Rabu, 02 Juli 2014

MEMORI RAMADHAN DARI TAHUN KE TAHUN (PART II)





Tahun 2010
            Bulan puasa tahun 2007 di Pondok Pesantren di Kota Martapura. Tahun 2008 di Negeri tetangga, Brunei Darussalam. Tahun 2009 di Ibukota Kalimantan Selatan, Banjarmasin. Apakah pada tahun 2010, saya bertemu bulan puasa di kota yang sama? Ternyata tidak. Saya menjalani puasa selama tiga minggu di Yogyakarta.

            Tidak hentinya saya berpetualang dari satu kota ke kota yang lain. Kali ini saya singgah di salah satu kota yang sangat terkenal di Indonesia, Yogyakarta. Inilah kota pertama yang saya tinggali ketika menyambangi tanah Jawa. Untuk kesekian kalinya, saya harus berbenturan dengan budaya yang baru. Budaya yang sangat jauh berbeda dari budaya asli saya. Budaya orang Banjar, lebih dekat dengan budaya orang Melayu.
Konon katanya orang Banjar itu serumpun dengan orang Melayu yang ada di Malaysia dan di Brunei. Oleh karena itulah, biasanya ayah saya sering mengatakan bahwa kita ini adalah orang Melayu Banjar. Di sisi lain, saya masih belum begitu mengenal budaya Jawa. Mungkin inilah kesempatan saya untuk memahami budaya ini.
            Sekedar info, pada saat saya kuliah di IAIN Antasari Banjarmasin, saya ditawari oleh sepupu saya untuk mengikuti tes beasiswa santri unggulan di salah satu kampus yang ada di Yogyakarta. Nama kampus tersebut adalah Universitas Islam Indonesia (UII). Kebetulan beliau adalah alumni kampus tersebut. Saat ini beliau telah menjadi dosen di Fakultas Syariah IAIN Antasari.
            Setelah beristikharah, saya memutuskan untuk menerima tawaran tersebut. Karena tidak ada jurusan muamalah di UII, maka mau tidak mau saya harus mengulang kuliah. Untungnya masih ada beberapa nilai mata kuliah yang bisa ditransfer. Kala itu saya memutuskan untuk masuk ke prodi Ekonomi Islam. Menurut saya jurusan ini tidak terlalu jauh berbeda dengan jurusan Muamalah. Singkat cerita, saya lulus seleksi beasiswa santri unggulan. Dengan kata lain, saya bisa kuliah di UII tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun. Full Scholarship.
Pengalaman satu tahun menjadi mahasiswa di IAIN membuat saya tidak terlalu “buta” dengan dunia kampus. Terus terang, sampai saat ini, kenangan saya selama satu tahun di Kota Banjarmasin masih terekam jelas di otak saya. Lain kali saya akan bercerita tentang kenangan manis di kota seribu sungai tersebut.
            Di awal-awal hijrah ke Yogyakarta, saya langsung bertemu dengan bulan Ramadhan. Karena saya berstatus santri di Pondok Pesantren UII, kami diberdayakan oleh pihak pondok layaknya santri. Yang saya maksud di sini adalah distribusi imam dan pengisi kultum. Tidak jauh berbeda ketika saya berada di Banjarmasin, di Kota ini pun saya harus mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan di Pondok Pesantren. Bedanya saya tidak mempunyai jadwal tetap di Banjarmasin. Di Kota Yogyakarta, kami –santri baru– dibuatkan jadwal tetap.
            Setiap selesai shalat tarawih, kami bersama santri lama pergi ke masjid-masjid terdekat untuk ikut tadarus. Jadwal tadarus telah dibagi sedemikian rupa. Beruntung untuk tugas yang satu ini kami dicampur dengan santri lama. Paling tidak ada orang yang sudah mengerti “lapangan”. Bayangkan jika tugas ini hanya diemban oleh santri baru, bisa jadi kami bakal kebingungan. Apalagi pada saat itu, kami belum satu bulan tinggal di Yogyakarta.       
