Selasa, 30 April 2013

CINTA ITU DATANG DARI TUMPUKAN SAMPAH


Oleh: Muhammad Qamaruddin

            Terik panas matahari menusuk kulit gelapku. Bajuku basah kuyup oleh rembesan air keringat. Bau yang dihasilkan keringat, seakan menggenapi bau sampah-sampah yang ada di sekitarku. Aku rasa orang-orang akan mual jika berdekatan denganku. Bahkan mungkin saja mereka enggan bersenggolan denganku. Aku bertanya pada diriku sendiri, apa benar pekerjaanku ini begitu menjijikan?

            Aku adalah seorang pemulung. Setiap hari aku berjibaku dengan gunungan sampah. Sepanjang hari aku harus mengais-ngais rejeki di sana. Dari sanalah aku hidup. Dari sanalah jualah aku bisa membeli segenggam beras. Sampah-sampah ini telah memberikanku kehidupan
            Aku tidak sendiri. Puluhan orang berprofesi sama denganku. Di sekelilingku masih banyak orang-orang sepertiku. Bahkan mereka lebih dekil dari aku. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) ini penuh dengan puluhan pemulung. Mereka mempunyai tujuan yang sama denganku: menyambung hidup dari sampah! Oleh karena itulah, koran bekas, sampah plastik, botol air mineral, kardus bekas makanan, sampai besi-besi bekas bagi seorang pemulung adalah anugerah paling berharga dari Tuhan.
            Lupakanlah hal itu. Sampai berbuih-buih mulut ini, orang-orang itu tak akan mempedulikan perkataanku ini. Tidak akan pernah! Mereka tidak akan pernah mengacuhkan sosok menjijikan seorang pemulung. Mereka telah lupa cara mengucapkan terima kasih kepada kami, ‘para pahlawan lingkungan’.
            Matahari tepat sudah di ubun-ubun kepala. Sebagian pemulung telah duduk di beberapa tempat teduh. Mereka istirahat sejenak. Aku juga harus menyegarkan badanku. Sejak pagi tadi aku tak berhenti bekerja. Aku menepi. Seraya duduk, aku meregangkan tubuhku yang serasa sangat pegal. Aku menurunkan wadah sampah di belakang punggungku. Wadah ini masih dapat menampung banyak sampah untuk kusetorkan menjadi uang.
Aku menerawang melihat langit yang mulai teduh karena iringan awan. Samar-samar aku mendengar suara itu. Suara anak kecil.
            “Bapak, ayo istirahat dulu,” kata anak itu. Aku mencari dari mana suara itu berasal. Tampak di depanku seorang anak sedang menarik-narik baju lelaki dewasa. Aku rasa ia adalah bapak anak itu. Tapi tunggu dulu, anak itu tidak sendiri. Ia sedang menggendong  seorang bayi di punggungnya.
            “Iya...Ini Bapak juga mau istirahat,” jawab Bapak itu. Mereka pun menepi dari gunungan sampah. Aku terus memperhatikan mereka. Entah kenapa aku begitu tertarik dengan keluarga tersebut. Perlahan-lahan aku beranjak dari tempat dudukku. Aku mendatangi tempat duduk mereka. Itulah awalku berkenalan dengan Bapak Ismail beserta dua anaknya, Furqan dan Hasan.
* * *
Pak Ismail telah melakoni pekerjaan pemulung selama puluhan tahun. Pekerjaan ini seakan-akan telah menyatu dengan kehidupannya. Dari samudra sampah inilah ia dapat menyambung hidup. Siapa sangka dari tempat ini jualah ia mendapatkan pujaan hatinya, Bu Siti. Wanita inilah yang memberikannya dua malaikat kecil yang sangat berharga. Mereka adalah Furqan dan Hasan.
