Rabu, 18 September 2013

MANUSIA DAN TUGASNYA






 Oleh: Amir Hamzah

Artinya : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Qs. Al-Baqarah [02] :30)

Sejak dahulu para pakar telah mencoba meneliti perihal makhluk yang bernama manusia dengan berbagai teori yang bersumber dari logika. Para Filsuf mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang cenderung terus menerus mencipta (uncountable creator). Para ahli ilmu sosial mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang cenderung berkumpul (zoon politicon) sehingga merasa tersiksa kalau diasingkan dari pergaulan antar manusia. Sedangkan ahli jiwa mengatakan bahwa manusia itu adalah makhluk yang yang punya perasaan (felling), makhluk yang berpikir (thinking), dan berkeingingan (willing). Dan para ahli biologi mengatakan bahwa manusia itu tersusun dari unsur-unsur hayati.

Menurut Charles Darwin bahwa manusia itu berasal dari kera (1859) dengan kata lain menegaskan bahwa manusia itu masih satu rumpun dengan kera. Evolusi yang dialami oleh kera-kera itu sekian juta tahun mengubahnya menjadi manusia seperti sekarang ini, dengan segala kelengkapan indrawi. Teori Darwin sampai pada saat ini masih menjadi perdebatan dan sangat bertentangan dengan kitab al-Qur’an yang menjadi pedoman umat islam. Dalam al-Qur’an dijelaskan bagaimana manusia diciptakan oleh Allâh SWT.
Disebutkan dalam al-Qur’an bahwa manusia itu memiliki banyak nama yaitu : Insân, Ins, Nas, Unas, Basyar, Banî Adam, dan Zuriat Adam. Allâh menyatakan bahwa Dia menciptakan manusia dalam bentuk yang teramat sempurna. Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Proses Penciptaan Manusia
Allâh menciptakan manusia dari tanah, selanjutnya dari setetes sperma yang “hidup”dan bertemu dengan indung telur kemudian melakukan pembuahan di dalam perut seorang Ibu, sehingga jadilah manusia. Al-Qur’an menjelaskan penciptaan manusia dengan sejelas-jelasnya, “Kami jadikan dia sebagai mani dalam simpanan yang aman (rahim), lalu kami jadikan mani itu segumpal darah, dari segumpal darah itu kami jadikan daging, kemudian kami jadikan kerangka tulang dan akhirnya kami bungkus tulang itu dengan daging. (Qs. Al-mu’minun : 12-14). Proses penciptaan manusia dalam rahim diawali dengan perjanjian antara ruh dengan Allâh swt, yang berisi tentang persaksian bahwa Allâh adalah sebagai Rabb.
Seperti dalam Surat Al-Arâf [07] ayat 172 dijelaskan. “ Dan (ingatlah), ketika tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allâh mengambil persaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : “bukankah aku ini tuhanmu? “mereka menjawab : “betul (engkau tuhan kami), kami menjadi saksi.” (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat tidak mengatakan : “sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang yang lemah terhadap ini (keesaan tuhan).
Telah jelas bahwa al-Qur’an sendiri telah menjelaskannya. Akan tetapi bila terdapat beberapa hal yang belum diketahui oleh manusia, itu berarti ilmu yang dimiliki oleh manusia belum sampai dengan apa yang ada didalam al-Qur’an, karena sesungguhnya ilmu manusia tak akan mampu untuk memikirkan ciptaan Allâh swt.
Sebenarnya inilah yang harus kita akui, tidak semestinya menggugat al-Qur’an dan mengatakan apa-apa yang ada dalam al-Qur’an tidak rasional. Hati-hatilah dengan perkataan kita terhadap kalâmullâh karena ilmu kita belum sampai untuk memikirkan ciptaan-ciptaanya.
Sesungguhnya berbicara tentang manusia tanpa instrumen iman kepada Allâh, sama artinya membicarakan sesuatu yang rumit dan cenderung tanpa jawaban yang pasti. Manusia adalah makhluk yang memiliki “unsur ke-illâhian”, maka tidak mungkin mendalami manusia tanpa melibatkan sang penciptanya.