Selain itu, saya bersama santri baru lainnya diberi jadwal untuk mengajar TPA. Bagi saya sendiri yang bukan orang asli Jawa, mengajar TPA di Yogyakarta adalah tantangan tersendiri. Sering sekali saya “ga nyambung” jika berkomunikasi dengan anak-anak Jawa. Masalahnya adalah pada bahasa. Yang ditanya apa, yang dijawab apa. Yang dipahami apa, yang dijelasin apa. Memang itu masalah, tetapi justru hal tersebut menjadi sebuah tantangan. Saya benar-benar berusaha untuk belajar Bahasa Jawa. Meskipun akhirnya saya baru mendapatkan kemajuan berbahasa Jawa pada saat KKN tahun 2013.
            Satu kultur yang harus saya temui di sini adalah budaya Muhammadiyah yang sangat kental. Kota Yogyakarta adalah kota lahirnya pendiri organisasi besar ini. Maka tentu saja mayoritas masyarakat “bermadzhab” Muhammadiyah. Saya tidak menafikan bahwa saya orang nahdiyyin tulen. Selama saya menjalankan aktivitas ibadah, baru pertama ini saya bersinggungan langsung dengan wilayah mayoritas muhammadiyah. Saya memang sering mendengar tentang organisasi besar ini sejak berada di Pondok Pesantren. Tetapi karena pondok pesantren saya menerapkan apa yang diterapkan kebanyakan pada masyarakat Banjar (Nahdiyyin), makanya saya tidak terlalu mengenal tentang Muhammadiyah.
            Meskipun begitu, saya merasa sangat beruntung bisa tinggal di Yogyakarta dengan kultur Muhammadiyahnya. Terus terang, dulu saya sangat fanatik dengan ke-Nu-an saya. Sekarang, saya memahami kenapa saya mengerjakan seperti ini dan kenapa mereka mengerjakannya seperti itu. Ada perbedaan dalil dan cara memahaminya. Ini berpengaruh pada aplikasi. Dalil yang sama dengan cara pemahaman yang berbeda akan menghasilkan praktik yang berbeda pula. Apakah ini salah? Tidak sama sekali. Kita dapat menengok pada madzhab fiqh yang jumlahnya sampai empat. Mereka adalah Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Maliki, dan Imam Hanbali. Mereka semua benar. Jiwa toleransi saya benar-benar terbangun di Kota ini. Kita harus saling menghargai satu sama lain dan jangan saling menyalahkan.
            Jika tarawih sebelumnya saya selalu mengerjakan sebanyak dua puluh rakaat plus tiga rakaat witir. Maka di sini, saya mendapati delapan rakaat plus rakaat. Formasinya pun beragam. Ada yang dua rakaat satu  kali salam. Ada pula empat rakaat satu kali salam. Ada witir yang tiga rakaat satu kali salam. Ada juga yang dua rakaat terlebih dahulu, lalu satu rakaat berikutnya sebagai penutup. Sesuai dengan kebiasaan dari masing-masing jamaah di masjid tersebut.
Ketika menjadi santri baru, saya cuma bisa menjadi ma’mum. Kelak nanti saat menjadi santri lama, saya tidak menghindari untuk menjadi imam dengan delapan rakaat tarawih (Simak cerita saya pada tahun 2013; masa-masa KKN).
            Sekitar seminggu sebelum lebaran, saya memutuskan untuk pulang dan berlebaran di kampung halaman. Memang ada yang tetap tinggal di pondok pesantren, tetapi itu cuma beberapa. Kebanyakan yang rumahnya jauh, misalnya Aceh, Sulawesi, atau yang memang berniat tinggal di Yogyakarta. Bagi saya sendiri, saya lebih memilih untuk pulang dan merayakan hari idul fitri di rumah. Ini lebih baik daripada melakukannya di kampung orang tanpa keluarga seorangpun.
            Hikmah yang saya dapatkan pada bulan puasa kali ini adalah terbangunnya jiwa toleransi saya. Sebelumnya, saya masih belum dapat menghargai perbedaan. Saya merasa benar sendiri. Setelah menginjak Kota Yogyakarta, ada nilai-nilai moral yang tertanam di dalam diri saya. Memang biasanya orang akan memusuhi sesuatu yang tidak diketahuinya. Setelah saya mengetahui banyak hal, pikiran saya menjadi terbuka. Tidak ada lagi saling menyalahkan. Yang ada adalah saling menghargai satu sama lain. Karena setiap orang mempunyai dalil. Sesungguhnya Islam itu terbangun dari kebersamaan, bahkan dari perbedaan sekalipun.