Sayang seribu sayang, kebahagiaan itu harus terhenti dalam sapuan masa lalu. Pak Ismail harus merelakan kepergian bidadari dunianya. Bu Siti menghembuskan nafas terakhirnya setelah berjibaku penuh perjuangan tatkala melahirkan Hasan. Meskipun kesedihan luar biasa melanda, Pak Ismail mengikhlaskan kehendak Allah. Kini ia hanya merawat kedua anaknya seorang diri.
Sejak pertemuan itu, aku semakin dekat dengan keluarga Pak Ismail. Sambil bekerja, seringkali aku mengajak Pak Ismail berbincang-bincang. Kadang-kadang Furqan juga datang sambil menggendong adiknya Hasan. Dengan semangat ia turut membantu Bapaknya bekerja. Keramahan Pak Ismail, membuatku merasa tenang jika berada di dekat keluarga ini. Pak Ismail begitu menyayangi kedua anaknya. Begitu pula sebaliknya. Tidak ada orang yang paling disayangi oleh Furqan dan Hasan kecuali ayah semata wayangnya. Pernah suatu kali Pak Ismail bercerita kepadaku terkait masalah anaknya.
“Sebenarnya aku ingin sekali menyekolahkan Furqan. Hanya saja aku tidak mempunyai cukup uang,” ucapnya suatu hari. Aku menghentikan pekerjaanku kemudian memandangnya penuh arti. Pak Ismail menyeka keringat di dahinya. “Tapi tahukah kamu, aku telah menyisihkan sedikit uang untuk Furqan dan Hasan. Kelak jika aku tidak ada lagi di dunia ini, aku masih bisa memberikan mereka sedikit bekal,” sambungnya sambil tertawa kecil. Aku tidak mengerti apa maksud Pak Ismail mengatatakan hal tersebut. Yang kupahami hanya Pak Ismail sangat menyayangi kedua anaknya.
* * *
            Aku memandang sekeliling, namun aku tidak menemukan mereka. Kadang-kadang aku menyisiri gunungan sampah di tempat yang lain. Nihil. Aku tak mendapatkan orang yang kumaksud. Aku bertanya-tanya dalam hati, kemana Pak Ismail beserta kedua anaknya?
            Sudah hampir satu minggu aku tidak melihat mereka. Ingin sekali aku pergi ke rumah mereka. Hanya saja aku tidak pernah menanyakan di mana mereka tinggal. Aku merasa tidak enak hati untuk menanyakan hal tersebut. Sebagian pemulung di sini memang tidak mempunyai rumah. Oleh karena itu, aku takut akan menyinggung perasaan Pak Ismail jika menanyakan hal itu.
            Sekarang aku sedikit menyesal. Seharusnya aku tidak pernah berpikir demikian. Pak Ismail adalah orang yang baik. Ia pasti akan memberitahuku di mana ia tinggal. Aku sedikit sedih akan hal ini. Tiba-tiba saja aku rindu berbincang-bincang dengan Pak Ismail. Aku rindu mendengar suara rengekan Furqan. Aku juga rindu mendengar suara tangisan si kecil Hasan.
            Hari itu aku memunguti sampah sembari menghampiri beberapa pemulung yang ada di sekitarku. Aku bertanya kepada mereka. Mungkin saja mereka tahu perihal Pak Ismail beserta kedua anaknya.
            “Pak Ismail? Iya saya kenal, Dek. Tapi memang saya juga sudah lama tidak melihat beliau,” papar satu pemulung yang kutemui jelang sore hari. Ada kegembiraan muncul di hatiku karena ada yang tahu dengan Pak Ismail. Entah berapa pemulung yang sudah kutanyai hari ini.
            “Bapak tahu di mana rumah beliau?” tanyaku kepada beliau.
            “Saya tidak tahu persis. Tapi biasanya mereka datang dari arah sana, daerah pinggiran sungai. Coba kamu sisiri saja sungai itu. Kali aja kamu menemukan rumah mereka,” aku mengucapkan terima kasih atas penjelasan tersebut.
