Selasa, 20 Desember 2016

JANGAN BIARKAN RUTINITASMU MENGIKIS KEPEDULIANMU



By: Muhammad Qamaruddin

Saya adalah seorang pekerja kantor yang ‘nyambi’ menyelesaikan master di Yogyakarta. Setiap hari senin sampai jum’at, saya masuk kantor dari pukul 08.00 s.d. 16.00 WIB. Bahkan tidak jarang saya lembur untuk menyelesaikan pekerjaan kantor. Artinya jam kerja tersebut bisa saya katakan tidak mutlak. Begitu pula untuk hari sabtu dan minggu. Saya mengambil kuliah akhir pekan (jum’at, sabtu, minggu) untuk menyelesaikan master saya. Walhasil, saya (seperti) tidak mempunyai libur. mungkin betul adanya, “libur adalah mitos”.
Selanjutnya, semenjak teori kuliah saya sudah habis, apakah saya kemudian dapat menikmati libur di akhir pekan saya? Ternyata tidak selalu hari libur dapat dinikmati dengan berlibur. Ada kalanya kegiatan di luar jam kantor yang mengharuskan saya masuk kantor. Entah workshop, pelatihan, acara mahasiswa, dan yang lainnya. Begitulah rutinitas saya setiap hari. Walhasil, sekali lagi, saya (seperti) tidak mempunyai waktu lagi untuk melakukan hal lain.

Kadang saya berpikir, untuk apa saya melakukan rutinitas tersebut? Masuk pagi, pulang sore, bahkan saat malam tiba hanya terpikir untuk beristirahat, karena tenaga sudah habis terkuras. Jujur, ada beberapa hal yang membuat saya termotivasi untuk melakukan rutinitas ini. Pertama, adanya tuntutan hidup di masa depan, kedua, demi anak istri, ketiga, saya tidak mau disebut pengangguran.
Saya tidak akan membahas motivasi saya melakukan rutinitas tersebut, toh setiap orang mempunyai motivasinya sendiri dalam melakukan suatu rutinitasnya. Satu hal yang menjadi beban pikiran saya, apakah saya melakukan semua itu hanya untuk diri sendiri? Apakah saya hanya hidup dalam rutinitas tersebut, tanpa mengindahkan orang-orang di sekitar saya? bahkan lebih jauh lagi, apakah benar yang saya lakukan sekarang ini bermanfaat untuk orang lain? Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang terngiang-ngiang dalam pikiran saya. Semuanya selalu bermuara pada kesadaran diri saya akan keegoisan dan kenaifan dalam menjalani kehidupan. Apakah yang saya jalani ini adalah sebuah kebermanfaatan bagi sekitar, atau ‘naasnya’ saya tidak menyadari bahwa saya sebenarnya menempatkan diri dalam dunia yang dihuni oleh diri saya sendiri?
Wahai pekerja kantoran, tidakkah kalian merasakan apa yang saya rasakan? Jika iya, bisa jadi kalian sudah terlalu ‘cuek’ dengan dunia. Bisa jadi kalian sudah tidak terlalu peduli lagi dengan kehidupan manusia. Bisa jadi kalian sudah menjadi robot-robot spesialis yang sengaja menghilangkan rasa peduli. Atau bisa jadi kalian sudah merasakannya, namun  sudah menyerah dengan keadaan dengan mengatakan “ah, biarlah, yang penting aku dapat menjalani hidup ini dengan nyaman, peduli apa dengan orang lain!” Mohon maaf atas tulisan ini yang dengan gamblang menyebutkan suatu profesi. Namun inilah keresahan yang saya alami.
Saya berterima kasih dengan kawan-kawan yang sudah menyadarkan saya akan hal ini. Mereka yang menyibukkan diri untuk membantu orang lain, mereka yang rela mengorbankan waktu untuk menolong sesama, mereka yang sudi ikhlas mengabdikan dirinya untuk orang banyak. Mereka inilah sebenar-benarnya manusia yang bermanfaat untuk orang lain. Salah satu sahabat yang merelakan dirinya sepenuhnya untuk kegiatan sosial, membacakan salah satu sajak WS. Rendra untuk saya. Di kemudian hari saya mengetahui jika sajak itu bertajuk “Sajak Sebatang Lisong”. Kalimat terakhir yang menusuk tajam ke dalam hati saya berbunyi seperti ini, “apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan, kepadamu aku bertanya”. Kalimat ini memberikan teguran keras bagi saya (dan juga seharusnya bagi kalian semua).
Betapa banyak orang yang setiap hari berangkat ke kantor, tetapi lupa ada tetangganya yang kelaparan. Betapa banyak orang yang setiap hari duduk di depan komputer, tetapi lupa ada anak-anak di tempat tinggalnya yang belum bisa membaca dan menulis. Betapa banyak orang yang sibuk keluar masuk perpustakaan untuk keperluan akademiknya, tetapi lupa ada pemuda-pemudi di kampungnya yang menganggur. Betapa banyak orang yang sibuk dengan pelatihan, workshop, talkshow, dan lain sebagainya, tetapi lupa ada banyak masalah yang terjadi di masyarakat yang sama sekali tidak kita pedulikan. Inikah realita yang terjadi saat ini? Orang semakin tidak peduli dengan orang lain, dan hanya memikirkan diri sendiri. Seperti sajak WS. Rendra, “apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan, kepadamu aku bertanya”. Apakah berpikirmu saat ini hanya bermanfaat untuk dirimu sendiri? Atau ternyata terpisah jauh dari masalah yang terjadi di sekitar hidupmu? Kepadamu aku bertanya, ya, kepadamu wahai kawan.
Tulisan ini tidak bermaksud apa-apa. Hanya ingin menasehati diri sendiri yang rasa pedulinya mulai terkikis karena rutinitas sehari-hari. Syukur-syukur jika ada yang merasa tulisan ini bisa memberikan pesan yang positif. Jika ada yang merasa tersinggung, saya minta maaf. Anggap saja ini masalah pribadi saya, meskipun sebenarnya saya merasa, bahwa ini adalah masalah kita semua. Wallahu ‘alam bisshawab.





0 komentar:

Posting Komentar

apa komentar anda tentang bacaan ini?