Sabtu, 26 Januari 2013

“SANG PEJUANG”



 “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan Tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allāh bersama orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. al-‘Ankabūt [29]: 69)


P
etuah itu berbunyi: “Jadilah pejuang umat, bukan sekadar pejuang keluarga.” Itulah nasihat yang saya dapatkan ketika mengunjungi salah seorang dosen. Dalam kunjungan saya (dan beberapa teman) tersebut, beliau menekankan pentingnya organisasi bagi mahasiswa. Menurutnya, berorganisasi berarti berjuang untuk kepentingan orang banyak. Dalam konteks yang lebih luas, berorganisasi adalah latihan untuk memperjuangkan kepentingan umat.

                Dalam konteks perjuangan, kita dapat berkaca dari Rasulullāh SAW. Beliau berjuang bukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Bukan juga untuk kesejahteraan keluarganya semata. Tidak hanya demi ketentraman penduduk Makkah-Madinah. Terakhir, pastinya juga bukan untuk kebahagiaan umat Islam saja. Beliau itu berjuang untuk alam semesta, yang lingkup dan batasnya sukar dihitung secara kasat mata.
                Tentu, saya tidak bermaksud menganjurkan kita menjadi seorang “Nabi”. Namun paling tidak sebagai umat yang mengaku mencintai Rasulullāh, kita harus berusaha meneladaninya. Dengan begitu maka kita akan menjadi penerus perjuangan beliau, menegakkan syi’ar kerahmatan Islam kepada semesta alam. Sabdanya, orang yang berilmu (‘ulamā’) itu adalah pewaris para Nabi. Pewaris para Nabi berarti juga mewarisi perjuangan kehidupan mereka.
                Ketika Anda memikirkan orang lain maka Allāh akan mencukupkan kebutuhan Anda. Namun ketika Anda memikirkan diri sendiri maka Allāh akan mencukupkan kebutuhan orang lain.” Itulah mengapa sabda Nabi Muhammad SAW berbunyi, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lainnya. Derajat kebaikan seseorang ditentukan oleh tingkat kemanfaatan yang ia berikan kepada sesama.
                Saya mendengar banyak kisah tentang kehidupan orang yang berjuang untuk kehidupan. Ia terkesan tidak bekerja untuk kepentingannya sendiri namun tetap bisa melangsungkan kehidupan. Dalam benak saya kemudian terlintas fikiran: itulah berkah perjuangan. Dimana orang yang memperjuangkan kepentingan orang banyak akan dicukupkan kebutuhannya oleh Allāh. Itu adalah konsekuensi logis, walaupun pejuang itu saya yakin tidak mengharapkannya.
Mujāhadah Fillah
                Dalam ayat di atas, Allāh berfirman bahwa orang yang berjihad/berjuang dalam rangka mencari keridhaan-Nya akan memperoleh petunjuk jalan. Dalam Tafsir Jalālain diterangkan secara singkat: sebagai timbal balik dari perjuangan tersebut adalah kemudahan jalan untuk “menuju” Allāh (tharīqus sa-ir ilainā). Dapat difahami bahwa semakin berkualitas perjuangan seseorang maka semakin mudah pula ia berjumpa dengan Sang Pencipta.
                Jika kita cermati, jalan Allāh itu tidaklah tunggal. Jalan Allāh itu jamak (plural) yang –pastinya– setiap orang boleh memilih rute yang berbeda. Allāh berfirman menggunakan kata “subul” yang merupakan bentuk jamak dari “sabīl”. Subul artinya banyak jalan, atau jalan-jalan (Allāh). Artinya, orang yang berjuang karena Allāh akan memperoleh petunjuk jalan, kemudahan hidup, dan keberkahan yang pastinya tidak manunggal.