            Hari sudah semakin gelap. Matahari hanya dapat mengintip dari pinggiran cakrawala. Warna terang sedikit demi sedikit meredup. Tak lama lagi, malam akan datang mengusir sang siang. Aku menghentikan pekerjaanku. Aku mengikuti usulan bapak tadi. Aku harus mencari Pak Ismail beserta kedua anaknya. Sesegera itu juga aku melangkahkan kakiku ke arah yang beliau maksud. Pinggiran sungai, ya! Aku akan menyisirinya.
* * *
Setelah melihat kedatanganku, Furqan menangis sejadi-jadinya. Ia memelukku erat sekali. Aku hanya dapat berdiri, diam membisu. Aku merasa sedikit tergoncang dengan apa yang telah ia katakan.
            “Bapak meninggakan kami, Kak! Bapak sudah tiada!” teriaknya kencang sambil mengusapkan air matanya di bajuku. Aku bingung harus berkata apa.
Aku biarkan Furqan terus menangis. Kuusap lembut kepalanya. Mungkin ini bisa mengurangi kepedihan hatinya. Setelah beberapa menit kemudian, tangisannya mulai mereda. Aku pun duduk tepat di hadapannya. Matanya merah sekali. Seketika itu pula aku memeluknya erat. Tak terasa air mataku meleleh di pipiku. Aku merasa sangat kasihan dengan Furqan dan Hasan. Mereka telah ditinggalkan oleh sang Bapak untuk selamanya.
            “Tenang Furqan. Kakak ada di sini,” ucapku menghiburnya. Dari kejauhan aku melihat Hasan tidur dengan pulasnya. Ia tidur di atas bekas kardus makan yang telah dihamparkan sedemikian rupa. Untungnya tangisan Furqan tadi tidak membangunkannya.
            Aku mengajak Furqan duduk di salah satu sudut rumah. Bukan...bukan, tempat ini lebih mirip gubuk kecil, terbuat dari triplek yang di susun seadanya. Tidak ada apa-apa di dalam rumah ini. aku hanya melihat beberapa perabotan kecil yang kurasa juga diambil dari tempat sampah.
Cecegukan Furqan masih terdengar samar-samar. Aku kembali menatapnya. Setelah ia sedikit tenang, aku menanyakan kepadanya apa yang telah terjadi selama hampir satu minggu ini. Dari pemaparan Furqan, aku mengetahui bahwa Pak Ismail baru saja dimakamkan dua hari yang lalu.
            “Satu minggu yang lalu, Bapak sakit panas. Selama sakit, Bapak tidak pergi kemana-mana. Sejak saat itu, Furqanlah yang merawat Bapak. Di sisi lain, Furqan juga harus menjaga Hasan. Namun, semakin hari keadaan Bapak semakin parah. Pada saat itu Furqan bingung, Kak. Tidak tahu apa yang harus Furqan lakukan. Pernah suatu kali Furqan ingin menemui Kakak, tapi dilarang oleh Bapak. Kata Bapak jangan merepotkan orang. Bapak katakan sebentar lagi Bapak akan sembuh. Hingga di suatu senja, tepatnya tiga hari yang lalu...,” Furqan kembali menangis. Aku mengusap air matanya. Ia melanjutkan kembali penjelasannya.
            “Bapak tidak bangun-bangun lagi. Beberapa kali Furqan menguncang-guncang badan Bapak. Bapak tetap saja tidak menghiraukan panggilan Furqan. Pada saat bersamaan, Hasan juga menangis. Akhirnya Furqan pergi ke luar sambil menggendong Hasan. Furqan pergi ke TPA. Furqan ingin mencari Kakak. Tapi malam itu Furqan tidak menemukan Kakak. Furqan hanya menemukan beberapa orang yang tidak Furqan kenali. Karena tidak tahu lagi harus berbuat apa, Furqan pun mendatangi salah satu dari mereka. Furqan menceritakan apa yang telah terjadi. seketika itu pula ia memanggil dua orang yang ada di sana. Kemudian mereka mengajak Furqan untuk kembali ke rumah.
