Rabu, 11 Juli 2012

INDONESIA DAN VIRUS HALLYU




            Indonesia semakin latah!  kata itulah seharusnya disematkan pada negara ini, khususnya kalangan remajanya. Mereka semakin bangga dengan ‘membeo’ budaya negara lain. Seluruh budaya yang berasal dari luar ditiru mentah-mentah dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu (baca: meniru budaya orang lain) seolah-olah menjadi hal yang lumrah. Lalu yang menjadi pertanyaan, apakah masyarakat Indonesia hanya selalu bisa menerima tanpa bisa membuat sesuatu yang lebih baik?

            Mungkin kita masih dapat mengingat, bagaimana remaja Indonesia kecanduan oleh virus negeri Sakura beberapa tahun silam. Siapa yang tidak mengenal anime (kartun buatan Jepang) dan manga (komik khas Jepang)  yang sempat membuat kartunis dan komikus domestik ‘gigit jari’. Mereka kalah bersaing meskipun itu di negeri mereka sendiri. Belum lagi gaya berpakaian ala Jepang yang ditiru bulat-bulat oleh remaja Indonesia. Sederet artis Jepang seakan-akan turut andil dalam menyebarkan virus negeri Sakura ini. Nah, belum sembuh dengan penyakitnya itu, Indonesia malah kembali terkontaminasi penyakit lainnya, virus Hallyu.
            Hallyu atau disebut juga Korean Wave adalah istilah yang merujuk pada peningkatan secara signifikan popularitas budaya Korea Selatan di seluruh dunia. Sejak abad 21, semua orang menjadi tertarik menonton drama Korea, mendengar music K-pop (Korean pop), makanan khas korea, pakaian khas korea, belajar berbahasa korea (hangul) bahkan brand-brandnya. Hampir seluruh negara di dunia telah terkontaminasi virus dari negeri Ginseng tersebut.
            Virus budaya Hallyu positif menjangkiti Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir. Indonesia dibombardir dengan segala perangkat yang berhubungan dengan Korea. Semua hal yang berbau Korea terus dipertontonkan di layar televisi Indonesia. Tak ayal lagi, sosok-sosok seperti Kim Hyun Joong, Lee Min Ho, SNSD, Super Junior, Rain, Hyun Bin, Shinee, CN Blue, 2pm, dan Wonder girls menjadi tidak asing lagi bagi kalangan remaja Indonesia. Mereka menjadi kiblat dalam berperilaku bagi generasi muda di tanah air. Kemunculan mereka pulalah yang menginspirasi terbentuknya boyband/girlband lokal seperti Sm*ash, 7 Icons, Cherebelle, dan yang lainnya. Imbas lain dari menjamurnya wabah korea ini adalah mulai meredupnya industri film Indonesia. Masyarakat Indonesia lebih menyukai perfilman Korea ketimbang perfilman Indonesia. Lihatlah betapa banyak drama Korea yang mengisi layar televisi Indonesia.
Meskipun jumlah ‘penderita’ virus Hallyu asal Indonesia masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Thailand dan China, tetapi mereka merupakan fans militan yang rela melakukan apapun untuk sang idola. Sayangnya, ketenaran budaya Korea di Indonesia tidak sebanding dengan ketenaran Indonesia di sana. Nama ‘Indonesia’ sendiri masih asing di telinga masyarakat Korea, tidak seperti negara tetangga seperti Singapura atau Korea.
Melihat dari fenomena demam Korea ini, seolah-olah kita lebih mencintai budaya asing daripada budaya nenek moyang kita sendiri. Lebih kolotnya, kita bahkan mencemooh budaya kita sendiri. Padahal masih banyak sisi yang belum kita ketahui dari kehidupan masyarakat Korea. Misalnya hasil pengamatan dari Menteri Kesehatan Korea Selatan yang mengatakan bahwa ada sekitar 35 orang Korea yang tewas bunuh diri setiap hari, baik dari kalangan artis maupun orang biasa. Hal ini membuat Korea menjadi negara dengan angka bunuh diri nomor 1 di dunia! Selain itu, Hasil dari sebuah survey bahwa 90% responden pria dan wanita usia 18-35 tahun di sana menginginkan operasi plastik untuk mendukung penampilan mereka. Seperti inikah gaya hidup yang diidolakan banyak remaja kita saat ini?
            Tanpa memvonis salah atau tidaknya virus Hallyu, kita tentunya harus bersikap bijak dalam  menilai sisi positif dan negatifnya. Hal yang patut kita acungi jempol, wabah boyband/girlband Korea adalah inspirasi nyata kemunculan kembali boyband Indonesia yang sempat lenyap dari belantara musik Indonesia. Adanya film-film Korea pun, seharusnya dapat menjadi cambuk kebangkitan perfilman Indonesia yang –akhir-akhir ini- hanya dapat ‘jalan di tempat’. Kreativitas dapat ditingkatkan dengan belajar dari industri film Korea yang dapat merambah kancah dunia.
            Akan sangat fatal nantinya jika Indonesia, khususnya kalangan remaja terus terbuai oleh virus Hallyu ini. rasa cinta dan kebanggaan terhadap budaya Indonesia itu sendiri akan terkikis sedikit demi sedikit. Mereka akan melupakan jati mereka sendiri sebagai bangsa Indonesia yang pada dasarnya memiliki ragam corak budaya yang sangat luar biasa. Bisa jadi lambat laun budaya negara sendiri akan terganti dengan budaya negara orang lain. kita seharusnya bangga, Indonesia adalah  bangsa yang besar, Indonesia memiliki teritorial yang luas, Indonesia memiliki nilai-nilai budaya bernilai cita rasa tinggi Indonesialah negara yang juga layak memberikan pertunjukan terhadap pentas dunia. (Muhammad Qamaruddin)

0 komentar:

Posting Komentar

apa komentar anda tentang bacaan ini?