Minggu, 13 Juli 2014

ISLAM UNTUK SEMUA


 
Islam berasal dari kata Arab Aslama-Yuslimu-Islaman yang berarti 'Menyelamatkan. Secara bahasa, Islam bermakna berserah diri, tunduk, patuh dan taat. Menurut Muhammad bin Abdul Wahab, Islam adalah menyerahkan diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya tunduk kepada-Nya dengan penuh ketaatan dan berlepas diri dari kesyirikan dan orang-orang musyrik.

                Ialah Muhammad, sang pembawa risalah Islam. Kehadirannya memberikan kesejukan bagi seluruh alam. Ialah sang revolusioner dunia yang membawa Kaum Arab dari zaman kegelapan menuju zaman penuh cahaya. gelap bukan pada mata, tetapi gelap pada keimanan. Rasulullah-lah yang mengenalkan mereka pada Allah Yang Esa, Pemberi Cahaya.
                Seringkali dalam ceramah-ceramah, kita diklaim sebagai agama dengan penganut terbesar kedua di bawah Kristen. Saat ini, klaim tersebut sudah tidak berlaku lagi. Dari data yang saya dapatkan, Jumlah penduduk dunia (2013) adalah 7.021.836.029. Sebaran menurut agama adalah: Islam 22.43%, Kristen Katolik 16.83%, Kristen Protestan 6.08%, Orthodok 4.03%, Anglikan 1.26%, Hindu 13.78%, Budha 7.13%, Sikh 0.36%, Yahudi 0.21%, Baha’i 0.11%, Lainnya 11.17%, Non Agama 9.42%, dan Ateis 2.04% ((www.30-days.net)
                Jumlah pemeluk Islam pada 2012 adalah 2.1 milyar. Sedangkan jumlah pemeluk Kristen dan Protestan adalah 2 milyar . Sehingga Islam saat ini, kendati dibandingkan dengan pemeluk Kristen dan Protestan sekalipun, sudah menjadi agama terbesar di dunia (www.religiouspopulation). Subhanallah!!
                Tentu orang akan bertanya-tanya, Siapa sih Rasulullah itu sehingga dapat melakukan revolusi besar-besaran ini? Ia telah ditinggalkan ayahnya, Abdullah saat masih saat di dalam janin. Pada usia 6 tahun, Ibunya Aminah pun beranjak pergi menyusul sang ayah. Jadilah ia seorang anak yatim piatu yang diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Dua tahun kemudian, giliran Abdul Muthalib menghembuskan nafas terakhir. Ia kemudian diasuh oleh pamannya Abu Thalib, pamannya yang paling miskin. Sejak diasuh oleh kakek pamannya, Muhammad selalu menunjukkan sifat-sifat yang baik lagi terpuji.  
Ketika usianya mencapai 12 tahun, ia mengadakan perjalanan ke Syam bersama pamannya. Ketika sampai di Bushra seorang pendeta bernama Buhaira melihatnya. Ia mengenalnya dengan ciri-ciri yang ada pada Muhammad. Buhaira mendatangi Muhammad, mengambil tangannya dan berkata: “Inilah tuan untuk semesta alam, inilah utusan Rabb semesta alam, inilah nabi yang akan diutus untuk semesta alam.” Kalimat misterius dari Buhaira terjawab saat Rasulullah menginjak umur 40 tahun.
Berbicara tentang dakwah Islamiyah, saya sendiri berpendapat bahwa Rasulullah tidak pernah mengajarkan umatnya berdakwah dengan jalan kekerasan. Rasulullah selalu berdakwah dengan cara yang paling baik dan paling halus. Tidak pernah sekalipun Rasulullah berdakwah hingga melukai hati orang lain. Betapa banyak orang yang masuk Islam karena akhlaq al-karimah Rasulullah.
Memang dalam sejarah Islam ada banyak peperangan yang terjadi, tetapi itu semata-mata untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Betapa lama Rasulullah bertahan dengan segala siksaan dari kaum kafir. Hingga pada akhirnya, Allah mengizinkan Rasulullah beserta umatnya untuk membela diri. Saya tidak setuju dengan perumpamaan orang-orang, bahwa Islam itu di tangan kanannya al-Qur’an, sedangkan tangan kirinya pedang. Sungguh kolot pemikiran orang-orang seperti itu.
Begitu pula perjuangan dakwah di ranah mahasiswa. Sosok-sosok yang dikenal intelek dan mumpuni dalam hal pemikiran. Tentu ada cara dakwah tersendiri bagi mereka. Bagi para pejuang dakwah, kita harus memikirkan cara dakwah yang paling baik.