            “Setelah sampai di rumah, mereka langsung menuju pembaringan Bapak. Setelah lama mengamati Bapak, salah satu dari mereka mendatangi Furqan. Kemudian ia berkata pada Furqan. ‘Sabar ya Nak, Bapakmu telah berpulang’, ucapnya kepada Furqan. Terus terang, Furqan tidak percaya mereka, Kak. Furqan mendatangi Bapak dan kembali mengoncang-goncang badannya. Tak ada jawaban. Furqan menangis seketika itu pula. Hasan juga ikut menangis bersama Furqan,” ia menjelaskan panjang lebar. Pedih rasanya mendengar penjelasan Furqan. Yang sangat aku sesalkan, kenapa aku baru mengetahuinya sekarang. Kenapa saat Furqan membutuhkanku, malah aku yang tidak ada. Aku menyalahkan diriku sendiri.
            Hasan menggeliat di tempat tidurnya. Ia mungkin sedikit terusik dengan obrolan kami tadi, apalagi tadi Furqan sempat menangis nyaring. Furqan berdiri dan menghampirinya. Ia membetulkan baju usang yang dialihfungsikan menjadi selimut untuk adiknya itu. Aku merasa iba melihat keadaan itu.
            “Di mana Bapak Furqan dimakamkan?” tanyaku kepada Furqan sedikit ragu. Aku takut ucapanku tadi membuatnya kembali sedih.
            “Di pemakaman umum, Kak. Pada malam itu, ketiga orang yang datang ke rumah ini bertanya kepada Furqan, apakah Bapak mempunyai simpanan uang atau sejenisnya. Furqan menjawab tidak tahu. Ketiga orang itu berdiskusi sebentar. Tak berapa lama kemudian, mereka menghampiri Furqan dan salah satu dari mereka berkata bahwa akan patungan untuk mengurusi pemakaman Bapak malam itu juga,” aku terus menyimak apa yang disampaikan oleh Furqan. Tiba-tiba saja Furqan beranjak dari tempat tidur Hasan. Ia menuju suatu sudut dan mengambil kotak kecil. Ia kemudian menyerahkan kepadaku.
            “Ketika sakit, Bapak pernah berpesan untuk menyerahkan kotak ini kepada Kakak,” paparnya kepadaku. Aku tampak ragu mengambil kotak itu. “Sejak kematian Bapak, Furqan simpan kotak itu baik-baik, sambil menunggu kapan bisa bertemu dengan Kakak. Furqan memang tidak paham maksud dari Bapak. Mungkin Kakak akan paham setelah membukanya, kenapa Bapak ingin memberikannya kepada Kakak,” sambungnya lagi. Aku menerimanya. Aku amati kotak itu. kupandangi lagi Furqan.
            “Kakak akan tidur di sini. Besok pagi, temani Kakak ke makam Bapak,” ujarku singkat kepada Furqan. Ia menganggukkan kepalanya lemah.
* * *
            Aku teringat kisah masa laluku. Saat aku harus kehilangan semua yang kumiliki. Saat aku harus hidup sendiri dalam kejamnya kehidupan. Saat semua seakan pergi meninggalkanku. Aku hidup sebatang kara. Ketika itu aku masih berumur enam tahun.
            Bapak dan Ibu sama-sama berprofesi sebagai pemulung. Setiap hari mereka pergi untuk mengais rejeki di tumpukan sampah. Walaupun hanya sebagai pemulung, mereka tetap menyekolahkanku. Mereka memaksaku untuk sekolah, meskipun aku tidak mau. Aku ingin sekali membantu mereka bekerja. Akhirnya mau tak mau aku harus mengikuti kemauan mereka.
            Hingga pada suatu hari sepulangku dari sekolah, aku mendapati gubuk kecilku rata dengan tanah. Tidak hanya itu, gubuk-gubuk yang ada di sekitarnya pun ikut hancur. Apa yang telah terjadi? Aku berlari kesana kemari. Sama sekali tidak ada orang. Aku mencari orang tuaku. Di manapun aku mencari, aku tak dapat menemukan mereka. Aku menangis.