                Saat ini, yang namanya jihād/mujāhadah harus ditafsirkan kembali. Tujuannya, supaya jihad tidak hanya difahami secara sempit. Sebab, segala sesuatu termasuk jihad harus disesuaikan dengan konteks kehidupan. Sehingga, tujuan substansial dari jihad itu sendiri akan mampu diraih. Jihad yang sesungguhnya bukanlah mati di jalan Allāh melainkan bagaimana kita hidup bersama di jalan-Nya. Tentu bukan bermaksud mengecilkan makna jihad di kala Rasulullāh.
                Perjuangan itu akan bermakna ketika tujuannya adalah untuk meraih keridhaan Allāh. Rasanya tidak ada yang lebih membahagiakan selain ketika kita meraih ridha-Nya. Sebab, jika Allāh sudah ridha maka tidak ada yang menghalangi kasih sayang-Nya. Selain itu, ketika tujuan perjuangan adalah Allāh, semuanya menjadi mudah dan ringan. Sebab, Allāh “membersamai” orang-orang yang berjuang ikhlas karena-Nya. Āmīn.
                Oleh karena itu, marilah bersama-sama meluruskan niat. Okelah, banyak tujuan yang kita inginkan dari perjuangan tersebut. Tetapi, lebih jauh dari itu semua perjuangan adalah persembahan kita kepada Allāh. Benar bahwa kita diciptakan hanyalah untuk menyembah, mengabdi kepada-Nya. Semua yang kita perjuangkan adalah upaya untuk meraih keridhaan-Nya semata. Dengan begitu, tidak ada kata “ogah-ogahan” dalam berjuang.
                Di akhir ayat, Allāh memberikan kabar gembira kepada para mujahidin. “Sesungguhnya Allāh bersama orang-orang yang berbuat baik,” firman-Nya. Perjuangan adalah kebaikan yang harus dilakukan secara berkelanjutan. Selama nyawa masih di kandung badan, maka perjuangan harus terus dilakukan. Perjuangan itu adalah amal kebaikan yang kita persembahkan kepada Allāh ta’ala. Semoga…
Manisnya Perjuangan
                Saya mendapatkan pelajaran berharga dalam sebuah kajian siang. Isinya: Kebahagian itu adanya dalam hati. Kebahagiaan itu dapat diperoleh dengan memberi. Berjuang berarti mewakafkan diri untuk orang banyak. Ketika kemudian itu dilakukan dengan penuh kesadaran dan kerelaan maka kita akan memperoleh kebahagiaan. Ketika kebahagiaan hadir maka itu mengalahkan segalanya, termasuk uang alias materi.
                Ada 4 anjuran bagi umat Islam sebelum terlelap dalam tidurnya. Salah satunya adalah anjuran untuk memintakan ampunan untuk seluruh umat Islam yang ada di dunia. Bukan hanya yang masih hidup, tetapi juga untuk mereka yang sudah “sempurna” di alam sana. Hal ini adalah simbol bahwa hidup kita harus benar-benar dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan umat. Bukan sekadar kepentingan pribadi, dan golongan.
                Secara pribadi –sebagai manusia– saya sadar bahwa apa yang saya lakukan seringkali berseberangan dengan kehendak Tuhan/perintah agama. Wajar jika kemudian saya harus menerima balasan di dunia atas sikap dan tindakan tersebut. Lalu, jika kemudian ternyata yang seharusnya saya rasakan itu tidak kunjung datang juga. Ada apa sesungguhnya? Bisa jadi, dosa dan kesalahan saya diampuni oleh Allāh berkat doa kaum muslim.
Tugas manusia adalah bagaimana menerjemahkan sifat Rahman-Rahim Allāh dalam kehidupan nyata. Sehingga, manusia benar-benar menjadi khalifatullah di muka bumi ini. Hal itu dilakukan dengan upaya yang tidak pernah kenal kata henti. Kenikmatan yang dikaruniakan Allāh dimaksimalkan untuk memberikan yang lebih kepada kehidupan. Sehingga, kasih sayang Allāh benar-benar tersebar dalam panggung kehidupan dunia.