Suatu ketika, saya pernah berbincang-bincang dengan Ketua Lembaga Dakwah Kampus (LDK) UII periode 2012-2013. Saya memanggilnya Bang Ojik. Saat ini kami hanya bisa berhubungan via telepon, karena beliau sudah tidak tinggal lagi di Yogyakarta. Ia menanyakann saya tentang perkembangan dakwah di UII. Bagaimana peran LDK dalam dalam dakwah kampus UII.
Bang Ojik –menurut pengamatan saya– adalah orang yang sangat keras. Tidak hanya badannya yang besar, tetapi juga suaranya menggelegar. Hal itu tidak serta merta membuatnya setuju dengan cara dakwah yang keras. Saat masih sama-sama berjuang di jalan dakwah, saya sangat ingat bagaimana dia menggambarkan kepada mahasiswa-mahasiswa di luar sana, bahwa Islam itu untuk semua mahasiswa, Islam itu untuk semua mahasiswa, bukan hanya untuk LDK dan LDF. Ia mengajak kepada seluruh mahasiswa untuk ikut bergabung dan belajar tentang Islam. Saya salut dengan cara beliau tersebut.
Islam itu rahmatan lil ‘alamin. Artinya bahwa seluruh makhluk harus –dan pasti– mendapatkan rahmat dari Islam itu sendiri. Hanya saja pada saat ini, eksklusivitas dalam agama mulai bermunculan. Tidak hanya fraksi antar agama, tetapi juga fraksi di dalam agama itu sendiri. Islam mulai dikotak-kotakkan. Mereka memisahkan diri, lalu saling menjelek-jelekkan satu sama lain. Berapa banyak orang yang terkucilkan karena hal tersebut, berapa banyak orang yang terpisah dari keluarganya karena hal tersebut, bahkan berapa banyak orang mati sia-sia karena hal tersebut. Seakan-akan mereka telah mengklaim bahwa mereka memiliki kavling di surga. Yang lain hanya numpang.
Saya sangat membenci dakwah dengan cara radikal. Gusdur berkata, “Tuhan itu tidak memerlukan bodyguard.” Artinya jangan berfikir bahwa kitalah yang berkontribusi besar dalam melindungi agama. Justru karena Allah sendirilah yang menjadikan agama itu terlindungi. Silahkan berjuang untuk agama, tetapi bukan dengan cara yang radikal. Karena Islam tidak pernah mengajarkan seperti itu. Apakah sebegitu perkasanya kita, sehingga berani mengaku dapat melindungi Tuhan yang Paling Perkasa?
Munir adalah seorang aktivis yang memperjuangkan Hak Asasi Manusia. Ia sosok yang anti penindasan. Mungkin banyak orang mengira sepanjang hidupnya terus memperjuangkan HAM. Ternyata tidak. Justru ada rentan waktu lama sampai pada akhirnya ia menemukan titik cerah. Pada tahun 1985-1989, ia merupakan orang yang sangat radikal. Tasnya tidak pernah kosong dari yang namanya senjata tajam. Hingga suatu ketika, ia mendapatkan nasehat dari Pak Fajar Malik (Saat itu masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan). Beliau berkata kepada Munir, kurang lebihnya seperti ini, “Kamu adalah orang yang paling bodoh yang pernah kukenal yang mempunyai semangat berjuang, tetapi melakukan hal tersebut atas nama instrumen agama.” Kalimat ini terus teriang-ngiang di telinganya. Hingga pada akhirnya, ia memutuskan untuk menjadi pejuang HAM.
Terlalu banyak yang harus dikorbankan dalam ekstrimitas agama. Terlalu sangar jika agama dipandang dengan eksklusivitas. Terlalu rendah Islam jika hanya dihuni oleh sekelompok orang yang mengaku sudah memiliki surga. Terlalu remeh jika Islam hanya dihuni orang yang hanya bisa mengkafirkan saudaranya yang lain. Terlalu sederhana jika Islam hanya dimiliki oleh segelintir orang yang merasa sok suci. Apakah Islam seperti ini yang diinginkan oleh Rasulullah?
                 saya ingin Islam itu dihuni oleh orang-orang yang berhati lembut, bukan orang-orang yang suka mengajak ribut. Saya ingin Islam itu bersama orang-orang yang mengajak, bukan orang-orang yang menginjak. Saya ingin Islam itu bersama orang-orang yang bersenyum lebar, bukan orang-orang yang bermuka sangar. Saya ingin Islam itu dihuni oleh manusia-manusia penuh cinta, bukan manusia-manusia pencari harta. Islam yang diajarkan oleh Rasulullah itu adalah kebersamaan, bukan saling mengkotak-kotakan. Islam yang penuh toleransi, bukan yang arogansi.

Muhammad Qamaruddin
Renungan di Malam ba’da Tadarus, 9 Ramadhan 1435 H

0 komentar:

Posting Komentar

apa komentar anda tentang bacaan ini?