapa hal ini harus terjadi?
Perlu diketahui, preeklampsia adalah kondisi yang terjadi pada saat kehamilan. Umumnya gejalanya terjadi setelah minggu ke 20 kehamilan. Hal ini terjadi karena ada gangguan pada pertumbuhan serta perkembangan plasenta, sehingga mengganggu aliran darah ke bayi maupun ibu. Padahal Plasenta merupakan organ yang khusus dibentuk saat kehamilan. Ibarat pemasok makanan, minuman, dan juga oksigen, jelas jika kinerjanya terganggu, maka juga akan mempengaruhi perkembangan janin.
Aku terus mendalami semua artikel yang kubaca. Khususnya tentang pengobatan, pencegahan, menimilisir, mengurangi, pokoknya semua hal yang dapat membuat istri dan anakku sembuh dari penyakit tersebut. Setelah yakin dengan apa yang kudapat, segera saja kutelepon istriku. Kuceritakan tentang apa yang sudah kubaca tentang preeklampsia dengan sangat hati-hati. Aku takut membuat ia tidak tenang. Ia hanya mendengarkan tanpa banyak menjawab. Sesekali ia Cuma menjawab sekenanya saja. Jelas dan singkat.
Aku menyuruhnya untuk istirahat lebih banyak, tidur lebih banyak, makan lebih banyak, minum air putih lebih banyak, minum vitamin, suplemen dan susu ibu hamil secara teratur, sesekali jalan-jalan ringan, dan perbanyak doa-doa agar terus diberikan kesehatan, baik untuk sang ibu atau pun janin.
“Iya Yah, terimakasih atas infonya. Doain Bunda sama si kecil yang dalam perut ya, biar sehat terus,” jawab istriku.
Siang itu hatiku benar-benar tidak bisa tenang. pikiranku kemana-mana. Kalimat-kalimat berawalan ‘jangan-jangan…’ ‘jangan-jangan…’ terus berseliweran di otakku. Ya Allah, yakinkanlah aku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sampai hari itu tiba. Amin.



Kamis, 21 Nopember 2019, Pukul 05.30 WITA
“Ayah….Bunda deg-deg kan. Cuma Bunda Takut salah, soalnya gak diiringi sakit perut kaya sebelumnya.” Chat itulah yang pertama kali kulihat saat membuka HP, persis setelah menyelesaikan wirid Shalat subuh. Jantungku berdebar. Apakah sudah waktunya? Tanpa berpikir panjang, aku langsung menelepon istriku yang jauh di sana. Dua kali panggilan, namun tak ada respon. Ya Allah! Aku semakin cemas, khawatir jika terjadi apa-apa terhadap istriku.
Beberapa saat aku mondar-mandir sendiri di kamar. Beberapa kali juga mencoba menghubungi, namun belum ada jawaban. Aku semakin cemas. Pikiranku kemana-mana. Perasaanku tak karuan.
Tiba-tiba saja, teleponku berbunyi. Telepon dari istriku! Tanpa berpikir panjang, langsung saja kuangkat panggilan tersebut.
“Maaf Bun, Ayah baru lihat HP. Gimana keadaan Bunda sekarang?” Tanyaku dengan perasaan khawatir.
“Pipis Bunda tadi ada darahnya. Ini sesekali sudah mulai ada sakitnya di perut. Apa sudah waktunya ya Yah?” Jawabnya. Aku diam sejenak. Mencoba untuk menenangkan pikiran. Jika pertanda itu benar adanya, maka aku harus bertindak cepat.
“Ayah pesan tiket sekarang?” Tanyaku. Ia tak langsung menjawab. Lama sekali. “Bun?” Panggilku lagi, berharap ia tersadar dari lamunan.
“Bismillah. Iya Yah. Jika memang ini adalah waktunya, semoga Ayah bisa datang ke sini secepatnya.” Ucapnya lirih.
Setelah sedikit berbasa-basi, aku langsung menyudahi percakapan itu dan mengecek seluruh aplikasi tiket yang ada di HP ku. Ironisnya, penerbangan dengan rute Banjarmasin-Surabaya yang seharusnya ada di pagi dan siang hari, ternyata sudah ludes habis terjual. Penerbangan yang masih tersedia Cuma ada di jam 6 sore. Artinya, paling cepat aku bisa bertemu istriku pada tengah malam nanti. Waktu yang sangat lama! Tentu saja keadaan ini membuatku semakin gelisah. Apa yang harus kulakukan?
Akhirnya aku mencoba menelepon call center salah satu maskapai pesawat, meminta solusi atas permasalahanku saat ini. Kesimpulan yang kudapat dari percakapan tersebut, aku harus pergi ke Bandara sebelum keberangkatan pagi atau siang dan bertanya langsung kepada pihak maskapai, apakah masih ada seat yang bisa kumasuki. Tentu saja tindakan ini termasuk untung-untungan. Aku bisa mendapatkan tiket pesawat, aku juga pulang dengan hasil yang nihil. Tapi ini jalan adalah satu-satunya, setidaknya untuk saat ini. Sisanya kuserahkan kepada yang di Atas.