Tugas Berat
Allâh menciptakan manusia dengan beberapa tujuan, selain tujuan untuk beribadah dan menjadi khalîfah di muka bumi sekaligus untuk menjaga bumi agar selalu konsisten berputar  pada porosnya. Selain itu manusia juga diperintahkan utuk mencari kehidupan yang layak bagi hidupnya di alam semesta ini.
Tugas manusia sebagai khalîfah di muka bumi ini tak semudah membalikan tangan karena manusia yang Allâh karuniai dengan akal pikiran ini, memiliki karakter yang berbeda-beda. Selain itu, tugas manusia sendiri adalah menjaga alam agar tetap baik dan bukan pula sebaliknya. Alam bisa memberikan potensi yang baik bagi manusia bila saja manusia bisa mengolahnya dengan baik dan benar. Tentunya manfaat itu akan dirasakan oleh manusia itu sendiri.
Bukan menghancurkan dan memanfaatkannya untuk kepentingan sepihak tanpa memikirkan akibat yang akan diterima oleh manusia yang lain. Pemanasan global (global warming) ialah salah satu bentuk keserakahan manusia yang menguras manfaat alam ini tanpa memperdulikan akibat yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kerusakan di bumi pada abad ini adalah akibat dari kelalaian manusia terhadap tugasnya sebagai pengemban amanah.
Sebagai contoh adalah dalam penggunaan bahan bakar fosil (minyak bumi) yang berlebihan akan menghasilkan emisi gas buang, berupa karbon mono-oksida (co2) yang membuat lapisan ozon di kutub utara semakin menipis. Akibatnya suhu di belahan kutub utara naik sebesar 1-3 derajat celcius, es di kutub utara mencair menyebabkan naiknya permukaan air laut. Terjadi perubahan iklim yang ekstrim, perbedaan antara musim hujan dan musim panas menjadi tidak jelas, dan lain sebagainya.
Menurut para pemerhati lingkungan baik individu maupun institusi/kelembagaan, menyimpulkan bahwa hal ini terjadi akibat kerusakan dan perubahan ekosistem yang luar biasa akibat perlakuan tidak ramah terhadap sumber-sumber daya alam yang selama ini menjadi tumpuan pendapatan ekonomi. Penebangan hutan dan pemanenan hasil alam dilakukan dengan cara yang tidak sehat, bahkan melanggar norma sehingga terjadi kerusakan lingkungan.
Fakta terjadinya kerusakan alam saat ini tidak dapat dipungkiri, terutama di Indonesia, kerusakan yang terjadi akhir-akhir ini terjadi akibat dari kerusakan alam yang sangat berdampak terhadap kehidupan manusia. Di samping itu, setiap tahun bahwa negara kita menghasilkan jutaan ton sampah yang tak terkelola dengan baik, ditambah dengan adanya banjir. Ditambah lagi dengan udara di kota-kota besar telah tercemar akibat indusri dan buruknya sistem transportasi.
Bila kita telaah lebih lanjut, permasalahan yang kini dihadapi oleh umat manusia pada umumnya disebabkan oleh dua hal. Pertama, karena kejadian alam sebagai peristiwa yang harus terjadi sebagai sebuah proses dinamika alam. Kedua, sebagai akibat perbuatan manusia itu sendiri. Kedua bentuk kejadian di atas mengakibatkan ketidaksimbangan pada ekosistem dan ketidaknyamanan kehidupan makhluk hidup baik manusia, flora maupun fauna.
Jika dibandingkan dengan yang pertama, jelas kalah. Kerusakan yang terjadi di seluruh belahan dunia tak lain adalah akibat ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Kini sebagian penduduk dunia ini sudah menyadarinya dan mengusung jargon “Go Green”. Langkah ini dipandang mampu untuk mengurangi kerusakan alam yang telah terjadi. Namun, jumlah orang yang sadar terhadap lingkungan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan orang yang merusaknya.

Epilog
Manusia sebagai pengemban amanah, penjaga dan khalifah hendaknya memperhatikan apa-apa yang menjadi tanggung jawabnya di muka bumi ini. Tak selamanya menguras manfaat yang ada di dalam isi bumi ini, melainkan menjaganya agar terus berputar dengan semestinya, dan jangan sampai membuatnya “oleng”. Semua ini dikembalikan pada kita (manusia) sendiri karena manusialah yang diberikan kekuasaan untuk mengurusnya, apalagi sudah jelas-jelas mengetahuinya.
Kini tak hanya di Jakarta saja terjadi banjir, tetapi hampir di daerah lain pun ikut-ikutan kena banjir ketika musim hujan turun. Semua kejadian-kejadian alam ini, pastilah ada kaitannya dengan manusia. Dalam al-Qur’an Allâh berfirman : “ Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Qs. Ar-Rûm [30] : 41)
Dalam ayat lain Allâh menjelaskan bahwa manusia tidak merasa bahwa kerusakan itu dilakukan oleh tangan-tangan mereka sendiri dan mengatakan bahwa mereka itu melakukan perbaikan. “Artinya : dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi[24]". mereka menjawab: "Sesungguhnya Kami orang-orang yang Mengadakan perbaikan." Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (Qs. Al-Baqarah (02) : 11-12)
Agama harus dipahami dalam arti yang lebih luas dan dijadikan basis manusia dalam berperilaku terhadap lingkungannya, sehingga manusia tidak memperlakukan dunia ini seenaknya saja dan mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri, tanpa memikirkan nasib dunia ini.  "Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-A'râf [07]: 96). Jika manusia sadar betul akan semua tindak dan tanduknya sebagai khalîfah, tentu yang ia lakukan adalah menjaga dunia seutuhnya. Semua ini akan terwujud bila umat muslim berlandaskan dengan tuntunan yang di gariskan oleh Allâh dan Rasûlnya.

Amir Hamzah
Santri dan Mahasiswa UII

0 komentar:

Posting Komentar

apa komentar anda tentang bacaan ini?