Muhammad Zuhri dalam bukunya “Mencari Nama Allāh Yang Keseratus” memberikan paparan penting dalam kaitannya dengan hal ini. Jumlah 99 dari asma Allāh itu adalah sebuah bilangan yang nyaris sempurna, namun belum selesai (unfinished number). Ada satu nama lagi yang harus ditemukan sepanjang perjalanan (perjuangan) hidup. Itu adalah sebutir mata tasbih yang terlepas dari untaiannya.
Logikanya sederhana. Misalnya, ada yang bertanya. “Ada orang yang kelaparan, seharian belum menyantap makanan. Lalu, dimanakah kasih-sayang Allāh itu berada?” Menanggapi pertanyaan tersebut, kita yang memiliki kemampuan untuk membantu berkesempatan untuk menerjemahkan kasih-sayang Allāh. Kita lah yang seharusnya membantu orang tersebut. Dengan demikian paling tidak kita sudah berhasil menemukan sifat Allāh yang keseratus tadi.
Konsepsi perjuangan yang demikian adalah upaya cerdas yang menihilkan egoisme personal. Ikhtiar untuk mendapatkan surga untuk diri sendiri rasanya jauh dari perjuangan yang mulia. Banyak orang yang berjuang dengan bom bunuh diri, misalnya. Jika memang mereka mendapatkan surga karenanya itu hanya untuk dirinya sendiri. Berbeda halnya jika kita justru berupaya bersama-sama meraih keridhaan Allāh dalam kehidupan ini.
Untuk paragraf sebelum ini pembaca boleh jadi tidak sependapat. Namun bagi saya pribadi, melihat konteks kehidupan sekarang, sebaiknya kita bijak dalam melakukan tindakan. Saya sepakat bahwa keikhlasan yang sesungguhnya bukan hanya terletak pada shihhatun niyyāt  (niat) dan shihhatul ghāyāt (tujuan). Keikhlasan itu harus juga dibarengi dengan shihhatul kaifiyyāt (benarnya tata cara yang digunakan). Wallāhu a’lamu
Ikhtitam
                Perjuangan memang bukanlah perkara yang main-main. Dibutuhkan semangat yang gigih didalamnya. Semakin luas objek perjuangan kita maka semakin bermakna pula hidup kita. Benar bahwa hidup ini adalah pilihan. Jika boleh memilih maka selaiknya kita memilih yang terbaik pula dalam hal perjuangan. Kepentingan umat seharusnya yang menjadi objek utamanya. Pertanyaannya adalah, saat kita berjuang untuk kepentingan siapa?
                Di hari yang mulia ini pula, kita bermunajat kepada Allāh Yang Maha Segalanya. Semoga Allāh berkenan memberikan kekuatan kepada kita agar tetap istiqāmah berada di jalan-Nya. Juga agar kiranya, Allāh memberikan pertolongan dalam menjalani kehidupan yang serba melenakan ini. Terakhir, kita berharap agar Allāh menjaga keikhlasan kita dalam berjuang. Ilāhanā, Anta Maqshūdunā wa Ridhāka Mathlūbunā
Sesaat sebelum Rasulullāh menghembuskan nafas terakhirnya, beliau masih sempat menyebut kata “ummatiy”, sebanyak 3 kali. Sungguh luar biasa kehidupan beliau. Seluruhnya didedikasikan untuk kepentingan orang banyak, umat manusia. Sesuai nasihat dosen saya di atas, Drs. Imam Mudjiono, M.Ag, marilah menjadi pejuang untuk kepentingan umat. So, siapkah kita menjadi “Sang Pejuang” itu? Wallāhu a’lamu bi ash-shawāb. []

Ka’ Sams,
Pengajar Sanggar GENIUS
Yatim Mandiri Yogyakarta




*Buletin Al-Lulu Edisi 19 Okt 2012
  Dapat di akses di sini

0 komentar:

Posting Komentar

apa komentar anda tentang bacaan ini?