Kamis, 21 Nopember 2019, pukul 10.00 WITA
Setelah meminta izin kepada atasan, menyelesaikan seluruh pekerjaan, dan membuat jadwal ulang perkuliahan untuk mahasiswa, aku segera pergi ke Bandara. Hanya membawa sebuah tas, tanpa tahu apakah bisa mendapatkan tiket atau tidak, tanpa tahu apakah bisa naik pesawat atau tidak, tanpa tahu apakah bisa terbang ke pulau seberang sana atau tidak. Ini merupakan cerita tentang perjuangan seorang suami yang sedang berusaha keras bisa mendampingi istrinya yang akan melahirkan.
 Pertama kali aku datang ke bandara, aku langsung menuju counter costumer service salah satu maskapai. Aku ceritakan kepada ‘mba penjaga’ perihal keperluanku saat itu. Sayangnya, ia justru menyuruhku langsung saja masuk ke dalam dan langsung bertanya di kantor maskapai tersebut. Sebenarnya aku agak kecewa. Akan tetapi, jika memang itulah prosedur yang harus kujalani, maka mau tidak mau aku harus melakukannya.
Aku segera berjalan dengan cepat menuju tempat yang dimaksud. Yang sangat tidak mengenakkan saat itu adalah para calo yang mengelilingku dan mencoba menawarkanku tiket pesawat. Sebenarnya aku sempat tertarik, akan tetapi hati kecilku berkata, mungkin lebih baik aku bertanya dulu ke kantor yang dimaksud oleh ‘mba’nya tadi.
Sesampainya di sana, aku sempat agak bersitegang, karena mas-mas yang ada di ruangan mengatakan bahwa justru semua tiket pada hari ini sudah tidak ada, termasuk tiket yang di jam 6 sore. Semuanya sudah habis terjual. Jelas saja aku tidak bisa menerimanya. Kuceritakan kepadanya jika aku harus sampai ke Surabaya, bagaimana pun caranya. Bahkan aku mencoba mengajak Mas tersebut berandai-andai, jika kejadian ini menimpanya. Akankah ia bisa tenang? Mas itu memandangku dalam. Kurasa ia bisa menangkap apa yang ada di dalam hatiku, ‘aku mau terbang dan mendatangi istriku yang akan melahirkan sekarang juga! Titik!
Setelah beberapa saat, Akhirnya ia berdiskusi lagi dengan temannya, dan beberapa kali mencoba calling patnernya di tempat lain. Dari yang kudengar, mereka sedang membicarakan tentang apakah ada seat untuk satu orang lagi. very important. Ya Allah, cukup satu orang ya Allah!
Dan doaku terkabul! Mas yang duduk di depanku mengatakan, InsyaAllah masih bisa Pak. Masih ada satu seat yang bisa kumasuki di jam setengah 12.  Alhamdulillah! Saat itu aku menyalaminya dengan perasaan suka cita. Kugoyangkan tangannya tiada henti sambil mengucapkan terimakasih berkali-kali. Ia seperti sosok malaikat penolong yang diutus oleh Tuhan. Aku kegirangan.
Aku duduk di waiting room setelah menyelesaikan seluruh pembayaran dan administrasi. Kukabari istriku nan jauh di sana jika beberapa saat lagi aku akan menyusulnya di sana. Aku tahu ia sangat senang, namun ia tidak bisa menutupi bahwa ia sedang menahan rasa sakit.
Beberapa kali aku menyuruhnya untuk langsung ke rumah sakit. Namun ia mengatakan, ia masih bisa bertahan. Yang pastinya, saat ini aku memang sangat ingin mendampinginya segera. Namun, jika memang persalinan itu bisa lebih cepat dari yang kubayangkan, mungkin itu lebih baik. Daripada harus menungguku yang masih lama datang. Entahlah. Tuhan lebih tahu.
Proses melahirkan merupakan pertaruhan antara hidup dan mati, baik bagi sang ibu ataupun sang janin. Karena ini tentang istri dan calon anakku, aku tidak bisa bersantai di sini. Aku harus sampai di sana secepatnya, dengan cara apapun itu.  Apalagi jika aku ingat tentang penyakit yang disampaikan oleh bidan beberapa hari yang lalu. Kecemasanku benar-benar memuncak. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa berdoa dari jauh Allah akan memudahkan segalanya. Hanya itu yang bisa kulakukan.