Tahun 2011
            Konsekuensi dari keputusan saya kuliah di Yogyakarta, saya harus tinggal di kota ini sampai kuliah saya selesai. Paling cepat tiga setengah tahun. Perlu diketahui, setelah lulus kuliah, santri yang telah mendapatkan beasiswa penuh wajib mengabdi di UII selama satu tahun. Peletakannya diserahkan sepenuhnya kepada UII. Menurut perhitungan, saya baru bisa balik ke Kalimantan pada tahun 2015! Inilah perjuangan dalam menuntut ilmu.
            Satu tahun telah terlewati di perantauan tanah Jawa. Banyak hal yang sudah saya pahami. Berbeda dengan satu tahun yang lalu. Saya cuma perantau yang tidak tahu menahu tentang Yogyakarta. Sekarang saya adalah seorang mahasiswa –sekaligus santri– yang memahami lingkungan Yogyakarta. Paling tidak saya sudah mempelajarinya selama satu tahun.
            Pada bulan puasa tahun ini, kami santri angkatan 2010 kebagian amanat untuk menjadi panitia Ramadhan di Pondok Pesantren. Bahana Syiar Ramadhan, atau biasa disingkat Basyira. Inilah nama panitia yang selalu dipakai dari tahun ke tahun. Seluruh kegiatan selama satu bulan diatur dan diurus oleh panitia.
            Saya tidak berada sebulan penuh di Yogyakarta. Bahkan tidak sampai setengah bulan. Alasannya adalah tiket pesawat yang saya pesan. Selain itu, entah kenapa saya ingin sekali menikmati suasana bulan Ramadhan di kampung halaman. Pada saat itu, saya memutuskan pulang lebih awal. Meskipun dengan berat hati meninggalkan kepanitiaan.
            Sebagai panitia, kami mengurusi jadwal imam, bilal, kultum ba’da isya dan ba’da subuh. Kami juga mengurusi jadwal tadarus di masjid-masjid sekitar. Tidak lupa kami menyusupkan beberapa acara seperti buka puasa bersama, penyediaan kurma dan ta’jil, seminar, dan lomba TPA. Acara terakhir merupakan acara paling besar di antara acara-acara yang lain. Alhamdulillah semua acara berjalan sukses dan lancar, meskipun saya tidak mengikuti semua rangkaian acara. Berita gembira yang saya dapatkan, dana yang kami peroleh setelah seluruh rangkaian acara selesai dilaksanakan. Setelah kami sampaikan kepada pengasuh mengenai hal tersebut, beliau memberikan kuasa penuh kepada angkatan kami untuk mempergunakan dana tersebut dengan sebaik mungkin. Dengan kata lain, dana itu diserahkan sepenuhnya untuk acara angkatan kami. Alhamdulillah.
            Ketika berada di rumah, saya membawa banyak buku. Semua buku tersebut harus saya selesaikan di rumah. Ada beberapa novel, buku-buku motivasi, buku non-fiksi, dan yang lainnya. Koper saya menjadi sangat berat karena buku-buku yang saya bawa.  Saya juga mempunyai beberapa target. Ada lima target yang saya buat. Ada lima hal yang harus saya kuasai dan nantinya saya lanjutkan di Yogyakarta. Kelima hal tersebut adalah Ekonomi berbasis syariah, sastra (cerpen, puisi, cipta lagu, dll), fiqh Islam, Bahasa (arab dan inggris), dan karya tulis ilmiah (PKM, artikel, opini, dll). Untuk mendukung hal tersebut, saya membuat jadwal. Kapan saya harus membaca novel, kapan saya harus belajar ekonomi syariah, kapan saya menelaah tentang cerpen dan berkarya. Pokoknya, kegiatan saya di rumah sangat padat. tentunya saya punya jadwal tersendiri untuk membaca al-Qur’an.
            Hikmah yang saya dapatkan adalah bahwa bulan puasa jangan sampai dilewatkan sia-sia. Pada bulan ini, kita harus meningkatkan ibadah. Perbanyaklah mengaji, perbanyaklah amal-amal shaleh. Allah menjanjikan akan melipatgandakan pahala ibadah pada bulan Puasa. Dan perbanyaklah juga amal-amal yang bersifat sosial. Apapun itu bentuknya.
            Ada kepuasan tersendiri pada saat saya bersama teman-teman seangkatan dapat merancang rangkaian acara selama bulan Ramadhan. Saya membayangkan, bagaimana jika tidak ada kepanitiaan yang mengurus ini. Tentu saja kegiatan puasa akan sangat kacau. Siapa imam dan kultum hari ini dan besok hari. Siapa jadwal mengaji di masjid-masjid sekitar. Siapa yang mengurusi buka puasa santri. Siapa yang mengurusi lomba-lomba khusus di bulan Ramadhan. Dan masih banyak hal yang itu hanya bisa dilakukan dengan kepanitiaan. Saya memang menjadi sibuk. Tetapi saya merasa bahwa kesibukan itu menjadi pahala bagi kepanitiaan. Bagi saya pribadi, jangan sampai kita hanya menjadi abid yang personal, sehingga mementingkan diri sendiri dalam mencari pahala. Justru kita juga harus berperan agar orang lain dapat beribadah dengan nyaman. Saya yakin Allah sangat menghargai orang-orang seperti ini.

