Selasa, 17 September 2013

ABAHNYA DAN MAMANYA PADA MASYARAKAT BANJAR



Abahnya dan Mamanya pada Masyarakat Banjar

Oleh: Muhammad Qamaruddin

“Adapun giliran babacaan pada minggu ini, di rumahnya Haji Mardiana atawa Mamanya Dina. Kami ulangi sakali lagi...,”

Kalimat berbahasa Banjar di atas mempunyai arti, “Adapun giliran (tempat) pengajian pada minggu ini, (yaitu) di rumah Haji Mardiana atau Mamanya Dina. Kami ulangi sekali lagi...” Pada kalimat tersebut ada dua kata yang bergaris bawah, yaitu Mamanya Dina. Sebenarnya apa makna dari dua kata tersebut?

            Mamanya Dina dapat diartikan bahwa Dina itu adalah anak dari Haji (Hajjah) Mardiana. Dengan kata lain, Haji Mardiana itu adalah Ibu dari Dina. Pemakaian kata ini –di dalam bahasa sehari-hari di Banjar–  juga berlaku pada Abah (Ayah, Papa, dsb). Misalnya, abahnya Udin, abahnya Perdi, abahnya Tisun, dan yang lainnya. Penghubungan ikatan keluarga seperti contoh di atas juga dapat dipakai juga pada kata lain, misalnya Nenek (bahasa banjar: Nini), Bibi (bahasa Banjar: Acil), paman atau yang lainnya. Hanya saja aku rasa pemakaian istilah Mamanya dan Abahnya lebih sering dipakai.
            Inilah salah satu kekhasan dari bahasa banjar, yaitu pemakaian kata Mamanya dan Abahnya. Mungkin saja pemakaian kata seperti ini juga ada di daerah lain, hanya saja aku belum menelitinya. Tapi paling tidak, inilah bahasa Banjar apa adanya. Mudah dipakai dan dipahami. Ini bisa saja karena bahasa Banjar masih satu rumpun dengan bahasa Melayu, bahasa yang paling banyak menyumbangkan kosakata bagi bahasa Indonesia. Atau juga serumpun dengan bahasa Melayu yang masih banyak dipakai di negara Malaysia dan Brunei Darussalam (aku banyak menemukan beberapa kosakata bahasa Melayu yang penggunaannya sama dengan Bahasa Banjar). Oleh karena itulah, banyak para pendatang yang hanya dengan waktu singkat dapat menguasai bahasa Banjar (bahkan sangat lancar!). Rata-rata mereka hanya memerlukan waktu tidak lebih dari tiga bulan. Berbeda dengan bahasa Jawa yang kurasa mempunyai tata bahasa dan grammar sendiri. Sehingga perlu waktu lebih lama untuk mempelajarinya. Aku saja yang sudah hampir tiga tahun lebih tinggal di Yogyakarta pun masih belepotan bahasa Jawanya. Haha.
            Kembali ke masalah pemakaian kata abahnya dan mamanya tadi. Tahukah anda bahwa pemakaian kata tersebut kadang menyebabkan orang tidak mengetahui nama asli dari orang tersebut! Itulah fakta yang terjadi di Banjar. Memang tidak semua, tapi aku merasa kebanyakan seperti itulah yang terjadi di lapangan. Misalnya saja, aku banyak menghafal nama-nama orang tua di sini dengan sebutan abahnya dan mamanya. Aku tahu Mamanya Isti, Mamanya Hanan, Mamanya Ka Yadi, Mamanya Sinta, Mamanya Leha; atau Abahnya Riu, Abahnya Rina, Abahnya Heru, Abahnya Alma, dan masih banyak lagi. Saat aku ditanya, siapa nama mereka, sebagian malah aku tidak tahu. Aku tidak tahu nama mamanya Isti, mamanya Hanan, mamanya Sinta, abahnya Riu, abahnya Heru, dan mamanya/abahnya yang lain. Lucu bukan?
            Begitulah pergaulan di masyarakat Banjar. Bagiku, pemakaian kata abahnya dan mamanya itu membuat kami (baca:masyarakat Banjar) menjadi lebih dekat dan tidak segan untuk memanggil. Beda halnya ketika kita memanggil orang dengan nama yang diimbuhi dengan kata Paman, Amang, Kakak, Acil, dan yang lainnya, seakan timbul jarak yang sangat jauh. Ini hanya masalah adat istiadat dari masing-masing daerah, dan inilah adat di masyarakat Banjar.
            Saat aku merenungkan hal di atas, aku jadi ingat dengan Bahasa Arab yang mempunyai tiga panggilan (baca: nama) untuk seseorang. Ketiganya adalah Ism, kuniyah, dan laqab. contohnya, sahabat Nabi Umar bin Khatab, itu adalah ism-nya. Ia mempunyai ism kunniyah Abu Hafsh, sedangkan laqab-nya Al-Faruq. Coba kita hubungkan dengan Bahasa Banjar dengan pemakaian kata abahnya dan mamanya, ternyata sangat mirip! Pemakaian Abu Hafsah (ayah-nya Hafsah) sangat familiar di masyarakat Arab. Mungkin saja budaya inilah yang dibawa ke masyarakat Banjar. Sekedar info saja, masyarakat Banjar mayoritas beragama Islam. Budaya Islam pada suku ini sangat kental.
            Menyinggung masalah budaya, maka satu hal yang perlu kita cermati adalah semakin terkikisnya budaya asli oleh arus budaya modern. Budaya-budaya yang tidak jelas asal muasalnya mulai memasuki budaya setempat. Silahkan terima jika budaya itu baik dan membawa kebaikan. Tapi sayangnya kita tidak memilih dan memilah mana budaya baik dan mana budaya yang buruk. Asal terima saja. Hasilnya, budaya asli semakin terjajah oleh budaya orang asing yang arogan dan memonopoli.
            Aku adalah orang yang sangat mencintai budaya asliku. Aku tidak pernah malu mengaku sebagai orang Banjar. Aku sempat beberapa kali menemui orang yang bahkan malu mengakui bahwa ia adalah orang Banjar. Hei kawal! kenapa mesti malu? Budayamu adalah dirimu. Budayamu adalah warnamu. Budayamu adalah kehidupanmu. Lalu kenapa seolah-olah tidak tahu-menahu dengan semua itu? Jangan menjadi kacang yang lupa akan kulitnya. Ingat “tanah ibumu.” Banggalah menjadi putera daerah. Pesan ini juga kusampaikan untuk semua teman-temanku dimanapun kamu berada. Cintailah budaya daerahmu!
           
           
           

0 komentar:

Posting Komentar

apa komentar anda tentang bacaan ini?