Minggu, 13 Mei 2012

Road To 'Puncak Merapi' (Part I)


Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda marabahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin liku-liku hidup yang ujungnya tak dapat kusangka. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan. Aku ingin merasakan sari pati kehidupan.” (Andrea Hirata)


Untaian kalimat bersajak tersebut terpampang jelas di papan pengumuman PP UII. Para santri yang penasaran segera menghentikan langkahnya. Gumaman demi gumaman silih berganti mengomentari tempelan kertas berhiaskan permainan kata Andrea Hirata tersebut. Jika diteliti dengan seksama, ternyata itu adalah sebuah kertas yang berisikan undangan. “Merapi, we are going.” Begitulah kiranya tema awal yang ada di kertas itu. Sebuah ajakan untuk mendaki gunung.

Memang ini bukanlah yang pertama. Apalagi jika melihat kehadiran SAPALA (Santri Pencinta Alam) yang pernah meraih masa kejayaannya beberapa waktu silam. Catatan sejarah membuktikan, komunitas ini telah melanglang buana menaklukkan beberapa gunung di tanah Jawa. Tak ada yang meragukan kehebatan mereka. Namun, akibat dari kevakuman yang begitu lama, akhirnya komunitas ini pun seakan ‘raib’ dari ranah pertapaan santri. Hilang entah kemana.
Dari sinilah awal ekspedisi bermula. Hanya sekedar untuk menyambung hasrat para santri yang haus akan riuk-riuk alam, maka setelah kegiatan ‘Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) OSPP UII periode 2011-2012, beberapa pengurus berinisiatif untuk mewujudkannya. Apalagi beberapa tahun terakhir, tak ada kegiatan yang dapat melimpahkan jiwa petualang para santri. Walhasil, 5 Mei 2012 menjadi tanggal penting dalam catatan sejarah PP UII. Beberapa santri akan menguji nyali mereka untuk menaklukkan salah satu pencakar langit, Gunung Merapi.
Saat Keberangkatan
            Delapan belas orang santri menyatakan ikut dalam ekspedisi yang akan menguras banyak tenaga ini. Mereka adalah Husein, Muhammad Ali, Lathief, Aan, Zulfikar, Yasin, Faisal, Aprilinandar, Yepi, dan Umam dari angkatan 2011; Iqbal Zen, Fadhol, Irham, dan Qamaruddin dari angkatan 2010; Muflihin, Hasan al-Antor, dan Puguh dari angkatan 2008. Beserta salah satu alumni FIAI UII, Mas Yasir.
            Hari Sabtu (5/5), pukul 13.00 WIB adalah waktu yang telah ditentukan untuk berkumpul. Satu persatu peserta datang berkumpul di halaman depan asrama PP UII. Ransel-ransel pendaki gunung mulai memenuhi tempat. Masing-masing individu menyiapkan ‘perkakas-perkakas’ yang diperlukan. Satu sama lain saling mengingatkan, apa saja yang harus dibawa. Tentunya dalam benak mereka, ini bukanlah perjalanan mudah. Apalagi setelah dinyatakan, ini adalah pengalaman pertama untuk semua peserta. Alias tidak ada orang yang berpengalaman (baca: profesional) yang akan menyertai dalam rombongan ini. Walaupun begitu, tak ada kata mundur sedikitpun. Perjalanan akan tetap dilaksanakan. “Allah selalu bersama kita,” ucap salah satu peserta kala itu.
            Pukul 15.00 WIB, adzan berkumandang. Semua peserta telah terkumpul dengan persiapan yang ala kadarnya. Tanpa mengganti baju yang telah dipersiapakan untuk perjalanan, seluruh peserta mengerjakan shalat Ashar berjamaah terlebih dahulu di masjid PP UII. Suasana tampak khusyuk sekali.
            Usai shalat Ashar, Hasan al-Antor selaku koordinator kegiatan meminta sedikit wejangan dari Ust. Muhammad Roy, MA. Dengan khidmat, peserta daki gunung dan santri-santri lain pun ikut mendengarkan nasehat dari beliau. Pada intinya, beliau sangat mendukung adanya kegiatan ini. Bahkan ada keinginan untuk ikut bergabung dalam perjalanan tersebut. Namun karena adanya kesibukan lain, keinginan tersebut terpaksa harus ditahan.
Sore itu, selain memberikan trik-trik untuk mendaki gunung, Ust. Roy –begitu beliau sering disapa- juga menggambarkan bagaimana kondisi jalan yang akan kami hadapi di Gunung Merapi. Semua itu semakin membuat para peserta penasaran. Pada akhir percakapan, Ust. Roy memimpin doa untuk keselamatan rombongan.
            Tibalah saatnya keberangkatan. Sepuluh motor telah dipersiapkan. Dengan mengucapkan bismillah, rombongan memacu gas motor masing-masing dan lambat laun melangkah pergi dari pondok pesantren.
 
