Minggu, 17 November 2013

BERPUASA DI HARI ‘ASYURA

Oleh: Muhammad Qamaruddin

Puasa hari ‘Asyura, sungguh saya berharap kepada Allah supaya menghapuskan dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim)

Setiap tahun, seluruh umat Islam di dunia memperingati tahun baru Hijriah. Inilah momen yang mengingatkan kita pada sejarah besar. Sejarah itulah yang akhirnya merombak tatanan dunia secara keseluruhan ke arah yang lebih baik. Perubahan yang lahir dari seorang anak yatim piatu. Dia adalah yang sangat dimuliakan oleh Allah SWT. Orang yang sejak berumur enam tahun telah berjuang menghadapi kerasnya kehidupan di bawah asuhan pamannya. Bermodalkan akhalaqul karimah dan uswah hasanah, ia mampu mengubah imej kaumnya, dari sebutan kaum jahiliyah menjadi kaum yang bahkan menjadi contoh peradaban dunia (masyarakat madani). Ia memperbaiki kehidupan kaumnya secara menyeluruh dari semua sektor. Perubahan inilah yang diproklamirkan dengan peristiwa Hijrah. Dialah sang proklamator dunia, Baginda Rasulullah SAW. Mengingat betapa penting momen hijrah ini, maka pantaslah Khalifah kedua, Umar bin Khattab menetapkan awal tahun baru Islam dengan mengacu pada momentum hijrah tersebut.

Muharram adalah awal bulan dari tahun baru Hijriah. Sejarah mencatat ada banyak sekali peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada bulan ini, khususnya pada tanggal 10 Muharram yang biasanya disebut hari ‘Asyura. Hari ‘Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram pada kalender Islam. ‘Asyura sendiri berarti sepuluh. Pada hari ‘Asyura inilah, umat muslim disunnahkan untuk berpuasa. Ada banyak sekali kelebihan berpuasa pada hari tersebut. Oleh karena itu, penulis ingin sedikit berbagi tentang keutamaan berpuasa pada hari ‘Asyura.

Umat Sebelum Islam pun Mengagungkan Hari ‘Asyura
            Sesungguhya tidak hanya umat Islam yang mengenal hari ‘Asyura. Umat-umat sebelum datangnya Islam telah mengenalnya terlebih dahulu. Mereka juga mengagungkan hari tersebut. Dari Ibnu Abbas RA, berkata: “Nabi SAW tiba di Madinah dan melihat orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Beliau bertanya, “Apa ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah hari baik. Pada hari ini Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa padanya” Beliau menjawab, “Maka saya lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan agar berpusa padanya.” (HR. Al-Bukhari). Dalam riwayat Muslim, “Ini hari yang agung, di mana pada hari itu Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’an dan kaumnya.” Sedangkankan kalimat “Maka Musa berpuasa padanya,” dalam riwayat muslim dengan redaksi lain, “Sebagai bentuk syukur kepada Allah Ta’ala, maka kami berpuasa padanya.”
Dalam riwayat al-Bukhari, “Dan kami berpuasa padanya untuk mengagungkannya.” Sedangkan dalam riwayat Ahmad dengan tambahan, “Hari itu adalah hari mendaratnya perahu Nuh di atas bukit al-Judiy, maka Nuh AS berpuasa padanya.” Sedangkan sabda beliau, “Dan memerintahkan berpuasa padanya,” pada riwayat lain dalam shahih al-Bukhari, “Maka beliau bersabda kepada para sahabatnya, ‘Kalian lebih berhak terhadap Musa daripada mereka, maka berpuasalah’.”

Cara Berpuasa Umat Muslim di Hari ‘Asyura
            Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, beliau berkata, “Ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa padanya, mereka menyampaikan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani.’ Lalu beliau shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, ‘Kalau begitu, pada tahun depan insya Allah kita berpuasa pada hari kesembilan’. Dan belum tiba tahun yang akan datang, namun Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam sudah wafat.” (HR. Muslim)
            Umat Islam disunnahkan untuk berpuasa pada hari ‘Asyura. Namun puasa yang dimaksud bukan seperti puasa yang dikerjakan oleh orang-orang Yahudi. Mereka berpuasa pada hari Asyura sebagai wujud rasa syukur ata Nabi Musa yang telah terselamatkan dari kejaran Fir’aun. Oleh karena itu, ini merupakan kenikmatan yang sangat besar bagi orang-orang Yahudi. Melihat hal tersebut, maka Rasulullah pun menyuruh umatnya untuk menambah hari berpuasa, baik sebelum hari ‘Asyura, ataupun setelahnya. Rasulullah memerintahkan umat Islam untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura. Caranya dengan berpuasa pada hari kesembilan atau hari kesebelas secara beriringan dengan hari kesepuluh (‘Asyura), atau ketiga-tiganya.
            Oleh karena itu, terkait cara berpuasa pada hari Asyura, sebagian ulama seperti Ibnu Qayim membaginya pada tiga keadaan, 1) Berpuasa pada hari ‘Asyura dan Tasu’ah (9 Muharram), ini yang paling afdhal; 2) Berpuasa pada hari ‘Asyura dan tanggal 11 Muharram, ini kurang pahalanya daripada yang pertama. 3) Berpuasa pada hari ‘Asyura saja, sebagian ulama memakruhkannya karena Nabi SAW memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama yang lain memberi keringanan (tidak menganggapnya makhruh).
Lain halnya Ibnu Hajar di dalam kitab Fathul Baari yang mengisyaratkan untuk berpuasa selama tiga hari (9, 10 dan 11 Muharram). Selain itu, Asy-Syaukani dalam Nailul Authar dan Syaikh Muhamad Yusuf Al-Banury dalam Ma’arifus Sunan  menganjurkan cara berpuasa seperti ini. Mayoritas ulama yang memilih cara seperti ini adalah dimaksudkan untuk lebih hati-hati. Ibnul Qudamah di dalam Al-Mughni menukil pendapat Imam Ahmad yang memilih cara seperti ini (selama tiga hari) pada saat timbul kerancuan dalam menentukan awal bulan.

