Rabu, 03 Desember 2014

AL-QUR’AN DAN ILMU PENGETAHUAN



Oleh: Muhammad Qamaruddin

Beberapa waktu silam, saya mengikuti stadium generale pasca sarjana Universitas Islam Indonesia. Tema yang dibahas cukup menarik, yaitu tentang al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan. Untuk memenuhi dahaga ilmu para mahasiswa pasca sarjana, maka panitia menghadirkan tokoh yang sangat berkompeten di bidang ini. Beliau dalah Pak Agus Purwanto, M.Sc., D.Sc. Beliau adalah staf pengajar Jurusan Fisika FMPIA ITS Surabaya yang juga menjadi penggagas Pesantren Sains (TRENSAINS). Bukunya yang berjudul Ayat-Ayat Semesta telah dibedah tidak hanya di  dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Dari pemaparan beliau, terakhir buku ini masuk pada pameran buku di Paris.

Saya memang berlatar belakang ekonomi Islam, tetapi tema sains dalam agama bukanlah hal baru bagi saya. Sewaktu masih menjadi santri di Pesantren UII, saya pernah mendapakan mata kuliah Islam dan Sains. Pada mata kuliah ini, kami membahas banyak hal berkaitan dengan sains  yang ada di dalam al-Qur’an. Pada saat itu, saya mendapat jatah untuk mempresentasikan masalah tentang teori terbentuknya alam semesta menurut al-Qur’an.
Dalam pembahasan tersebut, dinyatakan bahwa Al-Qur’an pada empat belas abad yang lalu, ketika manusia masih memiliki pengetahuan yang amat terbatas tentang alam semesta, menerangkan tentang penciptaan alam semesta. Firman Allah SWT:
”Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Qur’an Surat Al-Anbiya’ : 30)
Ayat tersebut sangat cocok dengan Teori Big Bang. Bahwa langit dan bumi (alam semesta) pada mulanya adalah satu padu, lalu terpisah. Bila dikaitkan dengan teori Big Bang, pemisahan tersebut adalah melalui ledakan dahsyat. Al-Qur’an juga menerangkan bahwa alam semesta meluas. Hal itu tercantum dalam ayat:
”Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya” (Qur’an Surat Az-Zariyat : 47)
Sebetulnya masih banyak teori-teori lain tentang penciptaan alam semesta yang terdapat dalam Al-Qur’an. Yang pastinya, hal ini menunjukkan betapa al-Qur’an tidak sama sekali bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Justru keduanya saling mendukung satu sama lain. Penciptaan alam semesta hanyalah satu contoh kecil tersebut.
Lebih lanjut, Pak Agus Purwanto dalam presentasinya menjelaskan bahwa dewasa ini, manusia tidak bisa lepas dari yang namanya sains (baca: teknologi). Sayangnya, Umat Islam hanya menjadi penonton, bukan pemain. Berapa banyak teknologi ciptaan bangsa asing yang dikonsumsi oleh kita. Sangat sedikit sekali produk yang dikeluarkan oleh Negara muslim. Lain daripada itu, dari sejumlah peraih nobel, hanya tiga ilmuwan muslim yang memperolehnya. Mereka adalah Abdus Salam dalam bidang fisika, Ahmad Zewail dalam bidang kimia, dan Maryam Mirzakhani dalam matematika.
Beliau juga menyatakan bahwa saat ini umat muslim hanya berkutat pada permasalahan fiqh dan perdebatan agama. Padahal jika mau dihitung, ternyata jumlah ayat yang membahas tentang alam semesta cukup banyak. Belum lagi ayat-ayat kauniyah yang terabaikan gara-gara kita terlalu terpaku dengan ayat-ayat qauliyah. Pak Agus menyatakan bahwa seharusnya umat Islam dapat menyeimbangkan keduanya secara bijak. Karena tidak dapat dipungkiri, teknologi dan sains dalam al-Qur’an merupakan salah satu cara jitu untuk meningkatkan keyakinan terhadap agama Islam. Betapa banyak ilmuwan-ilmuwan yang masuk Islam karena mendapatkan jawaban pengetahuan dari al-Qur’an. Inilah salah satu bukti kehebatan al-Qur’an.
Stadium generale ini memberikan pencerahan bagi saya. Saya menjadi lebih tertarik untuk mempelajari al-Qur’an dari sisi yang lain. Tidak hanya dari sisi muamalat, tetapi juga –misalnya– teknologi. Pak Agus Purwanto dengan keilmuan yang dimilikinya, memberikan pandangan yang berbeda tentang al-Qur’an. Saya kira apa yang disampaikan oleh beliau, seharusnya dapat menyadarkan umat Islam yang ‘sempat tertidur pulas’ dengan keberhasilan-keberhasilan masa keemasan Islam tempo dulu. Kita terlena, sehingga pada akhirnya keberhasilan itu dirampas dan dilanjutkan oleh bangsa-bangsa asing. Kita pun kembali menjadi penonton. Apakah kita mau menjadi konsumen abadi? Tentu saya akan menjawab tidak. Karena sesungguhnya dengan kembali kepada al-Qur’an, umat Islam dapat membuat sesuatu yang lebih dari bangsa asing, bahkan jika itu dalam bidang teknologi. Percayalah!  

0 komentar:

Posting Komentar

apa komentar anda tentang bacaan ini?