Selasa, 31 Desember 2013

SANG PENGINGAT



Oleh: Muhammad Qamaruddin

            Aku kadang merasa bingung, kenapa aku harus dibubuhi dengan tulisan yang aneh. Bentuknya tidak beraturan, dengan garis-garis lurus, bengkok, dan kadang tumpah tindih bak tulisan yang kekurangan tempat. Aku merasa berbeda dengan saudara-saudaraku yang berada di sini. Kita memang mempunyai ukuran yang tidak jauh beda, paling hanya berbeda beberapa centimeter pada diameternya. Tapi lihatlah penampakanku. Sangat aneh. Aku jadi bertanya-tanya, kenapa hanya aku yang dibuat seperti ini?

            “Aku tahu model-model seperti kamu,” suara itu terdengar jelas di tengah keresahanku. Aku melirik kepadanya. Ia mempunyai bentuk yang sangat besar. Mungkin tiga kali lipat lebih besar dari bentukku. Ia terlihat sangat gagah. “Dulu  pernah ada yang seperti kamu. Ia juga dipenuhi tulisan aneh.” Aku risih dengan kata “aneh” yang diucapkannya. “Aku yakin kamu juga akan dibawa ke tempat yang sama seperti dia,” sambungnya lagi.
            “Ke manakah nanti aku akan di bawa, Saudara Besar?” Tanyaku penasaran. Aku memanggilnya “Saudara Besar” karena ukurannya yang jauh lebih besar daripada aku.
            “Aku kurang tahu persis. Tapi mereka sering memanggilnya dengan sebutan tempat ibadah.” Tempat Ibadah? Tempat apakah itu? Aku bertanya-tanya pada diri sendiri.
***
Siang itu aku telah diserahkan ke tangan pemilik baru. Mereka memanggilnya dengan sebutan “Pak Haji”. Beberapa hari sebelumnya, Saudara besar yang sempat menjelaskan tentang “tempat ibadah” itu telah pergi lebih dulu. Saking besarnya ia, perlu dua orang untuk mengangkatnya. Saat itulah Saudara Besar mengucapkan selamat tinggal pada kami. Dengan bentuk sebegitu besarnya, aku masih menebak-nebak, di manakah nantinya ia akan ditempatkan. Kini aku yang harus berpisah dengan saudara-saudaraku.
Setelah setengah jam perjalanan, Pak Haji menghentikan laju motornya. Aku mengintip dari balik kotak. Ia berjalan menuju ke sebuah tempat yang bentuknya berbeda dengan yang lain. Inikah tempat ibadah yang dimaksud oleh saudara besar dulu?
Pak Haji masuk ke dalam tempat tersebut. Ruangannya tidak terlalu luas. Bentuknya Segi empat. Di tengah rungan terdapat selembar kain yang dibentangkan, memisahkan tempat ini menjadi dua bagian. Di depannya, terdapat satu ruangan kecil yang menjorok memisah dari ruangan. Ruangan tersebut hanya cukup berdiri satu orang. Pak Haji mengeluarkanku dari kotak. Ia berjalan menuju ke ruangan yang menjorok tersebut. Tepat di dinding terdepan itulah aku dipasang. Dia tersenyum puas setelah memasangku di sana.
“Alhamdulillah. Dengan adanya kamu di sini, semua jama’ah akan mengetahui kapan waktu shalat,” ujar Pak Haji seakan berbicara kepadaku. Ia mengucapkan beberapa kata yang terdengar asing bagiku. Seasing tulisan yang ada padaku. Aku masih tak karuan rasa. Aku masih bertanya-tanya. Bagaimanakah nasibku selanjutnya di sini?
***
            Bertahun-tahun sudah aku berada di sini. Sedikit banyaknya aku mengetahui tentang segala sesuatu mengenai tempat ini. Orang-orang yang datang ke sini lebih sering menyebutnya dengan “Mushalla”. Ada juga tempat-tempat ibadah lainnya. Bentuknya pun macam-macam. Aku kira mungkin salah satu saudaraku juga diletakkan di sana.
            Aku bertugas menjadi pengingat orang-orang yang ingin melaksanakan ritual ibadah yang mereka sebut shalat. Aku hafal sekali, lima kali sehari, sebanyak itulah mereka melakukan shalat dalam sehari. Tanpa bosan mereka terus melakukan shalat. “Ini perintah Allah SWT kepada kita,” nasehat salah satu penceramah suatu ketika.
Seiring berjalannya waktu, ketakutanku hilang. Aku merasa keberadaanku di sini sangatlah penting. Tanpa aku, mereka tidak dapat mengetahui waktu shalat. Apalagi aku sangat menyukai wajah-wajah teduh yang selalu datang ke mushalla ini.
Kadang aku merasa merinding jika mereka melakanakan shalat. Mereka tunduk syahdu menghadap Allah SWT. Biasanya Pak Haji yang berdiri tegak di depan. Mereka memanggil Pak Haji dengan kata imam. Pak Haji membaca alunan kalimat yang sangat indah. Aku selalu terbuai oleh alunan kalimat tersebut. Bahkan setiap sekali mereka shalat, ingin sekali rasanya mengehentikan bunyi “tik tok” yang berasal dariku, agar tidak mengganggu semua orang yang ada di sana. Sayang sekali, itu sangat tidak mungkin.