            Aku terus menunggu orang tuaku di sana. Saat senja datang, seorang bapak menghampiriku. Ia bertanya kepadaku, sedang apa aku di sana. Aku menjawab bahwa aku sedang menunggu orang tuaku. Dengan wajah iba, ia menyuruhku untuk tidak lagi menunggu mereka.
            “Setelah menghancurkan semua yang ada, mereka membawa semua orang yang mereka dapati di sini. Maaf, Dek, bukan maksud apa-apa, tapi tadi Bapak baru saja mendapat kabar bahwa mobil yang mereka tumpangi tersebut mengalami kecelakaan. Beberapa orang di antaranya meninggal. Bukannya Bapak berpikir yang tidak-tidak, tapi bisa jadi...”
            “Tidak! Bapak dan Ibu pasti pulang lagi ke sini. Mereka tidak mungkin meninggalkanku! Bapak jangan berkata seperti itu!” aku memotong pembicaraannya. Aku tidak terima apa yang telah ia katakan. Mataku basah oleh genangan air mata. Bapak itu menghembuskan nafas dalam-dalam dan meninggalkanku sendiri. Aku terus menunggu mereka, hingga suatu hari kelak aku benar-benar yakin kalau Bapak dan Ibuku telah tiada. Mereka meninggalkanku sendiri.
             Aku dan Furqan mempunyai kisah yang sama. Kita sama-sama anak yatim piatu. Bahkan mungkin kehidupan Furqan lebih berat dariku, karena ia harus merawat adik kecilnya.
Kenapa anak sekecil dia harus mengalami kisah yang sama denganku? Sekali lagi aku menangisi kehidupan ini.
* * *
            Kotak tersebut berisi sebuah surat dan beberapa tumpukan uang. Perlahan-lahan kubuka lipatan surat itu. Ada tulisan singkat di dalamnya. Surat dari Pak Ismail.
            “Uang ini aku tinggalkan untuk Furqan dan Hasan. Pakai uang ini untuk sekolah.”
            Singkat, padat, tapi aku paham maksud dari pesan tersebut. Aku kemudian memeriksa uang itu. sepertinya Pak Ismail telah mengumpulkan uang itu sejak sekian lama. Ia ingin sekali menyekolahkan kedua anaknya. Uang ini ia tabung untuk kedua anaknya. Betapa Pak Ismail sangat menyayangi kedua anaknya. Aku menutup kembali kotak itu.
            Sudah beberapa hari ini aku tinggal bersama Furqan dan Hasan. Setelah bekerja, aku pasti pergi ke gubuk ini. Bukan karena aku tidak mempunyai tempat tinggal, lalu aku pergi ke tempat ini. Aku lebih mencemaskan Furqan dan Hasan. Tidak ada orang yang merawat mereka.
            Furqan sekarang sudah sedikit lebih tenang. Ia tidak lagi mengungkit-ungkit masalah kematian Bapaknya. Sebaliknya, ia sering sekali bertanya kepadaku, apakah ia dibolehkan bekerja sebagai pemulung seperti Bapaknya. Aku belum bisa menjawabnya. Aku hanya menyuruhnya tinggal di sana untuk menjaga adiknya. Meskipun ia kadang memaksa untuk ikut dan membantu, tetap saja aku tidak membolehkannya.
            Aku masih merenungi pesan dari Bapak Ismail. Bukannya aku tidak mau melakukannya. Tapi memang seandainya uang itu dipakai untuk menyekolahkan Furqan, tetap saja belum mencukupi. Tiba-tiba saja aku teringat pesan Bapakku. Ia mengatakan bahwa membantu sesama itu adalah pahala yang sangat besar.
“Sayangilah orang-orang yang ada di sekitarmu, meskipun ia bukan saudara kandungmu. Ingat, kita adalah muslim. Tidak peduli siapapun dia, apabila ia membutuhkan pertolongan, maka berikanlah pertolongan itu,” ujar Bapakku suatu ketika. Satu pesan yang masih kuingat sampai kini.
