Selasa, 30 April 2013

“SETAN” I LOVE YOU FULL


Oleh: Ahmad Zaini Aziz

“…dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Q.S. al-Baqarah [1]:168)

Manusia adalah salah satu makhluk Allah yang paling sempurna di muka bumi ini dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya. Kesempurnaan itulah yang menjadi alasan mengapa manusia diberikan tugas oleh Allah sebagai Khalifah fi al-ard. Masih ingatkah sebuah cerita yang menunujukkan kedigdayaan manusia ketika ada sebuah tawaran Allah untuk mengamban amanah di muka bumi? Dari semua makhluk yang mendapatkan tawaran dari tuhan yang maha kuasa hanya ada satu makhluk yang sanggup untuk mengemban amanah tersebut, dialah manusia yang menerima tawaran Allah dengan segala kesempurnaannya.

            Terlepas dari itu semua, nampaknya banyak manusia yang melupakan dengan amanahnya selaku makhluk ahsani taqwîm. Apalagi melihat kenyataan yang terjadi dalam realita saat ini, sepertinya wabah degradensi moral sudah menjalar kemana-mana. Maka tidak heran jika setiap ngobrol terkait zaman masa kini sering terdengar “perilaku manusia sudah sama halnya perilaku setan yang durjana”, artinya sudah banyak sekali manusia yang lupa akan tuhannya, meninggalkan ibadah yang merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan dan tidak sedikit yang selalu menjalankan maksiat. Sebenarnya ada apa dengan perkembangan zaman yang semakin hari usianya semakin berkurang? Pertanyaan ini bukan pertanyaan mudah yang bisa kita jawab, semua dapat dijawab dengan cara melakukan perubahan dan intropeksi masing-masing individu.
            Salah satu cara untuk melaksanakan kewajiaban kita sebagai orang mukalaf adalah dengan selalu menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangannya. Namun dalam menjalankan ibadah sering kali kita terganggu dengan sifat-sifat malas, meremehkan dan sifat negatif lainnya. Sebenarnya darimanakah sifat itu berasal? Tentunya semuanya berawal dari adanya pertantangan ruh baik (fitrah manusia) dan ruh jahat (setan) yang kemudian masuk ke dalam hati dan menuju kepada sebuah tindakan. Dengan demikian cara yang paling tepat untuk mengatasi itu semua adalah dengan selalu membersihkan diri kita dengan cara selalu mendekatkan diri kepada yang maha kuasa.