Kamis, 21 Nopember 2019, pukul 20.30 WIB
Aku berdiri gelisah di depan terminal Arya Wiraraja Sumenep. Beberapa kali aku melirik jam tanganku. Aku mendengus sedikit kesal. Perjalanan dari Surabaya ke sini telah menyita waktu yang lumayan panjang. ‘Seharusnya tidak selama ini’, batinku. Kuperkirakan perjalanan tadi telah menghabiskan hampir 7 jam lebih. Biasanya perjalanan ini bisa ditempuh sekitar 5-6 jam di siang hari. Salah satu penyebabnya adalah kemacetan yang terjadi di daerah Sampang. Tepat pada hari itu sedang dilaksanakan Pemilihan Kepala Desa secara serempak di daerah Sampang. Ok. It’s fine. Yang penting aku sudah sampai di kampung halaman istriku. Tak beberapa lama kemudian, Bapak mertuaku datang menjemputku.
Pertemuan pertamaku dengan anak dan istriku saat itu adalah pertemuan yang sangat mengharukan. Betapa tidak. hampir 1,5 bulan lebih kami tidak bersama. Kuberikan salam yang hangat di depan rumah. Sontak saja, anakku yang sedang duduk di dalam langsung berlari ke arahku. Ya Allah! betapa rindunya diriku kepada anak gadisku ini. kugendong ia dengan penuh mesra. Kugendong badannya segera. Kupeluk ia erat-erat. Kucium pipinya berkali-kali. Ia pun membalas pelukku dengan sangat manja. Kukeluarkan oleh-oleh yang kubeli untuknya, sembari menanyakan keberadaan Bundanya.
Sosok perempuan itu sedang duduk di dalam rumah. Ia tersenyum melihatku. Subhanallah! Senyuman yang lama tak kulihat langsung. Segera saja aku mendatanginya. Kucium keningnya dengan romantis. Ia pun menyalami tanganku. Kupeluk tubuh terkasihku. Owh, betapa aku sangat merindukanmu, Bunda!
Kemesraan itu hanya berlangsung sebentar. Karena beberapa detik kemudian, tiba-tiba saja senyumnya hilang. Berganti dengan muka tegang yang teramat sangat. Segera saja aku melempar tasku yang masih kutenteng sekenanya. Kupegang pundaknya seraya menatap teduh matanya.
“Sakit lagi, Yah…,” ujarnya lirih sambil memegang perutnya. Aku tersadar. Sakit yang ia rasakan sudah ia tahan sejak pagi tadi. Aku hanya bisa memegang erat tangannya. Tak terasa mataku berlinang. Bukan apa-apa. Aku sudah memaksanya untuk langsung ke rumah sakit selama di perjalanan. Akan tetapi ia bersikeras tetap menungguku datang. Ia ingin aku yang mengantarkanku langsung ke rumah sakit. Padahal aku tahu sakitnya itu sudah sangat memuncak. Terlebih saat memasuki waktu senja. Hal itu aku rasakan pada saat ia meneleponku di perjalanan, dan ia tidak bisa berbicara sepatah katapun karena sakit yang ia rasakan.
”Kita ke rumah sakit sekarang yuk Bun,” ajakku lembut sambil menggotongnya berdiri. Matanya mengisyaratkan rasa sakit yang ia tahan sejak tadi.
“Ayah belum shalat kan? Sana shalat dulu,” suruhnya.
“Tapi Bun…,”
“Sudah, tidak apa Yah. Sekalian Bunda beres-beres dulu sebentar.” Aku menatapnya dengan kasih sayang. Ia menyuruhku untuk segera shalat. Anak gadisku yang sedari tadi kegirangan karena kedatanganku, masih sibuk memamerkan seluruh mainan-mainan dan barang-barang barunya. Sayangnya, aku tidak bisa terlalu meladeninya. Aku masih fokus dengan istriku. Maafkan Ayah, Nak.
Aku khusuk dalam shalat, mengharapkan kepada Sang Khaliq agar persalinan istriku dimudahkan dan dilancarkan. Amin.