Tahun 2012
            Lagi-lagi saya mendapati lingkungan berbeda di bulan Ramadhan. Pada tahun 2012, saya mempunyai amanat seperti Basyiro pada tahun 2011. Para mahasiswa juga telah mendapatkan liburan. Sebelumnya saya ada niat untuk tinggal di Yogyakarta. Tetapi tiba-tiba saja saya mendapatkan ide untuk melakukan hal lain. Saya memutuskan untuk pulang. Bukan pulang ke rumah, tetapi pulang untuk menjadi relawan. Iya! Saya memutuskan untuk mencari sebuah lembaga yang membutuhkan tenaga kerja di Banjarmasin.
            Akhirnya sebelum bulan Ramadhan, saya pulang ke rumah terlebih dahulu. Saya cuma tinggal beberapa hari tinggal di rumah. Setelah menjelaskan perihal keinginan saya kepada Ibu, saya berangkat ke ibukota, Banjarmasin. Tujuan saya saat itu adalah bertemu dengan sepupu saya yang menjadi dosen di IAIN Antasari Banjarmasin. Saya tahu beliau mempunyai banyak relasi yang dapat mewujudkan keinginan saya tersebut.
            Singkat cerita, beliau menunjukkan salah satu panti asuhan yang ada di kota Banjarmasin. Panti Asuhan ini bernama Yayasan Panti Asuhan Sentosa. Panti ini terletak di Daerah Jalan Belitung Darat Banjarmasin. Salah satu pengelolanya adalah alumni pondok Pesantren Darul Hijrah. Saya bersama sepupu pergi ke tempat tersebut. Setelah menjelaskan hajat saya, maka beliau menerima saya dengan senang hati.
            Keesokan harinya, saya membawa semua keperluaan saya ke sana. Saya akan tinggal di panti asuhan sampai mendekati lebaran. Saya diberikan tempat yang sederhana. Ternyata saya tidak sendiri. Ada tiga mahasiswa IAIN yang juga ikut bantu-bantu di sana. Mereka mendapatkan tugas dari kampusnya. Maka mulai hari itu, saya ingin menghabiskan waktu saya untuk membantu panti asuhan ini. Apapun yang bisa saya lakukan, maka akan saya lakukan. Karena memang itulah niat saya datang ke sini.
            Jumlah anak yang ada di Panti asuhan ini tidak lebih 50 orang. Semuanya adalah laki-laki. Yayasan menyekolahkan seluruh anak-anak tersebut. Oleh karena itu, pada pagi hari, panti ini akan terasa sangat sepi karena mereka berangkat ke sekolah masing-masing. Panti akan kembali ramai mendekati ashar.
Terdapat masjid yang sangat besar di dalam panti ini. Masjid ini tidak hanya digunakan oleh warga panti, tetapi juga warga sekitar. Selama bulan Ramadhan, masjid ini tidak pernah sepi dari jamaah.
            Pengelola panti mengenalkan saya kepada anak-anak yang ada di sana. Awalnya mereka sedikit canggung dengan saya. Apalagi mereka tahu saya kuliah di Yogyakarta. Mereka seakan-akan melihat saya sangat “tinggi”. Saya mencoba untuk bersikap sebiasa mungkin. Saya terus mendekati mereka agar mendapatkan respon baik. Saya bukanlah pendatang. Saya juga adalah orang Banjar. Setelah beberapa hari, saya bisa dekat dengan mereka, khususnya pada saat berbuka dan sahur.