Meneladani Sifat-Sifat Setan
            Penjelasan yang menyatakan bahwa setan adalah musuh manusia yang nyata, bukan lagi kalimat aneh yang jarang kita dengar. Banyak ayat al-Quran yang menjelaskan bahwa keharusan kita untuk tidak tergoda dan mengikuti perbuatan setan. Setan memang makhluk durjana yang diciptakan Allah yang bertugas untuk menggiring manusia ke arah keburukan. Melihat adanya peringatan di atas sudah wajar jika kita selalu menilai semua yang ada pada diri setan hanyalah hal negatif. Padahal ada beberapa hal positif yang ada pada diri sifat setan yang bisa ikuti. Apa saja sifat-sifat tersebut?
            Seorang mukmin yang sedang melaksanakan PDKT kepada Allah, setidaknya ada beberapa cara yang bisa dilaksanakan. Beberapa cara ini merupakan cara setan ketika membujuk atau merayu manusia supaya bisa meninggalkan Allah. Cara-cara tersebut adalah: pertama, bersungguh-sungguh, salah satu sifat yang dimiliki setan dalam menjalankan tugasnya menggoda manusia adalah dengan adanya niatan dan tindakan yang sungguh-sungguh. Tidak ada satu setan pun yang tidak bersungguh-sungguh dalam menggoda manusia untuk meninggalkan kewajibannya walaupun terdapat banyak rintangan yang harus dijalaninya. Karena kesungguhan itulah banyak manusia yang tergoda dan menambah lumbung kesuksesan setan, hendaknya kita selaku orang mukmin tidak malu untuk meniru langkah setan yang pertama ini, dalam menjalankan ibadah kepada Allah memang perlu ada niatan yang mantap supaya tujuan untuk mendapatkan ridha dan sampai kepada Allah bisa tercapai.
Kedua, Istiqamah, setelah bersungguh-sungguh langakah setan yang kedua adalah menjalankan visinya denga terus-menerus (Istiqamah), biarpun yang dijankan berat, namun ia menggodanya secara langgeng/kontinyu/terus menerus, sehingga banyak manusia yang tidak sedikit masuk ke perangkap setan. Sebagai orang islam yang sudah tahu tentang aturan agama sudah selayaknya kita mengikuti sifat setan satu ini. Karena dengan cara inilah kita akan menjadi manusia kamil di mata Allah. Ada sebuah kalimat yang menyatakan bahwa “al-Istiqamatu khairu min alfi karamah” istiqamah itu lebih baik dari seribu kemuliaan, bisa kita bayangkan bagaimana susahnya mendapatkan kemualiaan di sisi Allah dan di sisi manusia, hal itu dapat kita peroleh hanya dengan istiqamah melakukan hal baik, kalimat ini juga menunjukkan bahwa betapa beratnya kita untuk melakukan perbuatan baik dengan istiqamah. Maka dari itu, wajar jika istiqamah adalah rumus jitu untuk menaklukan tujuan yang dianggap sangat berat untuk didapat.
Ketiga, kerjasama, dalam menjalankan visinya dalam menggoda manusia setan menggunakan langkah yang ketiga, yaitu adat kerja sama (Ta’awun) konsep inilah yang digunakan setan dalam menjebak manusia supaya masuk ke lembah kenistaan. Setan selalu bekerjasama dalam menggoda manusia, antara setan tidak akan ada yang berebut lahan/menggoda manusia. Saling memberi masukan dan tolong menolong dalam melaksanakan visinya. Nah mari kita tengok muslim yang saling bersaudara saat ini. Secara teori Tuhan kita diciptakan di bumi hanya dengan satu tujuan yaitu untuk menyembahnya, kalau demikian sebenarnya tidak ada yang berbeda dengan setan. Setan memiliki tujuan yang sama yaitu memasukan manusia ke dalam neraka sedangkan orang mukmin memunyai tujuan yang sama yakni menyembah Allah supaya mendapatkan ridha dan surganya. Dengan demikian dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah diantara orang mukmin harus saling kerjasama, saling mengingatkan, mengisi, membangun dan seterusnnya. Namun ada yang berbeda antara setan dan orang mukmin pada kontek kekinian. Kenyataan yang ada banyak diatara kita yang menunjukkan sikap ketidakharmonisan dalam menjalani kehidupan, “Sudahkah kita bisa mengalahkan setan?”
Keempat, kreatif dan inovatif, kegiatan yang dilaksanakan oleh setan tidaklah monoton, banyak ide-ide kretaif yang digunakan dalam menjalankan tugasnya. Setan selalu berusaha dengan cara apapun supaya tujuannya tercapai. Setan memang pandai dan cerdik, banyak cara-cara yang inovatif sehingga tidak hanya orang awam yang terkena imbasnya, nabi kita yang pertamapun dapat ditaklukan dengan cara-cara indah supaya tergoda. Ini menggambarkan betapa briliantnya setan menciptakan ide kretif dan inovatif. Bayangkan jika hamba-hamba Allah yang paling sempurna melakukan pendakatan kepada Nya dengan berbagai cara yang kretif lagi inovatif sehingga Allah tergoda untuk memasukkan dirinya ke surga. Tentunaya setan akan meringis kalah saing dengan hamba-hamba pilihan Allah.
Kelima, tidak putus asa, bagi setan sendiri menggoda menusia yang bertaqwa tidaklah mudah. Maka dari itu setanpun berikrar bahwa Ia harus memiliki sifat tidak pantang menyerah dalam menggoda manusia, terlebih manusia yang bertaqwa dan beriman.


Hikmah Meneladani Sifat-Sifat Setan
Kelima sifat yang telah dijelaskan di atas merupakan sifat yang harus ada dalam diri seorang muslim. Hanya saja penggunaan sifat tersebut harus digunakan dalah rangka mendekatkan diri kepada Allah. Jika setan memiliki tujuan hidup yaitu menjermuskan manusia ke dalam api neraka maka orang muslim pun harus memiliki visi yang jelas dalam mendekatkan diri kepada Allah, di saat inilah orang muslim dapat meneladani sifat-sifat setan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Hanya dengan sifat inilah manusia akan menjadi hamba pilihan Allah. Jika kita tangguh dalam beribadah kepada Allah walaupun beribu cobaan yang menimpa kita maka kita akan mendapat buah yang manis sebagiamana setan-setan yang selalu hore-hore setiap sukses menipu manusia.

Penutup
Demikianlah beberapa sifat setan yang bisa kita ikuti dalam rangka beribadah kepada Allah. Hendaknya kita malu jika kita sendiri kalah dengan setan, padahal sebagaimana kita ketahui bahwa setan jauh dari sempurna jika dibandingkan dengan manusia. Seandainya kita beribadah dengan menggunakan sifat-sifat setan diatas maka tentunya kita akan menjadi hamba yang paling beruntung karena kita termasuk orang-orang yang dekat kepada Allah. Sebagai pertanyaan akhir, Sudahkah kita bisa mengalahkan setan dengan bersifat seperti setan?. Wallâhu A’lam bi Shawâb.[]


Ahmad Zaini Aziz
Santri Pon-Pes UII Angkatan 2009

0 komentar:

Posting Komentar

apa komentar anda tentang bacaan ini?