Jumat, 06 April 2012

(MENGATUR) ANAK KECIL & ORANG DEWASA = SAMA SAJA!



                Ada hal yang menarik saya rasakan pada malam jumat kemarin (20/10/2011). Sekedar penganalogian kejadian dengan kejadian yang lain, tapi cukup mencengangkan. mirip tapi beda. Beda tapi mirip.
Setelah pembacaan yasin dan sharing rutin minggu di Pondok Pesantren UII berakhir, ketua OSPP (Organisasi Santri Pondok Pesantren) mengajak para staffnya berkumpul. Ada beberapa hal yang ingin dibahas terkait masalah program kerja.
Singkat cerita, rapat berjalan dengan semestinya. Masing-masing divisi telah menyampaikan proker-proker-nya, baik yang terlaksana, maupun yang belum terlaksana. Usul demi usul, kritik demi kritik, bahkan sampai ucapan pedas mengalir bak aliran sungai. Tak mengapa. Semuanya bersifat membangun dan kostruktif, demi terwujudnya visi dan misi OSPP.
Tiba saatnya – sesuai dengan kesepakatan kami di rapat sebelumnya – kami membahas tentang ‘disiplin pondok’. Dalam lintas sejarah pondok, pihak pondok telah lama ‘mendisiplinkan’ anak pondok. Tata tertib/disiplin pondok telah lama terbentuk. Lalu untuk apa OSPP membahas masalah ini lagi?
Inilah permasalahan sebenarnya yang terjadi di internal PP UII. Disiplin terlalu sulit digerakkan terhadap ‘mahasiswa unggulan’ penghuni PP UII saat ini. sekilas saya sempat membaca tata tertib terhadap anak pondok jauh sebelum saya masuk ke sini. Mengerikan! Ketat sekali. bahkan saya yakin, misalnya saja semua disiplin itu dijalankan, banyak anak pondok yang kena DO dari pondok ini. untungnya setelah beberapa pergantian pimpinan pondok, kami (penghuni PP UII) lebih ‘dimahasiswakan’. Maksudnya, sistem kesadaran lebih dikedepankan. Anehnya, cara ini sangat efektif. Inilah keunggulan yang sebenarnya, anak pondok tahu dan mengerti kapan kesadaran itu dipakai. Selanjutnya, tanpa memakai sanksi, disiplin tetap berjalan. Pertanyaannya, jikalau kami ingin menegakkan kembali disiplin, apa itu salah?
Percakapan alot terjadi. Permasalahan dimulai dengan pertanyaan seperti yang saya tanyakan sebelumnya, penegakan disiplin, perlu apa tidak? Ada yang pro, ada pula yang kontra. Alasan pun bermacam-macam. Tapi bagi yang menolak, saya dapat menyimpulkan, bagi mereka penegakan disiplin juga berakibat fatal bagi anak pondok. Semakin ketat disiplin yang ada, maka semakin rentan anak pondok akan dikeluarkan. Untuk saat ini saja, banyak yang sudah out, apalagi jika ditambah dengan penegakan disiplin tertulis. Di sisi lain, kegiatan dan aktivitas yang ada di pondok toh tetap berjalan dengan semestinya. Semua itu tanpa adanya sanksi dari disiplin. Oleh karena itulah, efektivitas penegakan disiplin dipertanyakan.
Bagi yang ingin menegakkan, sanksi atas pelanggaran disiplin menjadi peringatan sekaligus pengingat agar tidak ada lagi pelanggaran. Seandainya tidak ada pelanggaran, dan lebih lagi, jika memang tidak ingin melakukan pelanggaran, lalu kenapa harus takut dengan sanksi. Toh sanksi tidak akan didapat jika tidak melakukan pelanggaran.
Begitulah dilema yang terjadi. Saya jadi berpikir, hakikat yang terjadi adalah sebagian anak pondok takut apabila disiplin kembali ditegakkan. Saya jadi teringat ketika saya mengajar TPA. Kala itu saya bersama pengajar yang lain ingin memberikan disiplin agar proses belajar dan mengajar lebih terkendali. Tapi dasar anak-anak, karena keenakan dimanja, ya jadi sulit diberikan disiplin. maunya seperti ini, maunya seperti itu, ujung-ujungnya saya malah merasa bukan kami yang membuat disiplin, tapi mereka!
Lalu saya mencoba untuk menghubungkannya dengan kejadian di atas. sama saja! Anak kecil tidak mau, orang dewasa pun tidak mau. Memang illat (penyebab) yang ada berbeda, tapi intinya sama, tidak mau disiplin. saya kok jadi berpikir, sulitnya mengatur anak kecil dan orang dewasa sama saja. Yang kecil tidak mau karena sudah keenakan dimanja. Yang besar pun tidak mau karena sudah keenakan dengan keadaan sekarang, tanpa sanksi.
Menegakkan disiplin itu sulit. Mendisiplinkan diri sendiri pun masih menjadi masalah bagi saya, namun tidak berarti saya tidak mau berdisiplin. yang pastinya, semua perlu pengorbanan dan usaha. Menurut pribadi saya, selama disiplin sesuai dengan koridor, pasti akan membuat kita lebih baik. Sayangnya, orang dewasa takut dengan penegakan disiplin, layaknya anak kecil yang tidak mau diberikan disiplin. lalu apa bedanya mengatur orang dewasa dengan anak kecil?(Muhammad Qamaruddin)

0 komentar:

Posting Komentar

apa komentar anda tentang bacaan ini?