Agungkanlah Hari Asyura, Bukan Merusaknya
            Rasulullah SAW begitu menghormati hari ‘Asyura. Oleh karena itulah, Rasulullah SAW memerintahkan umat Islam untuk berpuasa pada hari tersebut. Meskipun begitu, Rasulullah SAW telah mengatur tata caranya dalam berpuasa. Cara berpuasa ini dibuat sedemikian rupa agar tidak sama atau menyelisihi puasa orang-ornag Yahudi.
Sayangnya, bentuk penghormatan ini telah melampaui batas kewajaran. Ada banyak sekali ritual-ritual yang dikerjakan pada hari ‘Asyura, sedangkan hal tersebut tidak terdapat dalam tuntunan agama. Seperti mengerjakan shalat dan dzikir-dzikir khusus; mandi, bercelak, memakai minyak rambut, mewarnai kuku, dan menyemir rambut; membuat makanan khusus yang tidak seperti biasanya; membakar kemenyan; bersusah-susah dalam kehausan dan menampakkan kesusahannya itu; membaca doa awal dan akhir tahun yang dibaca pada malam akhir tahun dan awal tahun; dan masih banyak lagi.
Sesungguhnya secara khusus tidak ada dalil yg menunjukkan keutamaan amal-amal itu untuk dikerjakan pada hari ‘Asyura. Yang benar amalan-amalan ini diperintahkan oleh syariat di setiap saat, adapun mengkhususkan di hari ini (10 Muharram) maka hukumnya adalah bid’ah.
Ibnu Rajab berkata (Latha’iful Ma’arif) : “Hadits anjuran memberikan uang belanja lebih dari hari-hari biasa, diriwayatkan dari banyak jalan namun tidak ada satupun yang shahih. Di antara ulama yang mengatakan demikian adalah Muhammad bin Abdullah bin Al-Hakam Al-Uqaili berkata :”(Hadits itu tidak dikenal)”. Adapun mengadakan ma’tam (kumpulan orang dalam kesusahan, semacam haul) sebagaimana dilakukan oleh Rafidhah dalam rangka mengenang kematian Husain bin Ali RA maka itu adalah perbuatan orang-orang yang tersesat di dunia sedangkan ia menyangka telah berbuat kebaikan. Allah dan RasulNya tidak pernah memerintahkan mengadakan ma’tam pada hari lahir atau wafat para nabi maka bagaimanakah dengan manusia/orang selain mereka.
Adapun shalat ‘Asyura maka haditsnya bathil. As-Suyuthi dalam Al-Lali  berkata : “Maudhu’ (hadits palsu)”. Ucapan beliau ini diambil Asy-Syaukani dalam Al-Fawaid Al-Majmu’ah. Hal senada juga diucapkan oleh Al-Iraqi dalam Tanzihus Syari’ah dan Ibnul Jauzi dalam Al-Maudlu’ah. Ibnu Rajab berkata, “Setiap riwayat yang menerangkan keutamaan bercelak, pacar, kutek dan mandi pada hari Asyura adalah maudlu (palsu) tidak sah.”

Epilog
            Ada banyak keutamaan berpuasa dalam hari ‘Asyura. Hari dimana telah banyak peristiwa-peristiwa penting terjadi di dalamnya. Hari dimana umat-umat sebelum Islam juga sangat mengagungkannya. Oleh karena itulah, Rasulullah pun memerintahkan umat Islam untuk berpuasa. Meskipun begitu, Rasulullah memberikan tata cara berpuasa yang berbeda dengan umat-umat terdahulu, misalnya orang Yahudi.
            Hanya saja sekarang ini ada banyak ritual-ritual yang dikerjakan pada hari ‘Asyura sangat bertentangan dengan agama. Ritual-ritual tersebut telah menyalahi aturan agama Islam. Padahal Rasulullah pun menyuruh umat Islam untuk menyelisihi cara berpuasa orang Yahudi pada hari ‘Asyura agar tidak sama sepenuhnya.
            Semoga pada momen tahun Baru Islam ini, kita dapat memperbaiki segala sikap buruk kita pada tahun lalu. Kita dapat memperbaharui sikap tersebut, dan menggantinya dengan sikap yang lebih baik. Semoga kita selalu dapat menjalankan segala perintah Allah SWT sesuai dengan tuntunan yang benar dalam agama Islam. Wallahu ‘alam bish-sawab.


Muhammad Qamaruddin
Santri Pondok Pesantren UII
& Mahasiswa Ekonomi Islam ‘10

Diterbitkan pada Buletin Al-Lu'lu Edisi 15/11/2013














0 komentar:

Posting Komentar

apa komentar anda tentang bacaan ini?