Minggu, 24 April 2016

KEMBALI MENAPAKI TANAH BRUNEI




Tanggal 8 – 14 April 2016 silam, saya mengunjungi Negara Brunei Darussalam. ini bukanlah kunjungan pertama. Bahkan saya pernah tinggal di Negara ini selama 1 tahun, yaitu rentan tahun 2008-2009. Tentu banyak sekali kenangan yang muncul kembali ketika menjajaki kembali negara ini. Kedatangan saya yang kedua ini bertujuan untuk mengunjungi keluarga sekaligus mengajak istri jalan-jalan, serta menjadi momen untuk mengenang kembali rekam jejak saat dulu tinggal di sini.
                Banyak yang beranggapan bahwa ke luar negeri itu sesuatu yang sangat luar biasa. Mungkin iya jika destinasinya ke Eropa, Amerika, bahkan ke Makkah Madinah (amin ya Allah!). namun bagi saya sendiri, tak ada yang perlu dibanggakan. Itu hanyalah hal biasa. Apalagi jika masih kawasan Asia Tenggara yang notabenenya juga berbahasa melayu. Sebut saja Malaysia, Singapura, atau Brunei Darussalam.
                Abah saya sudah bekerja di sana sejak tahun 1993 hingga saat ini. Mama saya pun pernah ikut ke sana selama dua tahun (1994 – 1996). Apalagi Abah saya sekarang –bisa dibilang– sudah menetap di sana bersama empat adik saya. Oleh karena itu, kunjungan saya sekarang bisa jadi lebih tepat disebut “menengok keluarga” ketimbang disebut “jalan-jalan”.
Jika tahun 2008 saya berangkat sendiri, Alhamdulillah tahun 2016 ini saya berangkat bersama istri. Rute yang saya lewati dulu, dari Banjarmasin – Jakarta (transit) – Pontianak. Dari Pontianak masuk Malaysia lalu ke Brunei lewat jalur darat. Karena dulu biaya pesawat masih mahal, maka saya memilih jalur darat untuk masuk Brunei. Meskipun harus melewati penjagaan yang sangat ketat di negara perbatasan (baik di Malaysia maupun di Brunei). Banyaknya TKI yang masuk melalui jalur ini membuat pemerintah setempat sangat berhati-hati mengizinkan orang keluar masuk. Boleh jadi Brunei Darussalam merupakan salah satu negara yang mempunyai proses izin masuk yang sangat sulit. Banyak hal yang harus dilengkapi. Jika tidak percaya, tanya saja kepada orang-orang yang pernah bekerja di sana.
Berbeda halnya kali kedua saya ke sana. Saya berangkat dari Yogyakarta – Kuala Lumpur (transit) – Brunei Darussalam. Alhamdulillah tidak ada masalah dalam perjalanan. Pihak imigrasi setempat pun hanya sekedar menanyakan maksud dan tujuan datang. Tidak seperti dulu waktu saya melewati jalur darat, saya harus menghadapi interogasi-interogasi panjang dari pihak keamanan setempat.
Ada banyak hal yang ingin saya ceritakan. Akan tetapi, dalam kesempatan ini saya cuma ingin sedikit bernostalgia dengan kisah lama saat pergi ke sana, khususnya pada saat berstudi di Universiti Brunei Darussalam (UBD) dan Universiti Sultan Syarif Ali (UNISSA)
Awal tujuan saya ke Brunei Darussalam pada tahun 2008 adalah untuk melanjutkan studi dengan mencari scholarship. Tidak menutup kemungkinan saya juga mau kuliah sambil kerja, jika scholarship yang saya harapkan tersebut tidak kunjung saya dapatkan. Akan tetapi dari kabar yang saya dapatkan, kuliah sambil bekerja menggunakan student pass merupakan hal yang sangat terlarang di Brunei Darussalam. Jika ketahuan, maka saya akan dideportasi. Oleh karena itulah, jika ingin kuliah, mau tidak mau saya harus mendapatkan beasiswa untuk mencukupi biaya kuliah.
Sembari menunggu pendaftaran beasiswa, saya mencoba untuk mencari alternatif lain, bagaimana caranya dapat tinggal di Brunei Darussalam. Saya tidak mungkin tinggal di sini hanya dengan visit pass. Saya harus memilih di antara dua visa, visa bekerja atau visa pelajar dengan konsekuensinya masing-masing. Memilih visa bekerja dengan keuntungan saya dapat menabung terlebih dahulu dari hasil bekerja, tetapi akan memerlukan proses yang lama untuk menggantinya menjadi visa belajar. Peraturan di Brunei memang sangat ketat. Karena keinginan kuat untuk belajar, maka saya memutuskan untuk memilih visa belajar.
1.2 Kartu pelajar Mahasiswa UBD th. 2008
1.1 student pass yang saya miliki pada th. 2008
Dengan bantuan Abah, dan beberapa mahasiswa Indonesia yang sudah mendapatkan beasiswa di Brunei, saya berhasil masuk UBD dengan status non-graduating program student dengan mengambil Lughah Arabiyah for VI level dan English II for Arts and Education selama 1 semester. Setelah 1 semester di UBD, saya mengambil English and Arabic Course di UNISSA selama 3 bulan. Program ini diambil khusus untuk mahasiswa baru yang masuk ke UNISSA. Perlu diketahui, beasiswa yang saya incar adalah untuk masuk UNISSA.
1.3 ID pengenal Brunei th. 2008