Kamis, 21 Nopember 2019, Pukul 22.30 WIB
Anak gadisku sudah tertidur pulas di luar ruangan ditemani oleh Ayah mertuaku yang terus terjaga. Sang perawat memintaku untuk terus menemani istriku sudah sedari tadi berbaring tak berdaya di atas kasur. Sesekali ia memejamkan matanya, menahan sakit yang terus datang silih berganti. Kupegang erat tangannya. Kuelus rambutnya. kubisikkan kata-kata motivasi di telinganya. kulantunkan dzikir-dzikir yang kuhapal untuk persalinan. Ibu mertua dan saudara perempuannya juga ikut menemani di dalam. Mata mereka sudah basah karena melihat keadaan istriku yang merintih sangat kesakitan.
“Mungkin bisa dibelikan teh hangat manis dulu Pak untuk Ibunya. Ini kasian Ibunya ternyata belum makan. Biar Mbaknya yang di sini nyuapin makan. Supaya ada tenaga saat mau lahiran,” terang sang perawat ketika memeriksa tali infus. Aku sedih mendengarnya. Ternyata istriku belum makan. Tapi mau bagaimana lagi. Segera saja aku pergi keluar sembari berpesan kepada iparku untuk menyuapinya makan yang sudah disediakan.
Tak selang beberapa lama kemudian, saat aku mau kembali ke ruangan, rupanya ibu mertuaku sudah menungguku di jalan. Ia menyuruhku untuk berjalan lebih cepat.
“Ayo Nak, dicari perawatnya. Sepertinya sudah mendekati waktu lahiran, bidannya juga sudah di dalam,” ujar Ibu mertuaku dengan nyaring. Segera saja aku mempercepat langkahku. Bahkan teh hangat yang ada di tanganku beberapa kali tertumpah karena cepatnya jalanku. Di dalam ruangan, aku melihat istriku yang napasnya agak terengah-engah.
“Ayo Mas sini. Temenin istrinya,” kata bidannya yang sudah memakai sarung tangan dan mengambil beberapa alat medis. Dengan langkah cepat, kudatangi istriku yang masih mengatur napasnya. Sang perawat memintaku untuk memberikan teh hangat manis yang sudah kubeli tadi.
“Beritahu kalau sudah siap ya Mbak…,” ujar bidannya kepada istriku. Jantungku berdetak cepat! Memang sudah waktunya! Aku memegang erat tangan istriku. Kupandangi mata istriku agar ia bisa bertahan dengan keadaan ini. Kudekatkan mulutku ke telinganya.
“Bunda pasti bisa…,” ucapku lembut sambil mengelus rambutnya. Pada akhirnya, ia menatap sang bidan dan menganggukkan kepalanya, pertanda ia sudah siap.
Proses persalinan itu pun dimulai. Istriku mulai mengejan. Napasnya tergopoh-gopoh. Sesekali ia berhenti untuk kembali mengatur napas. Jantungnya berdetak cepat. Perasaanku campur aduk. Seandainya aku bisa menggantikannya, maka akan kulakukan. Ya Allah! Mudahkanlah…mudahkanlah!
Istriku menggenggam tanganku sangat erat. Pegangan tangan paling kuat yang pernah kurasakan. Mulutku terus berdzikir. Kudekatkan mulutku ke telinganya. sesekali kuucapkan kalimat-kalimat motivasi untuk menenangkannya. ‘Ayo Bunda pasti bisa’, ‘Bunda kuat kok’, ‘Ayah ada di sini’, bentar lagi Bun’, ‘terus Bun’, dan kalimat-kalimat lainnya agar ia bisa setenang mungkin saat menjalani proses persalinan ini.