            Berbicara tentang berbuka dan sahur, saya bersama teman-teman dari IAIN ikut makan bersama anak-anak. Ada sebuah tempat khusus untuk makan. Di sinilah salah seorang ibu membagikan makanan. Hampir setiap hari ada saja yang memberikan makanan, baik pada saat berbuka ataupun sahur. Kadang ada nasi kotak, kadang nasi bungkus. Pada saat bulan Ramadhan, anak-anak di Panti akan mendapatkan jatah makanan yang nyaman. Inilah berkah Ramadhan.
            Setiap selesai shalat tarawih, saya bersama teman dari IAIN mengajari anak-anak membaca al-Qur’an.Sebagian masih membaca Iqra. Itulah kegiatan yang saya lakukan setiap malam. Setelah semua anak-anak membaca al-Qur’an, baru saya melanjutkan bacaan al-Qur’an sendiri.
            Anak-anak sering diundang untuk berbuka puasa bersama. Kadang di panti asuhan, kadang diajak ke salah satu rumah warga. Saya mengikuti seluruh rangkaian kegiatan ramadhan di panti asuhan. Sering kali saya disangka pengelola. Jika ada yang bertanya tentang panti, maka saya jawab sepemahanan saya. Apabila ada yang tidak saya pahami, maka saya bertanya kepada salah satu pengelola.
            Saya juga diminta pengelola untuk melatih anak-anak dalam beroganisasi. Maka setelah mengonsep acara, maka panti asuhan mengadakan diklat keorganisasian selama tiga hari. Pemateri utamanya adalah saya. Setiap hari ada dua materi. Diklat dilaksanakan dari pagi sampai siang. Materi yang sampaikan antara lain tentang keorganisasian, struktur organisasi, fungsi divisi, pembuatan LPJ, pembuatan proposal, administrasi, dan lain sebagainya. Saya merasa sangat beruntung sekali dapat menyampaikan materi ini.
            Mendekati lebaran, saya pamit dengan seluruh warga panti asuhan. Masih ingat dibenak saya, mereka banyak sekali menitipkan barang-barang kepada saya. Mereka memberikan mie goreng, minyak, beras, gula, kue-kue kering, sampai parcel. Semua itu mereka berikan sebagai wujud terima kasih kepada saya yang telah membantu panti asuhan selama bulan Ramadhan. Mereka berharap semoga pada tahun-tahun berikutnya, saya dapat berkunjung kembali ke Panti asuhan.
            Hikmah yang saya dapatkan adalah bagaimana menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Pada bulan ini, memang jadwal saya tidak terlalu ketat. Kebetulan juga bulan puasa tahun ini, berbarengan liburan. Oleh karena itu, saya mencari kegiatan yang dapat mengisi kekosongan tetapi tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga orang lain. Ini adalah pengalaman pertama saya menjadi relawan di Panti Asuhan. Beruntung pengalaman saya selama di Pondok Pesantren sangat membantu saya.