Bapak adalah seorang muslim yang taat. Seingatku, ia tidak pernah sekalipun meninggalkan kewajiban shalat. Oleh karena itu, meskipun aku bukan orang yang terlalu paham dengan agama, aku berusaha untuk tidak meninggalkan shalat. begitulah Bapakku berpesan.
“Shalat itu wajib bagi seorang muslim. Makanya Furqan, biasakanlah shalat lima waktu dari sekarang. Kelak suatu hari kamu akan mengetahui hikmahnya,” jelas Bapakku suatu ketika setelah mengajakku ikut shalat jum’at. 
            Di lain kesempatan, pernah Bapak memberikan seluruh uang hasil memulungnya satu hari penuh pada seorang anak kecil. Aku sedikit bingung melihat apa yang dikerjakannya tersebut. Ia kemudian berkata kepadaku, “Nak, kamu masih beruntung punya Bapak dan Ibu. Anak itu baru saja kehilangan Bapaknya. Oleh karena itu, Bapak ingin memberinya sedikit pertolongan walaupun itu hanya sedikit. Mungkin itu bisa membuatnya tersenyum,” ucapnya sembari tersenyum kepadaku. Masih banyak lagi kenangan-kenangan yang aku punya bersama orang tuaku. Walaupun saat itu aku masih kecil, aku masih dapat mengingatnya sampai sekarang.
            Hari telah larut malam. Aku memandangi Furqan dan Hasan. Mereka telah tidur dengan pulasnya. Kupandangi wajah polos mereka. Iba rasanya jika mengingat penderitaan yang mereka alami. Kuusap kedua kepala mereka. kucium kening mereka satu-satu. Entah mengapa rasa sayang itu timbul di diriku. aku seakan tidak ingin mereka terlalu lama menderita. Aku ingin mereka mempunyai hidup yang lebih baik dari aku.
* * *
            “Kakak tidak bekerja?” tanya Furqan pada hari itu. Aku hanya menjawab dengan senyuman. Ia semakin bingung.
            “Hari ini Furqan ikut Kakak jalan ya,” tuturku riang.
            “Mau kemana, Kak?” Aku menatapnya lama dengan wajah teduh. Kemudian aku merangkul bahunya.
            “Furqan siap-siap dulu ya. Nanti Furqan bakalan tahu kita mau kemana,” jawabku singkat. Ia sedikit mengeluh setelah mendengar jawabanku tersebut. Aku hanya tertawa melihat tingkah pongahnya yang lucu itu. Aku kemudian mendekatinya dan memberinya plastik yang dari tadi aku pegang. “Kemarin Kakak ada singgah di penjualan baju bekas. Kakak ada beli satu. Masih bagus. Pakai baju itu setelah Furqan mandi,” paparku seraya tersenyum manis. Ia langsung berteriak senang dan bergegas untuk mandi. Nampaknya ia sudah bisa menerima kepergian Bapaknya.
            Tak berapa lama kemudian Furqan telah rapi dengan pakaian yang aku beri. Aku menunggunya di luar bersama Hasan yang ada di gendonganku. Saat itu aku berdiri tegap di samping sepeda butut yang aku aku pinjam dari temanku. Ia semakin bingung dengan keadaan ini. aku menyuruhnya untuk cepat-cepat naik ke sepeda.
            Hasan masih belum tahu kemana aku akan membawanya. Beberapa kali ia menanyanyaiku. Tetap saja aku menyuruhnya untuk bersabar.
            “Sebentar lagi kita sampai kok,” jawabku sekenanya. Furqan cemberut. Ia kesal karena aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku tertawa melihat wajahnya tersebut.
            Setelah hampir setengah jam berlalu, kami sampai sebuah gerbang. Aku turun dari sepeda. Furqan bingung menyaksikan apa yang ada di depannya. Ia menatapku penuh arti.