Lambat laun, aku tersadar oleh suatu hal. Tahun demi tahun terlewati, bulan demi bulan, hari demi hari, aku merasa orang-orang yang datang ke sini bukan bertambah banyak, namun semakin sedikit. Aku masih ingat sewaktu aku baru saja datang. Bahkan Pak Haji sibuk menghamparkan beberapa buat tikar saking banyaknya orang yang ingin ikut shalat di mushalla ini. Sekarang, orang-orang itu menghilang satu persatu. Aku sedih. Kemanakah orang-orang yang dulunya begitu gembira dengan kehadiran mushalla ini?
***
            Tiada hari tanpa Pak Haji. Dialah orang yang selalu datang paling awal ke mushalla. Dia juga yang memanggil orang-orang untuk datang menyusulnya. Tentu saja untuk melaksanakan shalat. Sayangnya, hanya beberapa orang yang mau datang. Kadang salah satu waktu shalat pun tampak sangat sepi, karena hanya ada satu dua orang yang mengikuti Pak Haji di belakang.
            Aku mulai resah lagi dengan keadaan ini. Aku tahu dengan betapa pentingnya keberadaanku di sini. Namun, apakah aku hanya akan bertemu dengan orang yang sama setiap hari? Saudara-saudaraku di luar sana pasti bertemu dengan orang banyak. Mereka pasti menyaksikan bermacam-macam aktivitas. Tidak seperti aku. Sepi, sendiri, dan hanya melihat hal yang sama setiap hari. Di tengah keresahanku, tiba-tiba pada suatu hari Pak Haji menaiki kursi dan menggapaiku. Pak Haji? Apa yang ingin kau lakukan terhadapku? 
            “Sebenarnya sudah lama aku ingin memindahkanmu,” ia berbicara kepadaku. Aku tidak lagi diletakkan di depan imam, tetapi diletakkan di atas dinding tepat di depan ma’mun. Ada nuansa berbeda ketika aku diletakkan di sini. Aku dapat melihat sekeliling lebih luas dari sebelumnya. Aku bahkan dapat melihat lingkungan di luar mushalla lewat jendela. Sesuatu yang tidak mungkin aku lakukan sebelumnya.
            “Nah, di sinilah kamu sekarang. Aku yakin mereka pasti dapat melihatmu dari luar mushalla sana. Semoga dengan ini, mereka dapat mengingat waktu shalat dan mau datang ke mushalla lagi,” ujar Pak Haji seraya tersenyum bangga menatapku. “Semoga dengan melihatmu, mereka sadar bahwa waktu akan terus berjalan. Ia tidak akan pernah berhenti.” Pak Haji menatap pilu. Ia menghembuskan nafasnya sambil tertunduk lesu. Aku memahami kesedihannya. Ia merasa kasihan dengan mushalla ini. Mushalla yang dulunya dibangun dengan penuh suka cita. Kini hanya sebuah tempat yang sepi dan sangat terasing.
            Tapi tunggu dulu. Hei! Aku melihatnya lewat jendela mushalla. Aku mengenal bentuk itu, meskipun berada sangat jauh dariku. Aku sudah lama mendambakan untuk bertemu dengannya.
***
            “Aku langsung dipasang di sini sejak dibawa dulu,” kata saudara besar. Ia berada di atas sebuah tugu. Sangat gagah. Sekelilingnya adalah persimpangan jalan yang ramai dilewati orang-orang. Beberapa orang berjalan di sana. Mereka menikmati pemandangan tugu. Aku rasa, keberadaan saudara besar merupakan salah satu daya tarik bagi mereka. “Aku tidak tahu ternyata kau berada tidak jauh dariku,” lanjutnya lagi. Kami berbicara dengan bahasa yang tidak akan pernah dimengerti oleh orang-orang. Hanya kami dan saudara-saudara kami yang memahaminya.
            “Baru kemarin aku dipindahkan ke tempat ini. Dulunya aku berada di dinding yang berbeda,” jawabku singkat. Tiba-tiba saja aku merasa malu ia mengetahui keberadaanku di sini. Betapa eloknya ia berada di sana. Semua mata memandangnya pada saat melewati tugu. Ia selalu bertemu dengan orang yang berbeda di setiap harinya. Tidak hanya itu, keramaian yang ada di sampingnya itu, tidak akan membuatnya kesepian. Sedangkan aku?