Sayangnya Allah berkehendak lain. Saya belum berkesempatan untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Meskipun dari hasil pengamatan saya, ketidaklulusan saya mendapatkan beasiswa bukanlah karena kurangnya kemampuan saya, tetapi lebih kepada ijazah saya yang masih belum diakui oleh negara setempat. Akhir tahun 2009, saya kembali ke Banjarmasin dan sempat masuk IAIN Antasari Banjarmasin selama 1 tahun.
Pada akhirnya, saya berhasil mendapatkan full scholarship santri unggulan di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Dengan beasiswa ini, saya dapat berkuliah di UII sampai lulus S1 tanpa sepeserpun membayar biaya kuliah. Allah memang selalu memberikan jalan yang terbaik. Justru di UII-lah saya bertemu dengan istri saya kelak. Mungkin begitulah sedikit flash back mengenai alur cerita saat saya di UBD dan UNISSA.
Tahun 2016, saya kembali ke Brunei Darussalam dan mengujungi UBD dan UNISSA. Perlu diketahui, UNISSA pada tahun 2008-2009 masih satu tempat dengan UBD di Jalan Tungku Link. Sebenarnya pada saat itu UNISSA sudah mempunyai lokasi sendiri di daerah Gadong, akan tetapi masih dalam tahap pembangunan. Tepat selepas saya pulang ke Indonesia, UNISSA telah menempati lokasi barunya hingga saat ini. Ketika berjalan-jalan keliling Brunei, Abah menawari saya apakah ingin menjenguk UBD dan UNISSA. Tentu saja saya menjawab iya!
Kesan pertama saat melihat kembali tempat ini adalah munculnya memori-memori indah saat berada di sini tujuh tahun silam. Saya menyusuri jalan-jalan yang biasanya saya lewati. Saya tunjukkan kepada istri saya, inilah rute yang biasanya saya tempuh saat pergi kuliah, inilah gedung utama tempat saya mengurus administrasi kuliah, inilah tempat saya nongkrong bareng teman-teman.
1.4 salah satu sudut kampus UBD th. 2016
1.5 salah satu sudut kampus UBD th. 2016
Satu hal yang membuat saya sangat terharu adalah saat melihat asrama mahasiswanya. Di sinilah dulu saya tinggal hampir satu tahun lamanya. Subhanallah! Kenangan itu pun berkelebat silih berganti di pikiran saya, seakan memutar kembali memori-memori tujuh tahun silam. Saya teringat suasana kamar yang sangat tenang untuk belajar, dapur yang sering saya gunakan, kawan-kawan perantauan dari berbagai negeri yang berkumpul di aula utama, tempat cuci dan jemur baju, lapangan bola di belakang asrama, dan hal-hal lainnya.
1.6 UNISSA Course th. 2009
1.7 UBD Course th 2009
Setelah puas berkeliling di UBD, Abah saya mengajak jalan ke lokasi baru UNISSA di daerah Gadong yang posisinya tidak jauh dari Mall Gadong Brunei. Saya sendiri masih merasa asing dengan lokasi UNISSA. Hal ini wajar karena saya baru pertama kali datang ke sini. Berbeda dengan UNISSA yang dulu masih menumpang di UBD, UNISSA sekarang sangat megah dan besar. Kampus ini tertata rapi dengan para mahasiswanya yang lalu lalang berseliweran di sekitaran kampus. Pakaian melayu menjadi salah satu ciri khas mahasiswa di sini. Melihat hal tersebut, saya jadi teringat dengan saya yang dulu masih sering memakai baju MIB (Melayu Islam Baraja) jika menghadiri acara formal di kampus.
1.8 Menghadiri acara formal di Universiti th. 2009
Perjalanan ke Brunei Darussalam tahun 2016 ini memang tidak hanya menjadi kesempatan untuk mengenalkan istri dengan keluarga di sana, tetapi juga menjadi ajang untuk mengulang kembali memori-memori indah saat masih tinggal di Brunei, khususnya saat masih berstatus mahasiswa di UBD dan UNISSA.
Ada sedikit cerita unik tentang istri saya ketika berkunjung ke Brunei. Memang ia mengakui bahwa ini adalah kali pertamanya ke luar negeri. Tidak hanya itu pula, ini juga pertama kali ia naik pesawat terbang! Udahnya naik pesawat pertama kali, eh terbangnya langsung ke luar negeri. Selamat ya sayang! Hehe
1.9 UNISSA th. 2016 di Gadong
1.10 UNISSA th. 2016
Banyak yang berkata kalau saya sedang “honeymoon”, namun bagi saya sendiri, niat awal perjalanan ini adalah untuk mempertemukan istri saya dengan keluarga yang ada di Brunei. Jika di sana ada jalan-jalannya, itu tentu hal yang wajar, apalagi istri saya baru pertama kali ke Brunei. Jikapun ini disebut honeymoon, maka ini adalah honeymoon tanpa mengeluarkan uang sepeserpun, karena tiket perjalanan pulang pergi sudah dibelikan Abah sebagai hadiah pernikahan kami. Kami pun di sana juga tidak tinggal di hotel, tetapi di rumah sendiri. Oleh karena itu, “nikmati saja perjalanan ini”, ucap saya kepada istri saya. Hehe. Masih banyak lagi cerita-cerita lain mengenai Brunei yang ingin saya sampaikan. Mungkin akan saya tulis di lain waktu.


1 komentar:

apa komentar anda tentang bacaan ini?