            “Kak, Apa yang mau kita lakukan di sini?” tanyanya penasaran. Aku tak mempedulikannya. Aku menuntun sepeda memasuki gerbang yang ada di depanku tersebut. Mau tak mau Furqan pun mengikutiku. Ia terus saja bertanya, apa yang mau kulakukan di sini.
            Aku meletakkan sepeda di tempat parkir. Sejurus kemudian aku mengajak Furqan duduk di bangku panjang yang ada di samping gedung. Untungnya Hasan tidak rewel. Ia hanya menatap kami berdua dan kadang-kadang tertawa sendiri.
            “Kakak hanya ingin mewujudkan keinginan Bapakmu. Furqan juga harus mewujudkan keinginan Bapak. Supaya Bapak di atas sana bahagia,” ujarku penuh kelembutan. Ia menatapku dalam. Pandangannya beralih ke gedung yang ada di sampingnya. Kubiarkan Furqan menikmati pemandangan itu. Kubiarkan ia merenung sejenak. Ia pun kembali memandangku. Matanya sedikit sembab.
            “Kak, apakah benar Furqan akan sekolah?” tanyanya dengan suara lirih. Aku tersenyum mendengar pertanyaannya tersebut. Aku menganguk pelan. Ia menangis sejadi-jadinya. Kupeluk ia erat-erat. Tak terasa air mataku pun jatuh. Hasan hanya melongo melihat kejadian itu. akhirnya ia pun ikut menangis bersama Furqan.
            Aku menatap langit. ‘Pak Ismail, anakmu Furqan akan sekolah’ ujarku membatin. Furqan terus larut dalam keharuan.
* * *
            “Kak, Furqan berangkat. Assalamu’alaikum,” ucap Furqan sambil menyalami tanganku.
            “Eh, bilang juga sama Mba’ Nia kalau mau berangkat,” jawabku sambil menarik tangannya. Ia masuk lagi ke dalam dan menyalami seorang wanita.
            “Hati-hati di jalan, Furqan,” tutur wanita itu menyalami Furqan. Furqan pun beranjak pergi.
            Bahagia sekali aku melihat pemandangan itu. Aku melihat Furqan yang pergi untuk sekolah. Aku juga melihat Hasan yang sedang asyik bermain dengan mainannya. Dan Nia...dia adalah istriku. Aku menikah dengannya beberapa bulan setelah aku menyekolahkan Furqan. Kami merawat Furqan dan Hasan seperti anaknya sendiri.
Aku sangat bahagia walaupun orang-orang mengatakan hidup kami masih belum bisa disebut berkecukupan. Kini aku sudah mempunyai keluarga. Furqan dan Hasan aku anggap seperti adik kandungku sendiri. Kehadiran Nia pun melengkapinya. Akulah orang yang paling bahagia di dunia saat ini.
            Beberapa minggu setelah menikah, seorang budiman menawariku sebuah pekerjaan. Ia memintaku untuk menjadi pengurus mushalla. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti jadi seorang pemulung.
Pekerjaanku tidak terlalu sulit. Aku hanya diminta untuk mengurusi segala sesuatu yang berhubungan dengan keperluan mushalla. Meskipun aku bukanlah orang yang terlalu paham dengan agama, aku rasa pekerjaan ini dapat aku jalani.
            Sekarang aku tinggal di sebuah ruangan kecil yang ada sudut di mushalla. Pengurus ta’mir memberikan kami ruangan ini. Aku tinggal bersama Istriku Nia, Furqan dan Hasan. Walaupun kecil, ruangan tersebut bahkan lebih baik dari gubuk yang dulu kami tinggali. Kami hidup bahagia. Kuucapkan syukur kepadaMu Ya Allah.
* * *
Muhammad Qamaruddin
Kawah Candradimuko Ashabul Kahfi (April ’13)
     
*Cerpen ini memenangi juara 2 Lomba Cerpen dan Esai Islami CMIA Fair FK UII 2013

0 komentar:

Posting Komentar

apa komentar anda tentang bacaan ini?