Tahun 2013
            Kebetulan KKN mahasiswa pada tahun ini berbarengan dengan bulan puasa. Walhasil, beberapa minggu di bulan puasa saya lewati di tempat KKN. Ada banyak cerita yang saya dapatkan pada saat bulan puasa di tempat KKN. Banyak kenangan yang sampai saat ini tidak dapat saya lupakan. Kenangan ini sempat saya buat dalam bentuk cerita (cek tulisan “KKN 268” di blog saya).
            Sebagai mahasiswa KKN, kami dituntut untuk dapat membantu desa tempat kami ditempatkan. Pada saat itu, bersama enam orang lainnya, saya ditempatkan di Desa Srandakan, Bantul Yogyakarta. Desa ini berjarak sekitar satu jam dari asrama pondok pesantren. Meskipun tidak sebulan penuh, saya merasakan kehidupan masyarakat Yogyakarta secara langsung pada bulan puasa.
            Menurut pengamatan saya sendiri, sebenarnya desa ini sudah sangat maju. Tetapi entah mengapa UII masih meletakkan mahasiswa KKN di sana. Terus terang malah kami yang banyak belajar di sana. Saya mengucapkan terima kasih kepada warga, khususnya para remaja yang banyak sekali membantu kami selama KKN.
            Bulan puasa telah tiba pada saat kami sedang melakukan observasi. Pada saat itu masyarakat sedang mengadakan acara lomba untuk TPA-TPA sekitar desa. Kami ikut membantu meskipun belum masuk masa KKN. Dari acara itulah kami mengenal tokoh-tokoh penting di desa tersebut. Seperti kepala Dusun, Kepala RT (ada empat RT), Ketua-ketua organisasi, dan yang lainnya.
            Kami tidak tinggal di rumah kepala dusun. Kami tinggal di rumah Kepala RT 3. Kami memilih di rumah tersebut karena KKN dari UII sebelumnya juga pernah tinggal di sana. Untuk mahasiswi (ada tiga orang) tidur di kamar di dalam rumah. Sedangkan mahasiswa (ada empat orang) tidur di ruang tamu yang diatur sedemikian rupa. Kami juga memutuskan untuk memasak sendiri.
            Di desa ini, terdapat satu masjid dan dua mushalla. Seluruh kegiatan bulan Ramadhan dipusatkan di masjid. Satu mushalla berada di dekat rumah kepala dusun. Sedangkan satu mushalla digunakan untuk kegiatan TPA. Dalam rapat internal KKN 268, kami memutuskan untuk mengaktifkan tiga tempat ibadah ini. Kami akan bergantian untuk mengisi tempat ibadah tersebut. Baik itu hanya menjadi ma’mun pada saat shalat lima waktu dan tarawih, ataupun menjadi imam dan kultum. Jika di masjid, tamir sudah menyusun jadwal imam dan kultum sedemikian rupa. Maka di dua mushalla, para warga berharap banyak kepada mahasiswa KKN. Alhasil saya beberapa kali mengisi imam dan kultum.
            Para remaja sekaligus tamir masjid setiap hari selalu mengadakan ta’jil atau buka puasa bersama untuk anak-anak TPA. Biasanya ada jeda waktu sekitar setengah jam seraya menunggu waktu berbuka. Kami mahasiswa KKN diminta untuk mengisi setengah jam tersebut. Bisa ceramah, games, motivasi, dan yang lainnya. Semuanya diserahkan sepenuhnya kepada mahasiswa KKN.
            Program kerja individu saya banyak bersinggungan dengan anak-anak TPA. Saya mempunyai program menabung, mengajar Bahasa Arab, Tajwid, dan Qiraah. Beberapa program juga saya berikan kepada para remaja dan orang tua. Semua program individu baru kami laksanakan setelah bulan puasa. Kami melengkapi program bantu masyarakat pada bulan Ramadhan.
            Ada program lain yang selalu kami kerjakan dari hari senin sampai jumat, yaitu mengajar TK dan PAUD. Saya lebih banyak mengajar di TK. Pengajaran di PAUD diserahkan kepada para mahasiswinya. Untungnya sebelum KKN, saya tidak asing dengan pengajaran TPA. Terlalu banyak kisah indah yang saya rasakan pada saat KKN. Yang pastinya, pengalaman berharga ini tidak pernah akan saya lupakan.
            Hikmah yang saya dapatkan adalah bahwa kita harus menghormati tradisi orang lain. Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Ketika saya tinggal di desa KKN, banyak hal yang saya pelajari dari masyarakat setempat. Khususnya tentang tradisi yang ada di sana. Saya tidak mungkin memaksakan kebiasaan saya sebagai mahasiswa, apalagi kebudayaan saya di Banjar untuk dibawa ke sini. Mungkin bisa, tetapi hanya pada ranah yang baik-baik saja. Sehingga saya sangat menghormati tradisi dan adat yang ada di desa tersebut. Selama itu tidak bertentangan dengan agama. Saya bersama teman-teman satu unit dapat diterima oleh masyarakat karena cara kami bersikap dan bergaul. Seorang mahasiswa, meskipun dianggap sangat berpendidikan, tetapi jika memisahkan diri, atau tidak mau bergaul, niscaya dia pasti akan dikucilkan masyarakat. Kami tidak menginginkan hal tersebut. Kami harus membangun kepercayaan masyarakat terhadap kami, agar kiranya kami dapat melaksanakan program kerja dengan baik.

2 komentar:

  1. Mantab mas, semoga wonotingal menjadi kenangan kelak

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mas. Wonotingal akan selalu menjadi kenangan. :-)

      Hapus

apa komentar anda tentang bacaan ini?