            Meskipun aku menjawab sekenanya, ia terus menceritakan pengalamannya berada di sana semenjak pertama kali dipasang. Aku hanya mendengarkannya. Hingga tiba-tiba saja ia bertanya denganku. “Bagaimana dengan kamu di sana?” Aku terkejut dengan pertanyaan tersebut. Apa yang harus aku ceritakan kepadanya? Akhirnya aku putuskan untuk bercerita seadanya. Meskipun aku masih malu-malu, aku menceritakan tentang Pak Haji, mushalla, shalat, jumlah orang yang semakin sedikit datang, sampai pada kesedihan Pak Haji karena mushalla yang semakin sepi. Saudara besar mendengarkanku dengan seksama. Tiba-tiba ia berdenting sangat nyaring. Dua belas kali.
            “Aku sengaja dibuat dengan suara yang sangat nyaring, karena memang nantinya aku akan diletakkan di tempat ramai seperti ini,” jelasnya kepadaku. Aku memikirkan diriku sendiri. Aku tidak pernah berbunyi. Hanya ada suara tik tok. Betapa jauhnya aku dengan Saudara Besar. Tiba-tiba Pak Haji datang tergopoh-gopoh. Ia langsung melihat kepadaku. Aku baru sadar bahwa ia terlambat memanggil orang-orang untuk datang ke mushalla.
            “Mudah-mudahan shalat zhuhur kali ini banyak yang datang,” ucapku lirih.
            “Semoga,” sambung saudara besar. Rupanya ia mendengar selorohanku tersebut.
Pada akhirnya ia mengiyakan apa yang telah kuceritakan sebelumnya. Seusai shalat ia melihat betapa sedikitnya orang yang datang pada hari itu.
***
            “Beberapa hari lagi tahun baru!” Saudara besar berteriak kepadaku.
            “Tahun baru? Apa itu?” Tanyaku penasaran. Aku masih belum paham dengan apa yang ia maksud.
            “Semua orang akan bergembira menyambutnya. Semua orang akan meniup terompet, menyalakan kembang api, dan meneriakkan ‘Selamat Tahun Baru!’ Sebagian besar mereka akan berkumpul di sekelilingku,” jelas Saudara Besar bersemangat.
Memang ini adalah pertama kalinya aku dapat melihat luar mushalla lebih jelas. Aku mencoba mengingat-ingat saat keberadaanku masih di bagian depan imam. Dulu aku sepertinya pernah beberapa kali mendengar suara ledakan-ledakan dari langit diiringi suara sorak-sorak dari orang-orang. Mereka juga meneriakkan hal yang sama seperti yang diucapkan oleh saudara besar, yaitu “selamat Tahun baru!”  Bagiku mau kapanpun, tugasku tetap sama, yaitu mengingatkan waktu shalat. Rasanya tidak ada perbedaan di setiap harinya.
“Kau nanti akan melihatnya,” sambung saudara besar. Iya, aku akan melihatnya, tapi apakah aku akan menikmatinya? Tanyaku pada diri sendiri. Aku kembali tersadar, aku ingat akan suatu hal. Beberapa tahun ini, Pak Haji selalu menangis setiap kali melewati malam dengan penuh bunyi-bunyian itu. Aku menemuinya duduk sendiri di waktu subuh. Ia menunggu orang-orang berdatangan. Nihil. Sampai terbit fajar, ia masih seorang diri di mushalla.
“Mereka rela menunggu waktu menunjukkan angka dua belas, tetapi mereka lupa shalat. Mereka rela menghabiskan waktu malam dengan bersuka cita, tetapi saat panggilan itu tiba, mereka malah pulang dan tertidur pulas. Sampai kapan hal ini akan terus terjadi?” Pak Haji duduk bersimpuh. Matanya sembab oleh tangisannya. Aku terpaku menatapnya.
***
            Malam Tahun baru. Saudara besar berdenting sangat nyaring dua belas kali. Suara kembang api bersahut-sahutan di atas langit. Semua orang bersuka cita. Bunyi terompet di mana-mana. Aku hanya menatap pemandangan itu dari kegelapan mushalla. Meskipun begitu, aku menikmati pemandangan tersebut. Sejak aku dipindahkan di sini, inilah pertama kalinya aku melihatnya.
            “Nikmatilah,” teriak saudara besar di tengah-tengah ramainya orang-orang bergembira. Sepertinya ia sangat menikmati malam itu. Sedangkan aku? Gelapnya ruangan mushalla ini menjadi saksi betapa aku sangat kesepian.
            Tiba-tiba saja aku merindukan suasana ketika aku datang pertama kali ke tempat ini. Saat orang-orang bersegera pergi ke mushalla tatkala Pak Haji memanggil mereka. Saat ruangan ini penuh dengan orang yang melaksanakan shalat. Saat mereka mencintai tempat ini. 
            Aku ragu akan hal itu. Bahkan aku masih bertanya-tanya. Apakah subuh besok, mereka akan tetap datang ke mushalla? Atau untuk kesekian kalinya, Pak Haji kembali duduk sendiri menangisi orang-orang yang ingat dengan waktu tahun baru, tetapi lupa akan waktunya shalat.
***

Muhammad Qamaruddin
Kawah Condrodimuko Ashabul Kahfi
Di Akhir Tahun 2013


0 komentar:

Posting Komentar

apa komentar anda tentang bacaan ini?