Entah berapa menit aku berada pada posisi tersebut. Hingga suara bayi sayup-sayup terdengar. Aku memandangi istriku lembut. Airmataku menggenang. Kucium keningnya dengan mesra.
“Sudah Bun,” ucapku agak terisak. Kupeluk ia yang nampak sangat kelelahan.
“Anaknya laki-laki. Ganteng. Selamat Bapak Ibu,”kata sang bidan sambil tersenyum kepada kami. Aku kembali memeluk istriku sembari mengucapkan selamat kepadanya. Ia berhasil menjalani semua proses ini dengan baik. Di dalam suasana syahdu tersebut, samar-samar aku mendengar pembicaraan serius antara sang bidan dengan perawat.
“Pak, mohon maaf,” sang bidan memanggilku. Aku mendekatinya. “Istri bapak mengalami robekan. Mau tidak mau, harus dijahit,” jelasnya kepadaku. “dan karena letak lukanya, ada bagian-bagian yang tidak bisa kami bius saat dijahit. Mohon maaf Pak ya.” Aku diam mematung. Masih lagi?? Aku meminta penjelasan sang bidan, kenapa hal ini bisa terjadi. Bukan apa-apa. Aku masih ingat jika hal ini tidak terjadi pada saat kelahiran anak pertamaku. Aku kasihan melihat istriku yang saat itu masih terbaring sangat lemah. Aku mendatanginya agak gontai.
”Bun, ada beberapa bagian yang harus dijahit. InsyaAllah tidak akan lama. Biar Bunda cepat sembuh. Nanti agak ditahan ya,” jelasku kepada istriku. Mukanya lelah berubah menjadi sangat ketakutan. Ditariknya tanganku segera.
“Bunda takut Yah,” ucapnya. Aku menganggukkan kepalaku pelan, meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Demi Allah, teriakan istriku pada saat itu adalah teriakan paling memilukan yang pernah kudengar. Bagaimana tidak, ia harus menahan sakit yang tiada tara saat bagian dari tubuhnya dijahit, khususnya pada bagian-bagian yang memang tanpa dibius. Dan itu sangat sakit! Sakit sekali! Membayangkannya saja aku tidak sanggup. Hatiku pilu.
Ia mulai menangis sembari berteriak kepada sang bidan, ‘sudah bu, sakit bu, sudah bu’. Ya Allah! Betapa menderitanya istriku. Betapa tersiksanya harus melalui semuanya. Namun sang bidan terus menyelesaikan tugasnya. Ia menjelaskan bahwa akan lebih parah jika dibiarkan.
Setelah semuanya terlewati, istriku mulai bisa menenangkan diri. Entah aku bisa menahan sakit yang dideritanya atau tidak. Membayangkannya saja aku tidak berani. Dari sini aku menyadari bahwa seluruh wanita yang ada di dunia adalah sosok-sosok yang hebat.
Lambat laun suasana mencekam itu pun berganti dengan kehadiran sosok seorang bayi mungil yang digendong oleh sang perawat.
“Diazanin ya Pak,” ucapnya sambil tersenyum
Aku menggendong buah hatiku yang kedua. Sang penyejuk hati. Kupandangi ia dengan penuh kelembutan. Kupandangi juga istriku yang mulai menyunggingkan senyum, meskipun dalam keadaan sangat lemah.
Hanya satu kalimat yang ada di pikiranku saat itu, ‘Bunda, kamu luar biasa.’ 



Banjarmasin,  28 November 2019



Muhammad Qamaruddin





0 komentar:

Posting Komentar

apa komentar anda tentang bacaan ini?