Dalam Perjalanan
                      Gunung Merapi terletak pada perbatasan DI Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah. Ia berdiri tegak ‘sombong’ pada empat wilayah kabupaten; yaitu Boyolali, Magelang, Klaten (Jawa Tengah), dan Sleman (DI Yogyakarta). Berdasarkan Geograpich Positioning System (GPS), setelah terjadinya erupsi 2006 dan 2010, ketinggian puncak hanya mencapai 2.800 meter dari permukaan air laut. Itu jauh berkurang dari tinggi sebelumnya, 2.965 meter, atau yang sering disebut orang sebagai Puncak Garuda Merapi. Pendaki saat ini hanya bisa sampai ke bibir kawah mati (2.800 m).
            Setidaknya ada empat jalur yang dapat ditempuh untuk mendaki gunung Merapi. Mulai dari Deles Kabupaten Klaten, Kinahrejo Sleman, Babadan-Dukun Magelang, dan New Selo Boyolali. Sayangnya, setelah erupsi 2006, hanya jalur pendakian melalui Selo yang dibuka. Jalur pendakian inilah yang saat itu sedang dituju oleh rombongan pendaki PP UII.
Sekitar pukul 16.00 WIB, rombongan sampai di pom bensin pertama di jalan Magelang. Kesepakatan bersama, di tempat inilah para peserta harus mengisi bahan bakar motor mereka masing-masing. Tepat setelah semua telah mengisi bensin, gerimis mulai turun. Tak ayal lagi, seluruh peserta mengeluarkan mantel hujan. Bukannya berkurang, hujan kala itu semakin deras. Bahkan langit pun semakin meredup tertutup awan hitam tebal. Inilah tantangan pertama untuk peserta! Perjalanan sedikit terhambat. Kecepatan motor dikurangi. Tak ada yang ngebut-ngebutan. Terlalu berisiko dalam keadaan cuaca seperti itu. Alam seakan tak ragu-ragu lagi menumpahkan air sebanyak-banyaknya ke tanah bumi. Rombongan terus berpacu dengan keganasan hujan yang deras.
Sempat terjadi miscommunication, sehingga rombongan terpisah menjadi dua. Jalur yang seharusnya dijalani, terlewati oleh tujuh motor. Hanya tiga motor yang mengambil jalur yang benar. Kejadian ini terjadi di sekitaran daerah Muntilan. Tentu saja hal ini membuat perjalanan sedikit terhambat. Setelah menunggu hampir setengah jam  lamanya, akhirnya tiga motor tersebut datang untuk memberi tahu jalur yang benar.

Perjalanan Sempat Terhenti
            Pukul 17.30 WIB, ketika akan memasuki daerah Selo, salah satu ban motor yang ditumpangi peserta bocor. Perjalanan pun terhenti sesaat. Seraya menunggu, para peserta menikmati hidangan hangat angkringan yang tepat berada di samping tambal ban. Riuh canda bersahut-sahutan. Tak ada yang menunjukkan wajah muram. Seloroh tawaan memenuhi angkringan. Tak pula juga satu sama lain memberikan semangat dan motivasi, karena perjuangan belumlah dimulai, tapi akan segera dimulai. Sebentar lagi!
            Pukul 18.00 WIB lebih, rombongan melanjutkan perjalanan. Diperkirakan hanya tinggal satu jam lagi, maka rombongan akan tiba di base camp tempat para pendaki berkumpul. Memasuki Dukuh Plalangan, Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, jalur semakin membuat jantung berdetak cepat. Jalan menanjak dan menurun silih berganti. Sedangkan alam mulai menahan derasnya hujan. Hanya gerimis-gerimis kecil. Sayup-sayup terlihat dua raksasa berdiri tegak di hadapan rombongan. Gunung Merapi dan Gunung Merbabu! Bukti nyata kekuasaan Tuhan.
            Pukul 19.40 WIB, setelah rombongan mengecek base camp pendaki Gunung Merapi, rombongan berbalik arah untuk menuju Mushalla terdekat. Shalat Jamak Ta’khir segera dilaksanakan. Lagi-lagi alam menyiram bumi. Walau tak sederas pada saat perjalanan pertama, hal ini juga membuat rombongan merenung sejenak, bagaimana jika saat pendakian hujan tidak juga berhenti?
            Untungnya setelah agak lama beristirahat di Mushalla, alam pun mulai berdamai. Hanya bulir-bulir kecil menimpa wajah. Rombongan kembali menuju base camp. Di sanalah para pendaki berkumpul. Diperkirakan ada sekitar 200 orang lebih pendaki yang telah berkumpul di sekitar situ.  Rombongan beristirahat di salah satu ruangan yang ada di base camp. Sambil menikmati makan malam yang sudah dipesan, rombongan menyiapkan segala sesuatunya.
            Pukul 21.30 WIB, rombongan mulai melangkah keluar base camp. Koordinator rombongan mendaftarkan diri terlebih dahulu. Pendaftaran ini dilakukan sebagai wujud  antisipasi. Apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, maka tim penyelamat akan segera bertindak. Tak berapa lama kemudian, sebelum keberangkatan, rombongan membentuk lingkaran besar di tengah jalan. Hasan Al-Antor memberikan sedikit nasihat.
            “Luruskan niat. Mudah-mudahan semuanya selamat sampai ke atas. Terus berdoa dan teruslah mengingat Allah,” ujarnya sembari menutup dengan doa. Pukul 21.45 WIB, rombongan mulai melangkahkan kaki meninggalkan base camp. Gelap malam dan kabut tebal menutup kemegahan Gunung Merapi. Bahkan bintang tak satu pun keluar dari persembunyiannya. Bulan lari dari pandangan. Yang ada hanya kegelapan malam. Senter bertindak sebagai penerang alam, tapi hanya untuk yang memegangnya. Langkah mulai terasa berat, karena jalan aspal yang menanjak. Tak berapa lama lagi, rombongan akan tiba pada area NEW SELO, tempat masuk area pendakian Gunung Merapi. Di situlah perjalanan ini dimulai!
             
To be continued

(di posting juga di website Pondok Pesantren UII http://pesantren.uii.ac.id/)

0 komentar:

Posting Komentar

apa komentar anda tentang bacaan ini?